Beranda blog Halaman 4

Dinilai Tidak Relevan, DPRD Banyuwangi Minta Eksekutif Cabut SE Pembatasan Jam Operasional Ritel Modern

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Banyuwangi  –  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyuwangi minta eksekutif untuk mencabut Surat Edaran (SE) Nomor :  000.8.3/442/429.107/2026 tentang Penegasan Jam Operasional dan Kepatuhan Regulasi Toko Swalayan,Minimarket, Supermarket,Hypermarket,Departemen Store,Karaoke Keluarga,Kafe dan Billiard Center.
Hal ini disampaikan Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara usai menggelar rapat konsultasi bersama eksekutif terkait dinamika yang terjadi di masyarakat pasca terbitnya surat edaran tersebut.

Made Cahyana Negara menilai konsideran menimbang yang dijadikan dasar penerbitan SE itu tidak relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Aturan yang dijadikan dasar penerbitan SE tersebut adalah Peraturan Bupati (Perbup) No.14 tahun 2021 yang merupakan revisi kedua dari Perbup No. 33 tahun 2016 yang salah satu isinya mengatur jam operasional toko modern dengan konsideran menimbangnya antisipasi Covid-19.

“ Dalam Perbup No. 14 tahun 2021 jam operasional toko modern, minimarket mulai pukul 08:00 WIB sampai pukul 21:00 WIB dengan konsideran menimbangnya adalah antisipasi penyebaran Covid 19, sehingga terbitnya SE itu tidak relevan , “ tegas Made Cahyana saat dikonfirmasi media, Senin (6/04/2026).

Politisi PDI Perjuangan ini menyampaikan bahwa penerbitan SE seharusnya juga wajib memperhatikan kondisi sosiologis dan yuridis agar tidak menimbulkan dinamika sosial di masyarakat.

“ Melihat dinamika sosial yang berkembang di masyarakat, kita mengajak eksekutif bersama-sama untuk mengatur ulang hal ini dalam sebuah peraturan daerah sehingga DPRD bisa terlibat, mencermati dinamika, memasukkan dalam aturan yang dapat diterima masyarakat termasuk juga memproteksi toko kelontong maupun pasar tradisional , “ ucapnya.

Dari pantauan Kabar Rakyat, rapat konsultasi terkait terbitnya SE pembatasan operasional ritel modern di DPRD Banyuwangi berlangsung panas, enam fraksi maupun seluruh pimpinan Komisi satu persatu menyampaikan pendapat bahkan para wakil rakyat juga menerima keluhan warga di lapangan sehingga mendesak SE itu segera dicabut.

“ Kalau hanya ingin memaksimalkan penerimaan PAD, jangan membuat gaduh masyarakat maupun pengusaha dengan cara menerbitkan SE, ajak ngomong saja para pengusaha, saya yakin mereka bersedia asalkan ada regulasi yang mengatur , “ ucap Wakil Ketua DPRD, Michael Edy Hariyanto.

FB_IMG_1773966750014

Sementara Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Banyuwangi, MY. Bramuda siap menerima saran, masukan dan pendapat DPRD terkait dengan kontoversi terbitnya SE pembatasan jam operasional ritel modern.

“ Saran dan masukan DPRD ini merupakan bentuk pengawasan, Pemda tentu menyambut baik dan tentu akan kami evaluasi melalui rapat khusus di eksekutif , “ ucap Bramuda.

Pihaknya tidak bisa menentukan, kapan SE ini dicabut, eksekutif masih akan melakukan kajian mendalam seluruh lini dan aspek termasuk beberapa saran, masukan dan pendapat dari dewan.

“ intinya akan kita lakukan evaluasi internal , “ ucapnya.

Bramuda mengatakan bahwa surat edaran itu sebenarnya merupakan sebuah penegasan dan para pengusaha toko modern sudah memahami. Kegaduhan yang berkembang di masyarakat, menurutnya dipicu dengan sosialisasi yang tergesa-gesa karena bertepatan dengan momentum pekan patuh praja,

“ Kalau Bahasa orang ini sosialisasinya kesusu, tetapi di lapangan tidak ada yang represif dan di lapangan semua toko menjalankan dengan baik , “ pungkasnya.(mam)

images (15)

Desa Mandiro Wakili Bondowoso di Lomba Kampung KB Tingkat Provinsi

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Desa Mandiro, Kecamatan Tegalampel, bakal mewakili Kabupaten Bondowoso dalam ajang Lomba Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) tingkat provinsi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso, dr. M. Imron, melalui Kepala Bidang  KSPPKB Ani Farmadiani,S.ST,Bdn,M.M.

Ani menjelaskan bahwa Lomba Kampung KB merupakan ajang apresiasi sekaligus evaluasi tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kompetisi ini ditujukan bagi desa atau kelurahan yang berhasil mengintegrasikan program kependudukan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

“Lomba ini fokus pada inovasi pengurus Pokja, partisipasi masyarakat, serta dampak nyata terhadap penurunan angka stunting dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Tahapan penilaian meliputi seleksi berkas hingga verifikasi lapangan,” ujar Ani saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan, pihaknya telah melakukan monitoring pada Selasa (7/4/2026), sementara pengiriman data ke tingkat provinsi dijadwalkan pada 10 April 2026.

Menurut Ani, tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana), mencari solusi atas berbagai permasalahan keluarga, serta mendorong terwujudnya generasi emas.

Selain itu, lomba juga mendorong partisipasi aktif kelompok kegiatan, seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Lansia (BKL), Bina Keluarga Remaja (BKR), serta Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).

FB_IMG_1773966750014

Dari sisi penilaian, terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian, di antaranya kelembagaan yang mencakup keaktifan kelompok kerja (Pokja), keberadaan surat keputusan kepengurusan, serta perencanaan kegiatan.

“Selain itu, intervensi program seperti penurunan stunting, kesehatan lingkungan, pemberdayaan ekonomi melalui UMKM atau UPPKA, serta sektor pendidikan juga menjadi indikator penting,” jelasnya.

Tak hanya itu, inovasi dalam menyelesaikan permasalahan lokal, kelengkapan dokumentasi, serta pengelolaan data melalui website Kampung KB turut menjadi bagian dari penilaian.

Tahapan lomba sendiri meliputi seleksi berkas berupa pemeriksaan profil dan laporan kegiatan, dilanjutkan dengan verifikasi lapangan melalui kunjungan tim juri.

Selanjutnya, pengurus Pokja Kampung KB akan mengikuti sesi paparan atau wawancara.
Ani menegaskan, penunjukan Desa Mandiro didasarkan pada sejumlah kriteria, salah satunya merupakan Kampung KB yang dibentuk antara tahun 2016 hingga 2022 dan belum pernah meraih juara utama di tingkat provinsi.

“Untuk menjadi nominator, biasanya juga melibatkan dukungan dana desa, seperti untuk pelatihan UMKM, budidaya pangan, maupun perbaikan infrastruktur lingkungan di sekitar sekretariat Kampung KB,” pungkasnya.

Penulis (Adhex)

images (15)

Dinsos P3AKB Bondowoso Gas Pol Monitoring Data Siapkan Lomba Rumah DataKu

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso — Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso terus menggencarkan monitoring data kependudukan di seluruh wilayah. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan mengikuti lomba Rumah Data Kependudukan (RDK)

Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, dr. M. Imron, melalui Kabid KSPPKB Ani Farmadiani,S.ST,Bdn,M.M menjelaskan bahwa Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga (Rumah DataKu) memiliki peran strategis di tingkat desa atau kelurahan, khususnya di Kampung KB.

“Rumah DataKu merupakan pusat data sekaligus pusat intervensi berbagai permasalahan kependudukan di tingkat mikro,” ujar Ani usai melakukan monitoring di Balai KB Kecamatan Maesan, Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan, fungsi utama Rumah DataKu adalah mengelola data kependudukan secara valid dan mutakhir, meliputi aspek demografi, keluarga berencana, hingga pembangunan keluarga.

Data tersebut menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan, intervensi stunting, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Ani, monitoring dilakukan secara rutin dan bergantian di 23 kecamatan di Kabupaten Bondowoso. Hal ini bertujuan untuk memastikan kualitas data tetap terjaga.

“Setiap hari kami melakukan monitoring secara bergiliran agar data yang tersedia selalu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa fungsi utama Rumah DataKu, di antaranya sebagai pusat pengumpulan dan pembaruan data yang dilakukan oleh kader desa secara rutin, baik data primer, sekunder, maupun administrasi kependudukan.

Selain itu, Rumah DataKu juga berfungsi sebagai pusat analisis dan penyajian data. Data yang terkumpul diolah menjadi grafik, peta, atau tabel yang mudah dipahami oleh pemerintah desa dalam pengambilan keputusan.

“Data tersebut menjadi dasar penentuan sasaran program, seperti percepatan penurunan stunting melalui program DASHAT serta penanggulangan kemiskinan ekstrem,” tegas Ani.

FB_IMG_1773966750014

Rumah DataKu juga berperan sebagai media edukasi bagi masyarakat dalam meningkatkan pemahaman terkait wawasan kependudukan.

Dalam operasionalnya, Rumah DataKu dikelola oleh kelompok kerja (Pokja) di bawah Kampung KB dan dibina oleh Penyuluh KB.

Kader secara berkala melakukan pemutakhiran data yang kemudian dilaporkan melalui aplikasi New SIGA (Sistem Informasi Keluarga) milik BKKBN.

Adapun data yang dikelola meliputi data demografi seperti jumlah penduduk, struktur usia, dan jenis kelamin; data keluarga berencana seperti cakupan akseptor KB dan pasangan usia subur; serta data pembangunan keluarga, termasuk balita stunting, remaja, dan lansia.

Ani menegaskan bahwa keberadaan Rumah DataKu sangat penting dalam mendukung kebijakan berbasis data (evidence-based policy) di tingkat desa.

“Monitoring ini bukan semata-mata karena lomba, tetapi karena data merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan,” pungkasnya.

Untuk diketahui Bondowoso akan menyertakan dua kecamatan yaitu Kecamatan Maesan dan Kecamatan Wonosari.

Bondowoso tahun ini untuk Rumah Dataku mempersiapkan 2 kecamatan  Maesan dan Wonosari

Penulis : adhex

images (15)

Ketua DPRD Bondowoso Dorong Pendamping Desa Tingkatkan Pemahaman Masyarakat soal Anggaran

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Ketua DPRD Bondowoso menegaskan pentingnya peran Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Desa dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait struktur dan pengelolaan anggaran desa.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan konsolidasi bersama ratusan TPP di Pendopo Raden Bagus Asra, Rabu (8/4/2026).

Dhafir menekankan bahwa pendamping desa memiliki posisi strategis dalam memastikan transparansi dan pemahaman publik terhadap penggunaan anggaran.

Menurutnya, hal ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga memahami proses perencanaan dan realisasi anggaran desa.

Ia juga menyampaikan komitmennya sebagai wakil rakyat untuk terus berdiskusi dan bekerja sama demi kepentingan masyarakat.

“Kami memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap kebijakan dan program benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan dalam mengoptimalkan dukungan terhadap kinerja para pendamping desa.

FB_IMG_1773966750014

Meski demikian, pihaknya tidak akan menutup mata terhadap berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.

Ketua DPRD juga mendorong adanya solusi bersama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), khususnya dalam meningkatkan kualitas kerja pendamping desa agar tetap profesional dan tidak terjerumus dalam praktik yang melanggar aturan.

“Pendamping desa memiliki peran penting dalam menjaga tata kelola pemerintahan desa yang baik. Karena itu, perlu adanya penghargaan dan dukungan yang memadai,” katanya.

Ia menambahkan, DPRD akan terus memberikan dukungan kepada pihak eksekutif dalam pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang relevan, selama tetap sesuai dengan konstitusi dan peraturan yang berlaku.

Kegiatan konsolidasi ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara legislatif, eksekutif, dan para pendamping desa dalam mendorong pembangunan desa yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

“Banyak yang menyalahakan bupati dan saya di media sosial yang dianggap lamban ,semua itu ada aturanya dalam menyusun anggaran ,yang penting selamat dan sesuai dengan aturan ,bupati bukan tidak bekerja ,tetapi sudah melaksanakan kewajibannya sesuai aturan perudang undangan , ini tugas untuk para pendamping desa, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang anggaran ,”tegasnya.

Terakhir pihaknya berharap pendamping desa harus selalu memberikan masukan kepada kepala desa agar tidak terjerumus kepada hal yang melanggar aturan.

images (15)

Ketua DPRD Bondowoso Tegaskan Pokir Bukan Proyek DPRD

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso — Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, menegaskan bahwa pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD bukan merupakan proyek milik legislatif, melainkan bagian dari fungsi penyerapan aspirasi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan usai mengikuti rapat bersama Komisi Pemberantasan Korupsi pada 26 Agustus 2025. Ia kembali menegaskan hal itu di hadapan ratusan Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Desa di Pendopo Raden Bagus Asra, Rabu (8/4/2026).

Dhafir menjelaskan bahwa penggunaan pokir memiliki aturan ketat, salah satunya tidak boleh dialokasikan di luar daerah pemilihan (dapil) anggota DPRD yang bersangkutan.

“Pokir tidak boleh di luar dapil. Saya pernah mencalonkan diri di dapil berbeda, tetapi tetap tidak bisa. Pokir DPRD bukan proyek DPRD, melainkan bagian dari fungsi pengawasan untuk menampung, memfasilitasi, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat,” paparnya.

Menurutnya, pokir berasal dari kebutuhan dan keinginan masyarakat yang disampaikan kepada anggota DPRD.

Selanjutnya, aspirasi tersebut difasilitasi dan diserahkan kepada pihak eksekutif, dalam hal ini bupati, untuk disusun sesuai dengan visi-misi daerah serta Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Ia juga menegaskan bahwa pokir tidak dapat digunakan secara sembarangan, termasuk untuk pembiayaan yang berpotensi menimbulkan penghitungan ganda (double counting), seperti honorarium.

“Yang bisa dilakukan adalah menyampaikan dalam rapat Badan Anggaran, misalnya terkait anggaran pendamping atau biaya rapat. Namun tidak boleh berupa honor yang berpotensi terjadi double counting,” ungkapnya.

FB_IMG_1773966750014

Dhafir menambahkan, para pendamping desa sejatinya telah memahami kondisi anggaran daerah saat ini yang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Ia memaparkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bondowoso pada 2024 sebesar Rp2,454 triliun, kemudian turun menjadi Rp2,099 triliun pada 2025, dan direncanakan kembali menurun menjadi Rp1,860 triliun pada 2026.

“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi karena kepentingan nasional dan berbagai penyesuaian kebijakan. Penurunannya lebih dari Rp300 miliar,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa belanja wajib seperti gaji pegawai dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) tidak dapat dikurangi.

Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat terkait anggapan bahwa Tenaga Pendamping Profesional Desa akan mendapatkan alokasi pokir dari DPRD.

Dhafir memastikan bahwa pokir tetap berada pada koridor aturan dan tidak dapat dibagikan sebagai bentuk proyek atau bantuan langsung kepada pihak tertentu.

 

images (15)

Wabup Bondowoso: Keterbatasan Anggaran Bukan Penghalang ,Dorong Kreativitas Desa

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso — Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, menyampaikan bahwa kondisi pemerintahan saat ini diibaratkan seperti kendaraan dengan bahan bakar yang sangat terbatas.

Hal tersebut disampaikan saat kegiatan konsolidasi bersama Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Desa di Pendopo Bagus Asra, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, keterbatasan anggaran saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dalam pengelolaan anggaran dan mendorong kreativitas desa

“Sangat terbatas sekali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ibarat kendaraan, kita harus memilih mode ekonomi, bukan mode power yang boros,” ujarnya berseloroh.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen menjalankan visi dan misi yang telah ditetapkan. Penggunaan anggaran, kata dia, harus dilakukan secara efektif dan tepat sasaran.

“Kita harus benar-benar mengelola anggaran, bukan hanya menyalurkan, tetapi memastikan tepat sasaran,” jelasnya.

FB_IMG_1773966750014

Sebagai contoh, ia menyoroti peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diharapkan dapat berkembang dan menjadi solusi dalam kondisi keterbatasan anggaran.

Ia optimistis desa dapat semakin mandiri, meskipun target kemandirian mengalami penyesuaian dari 77 persen menjadi 47 persen.

Wabup juga menilai bahwa kondisi keterbatasan justru dapat memicu lahirnya ide-ide kreatif dalam pembangunan desa.

“Dalam kondisi yang kepepet biasanya muncul ide-ide kreatif. Kita harus bisa memaksimalkan potensi yang ada,” katanya.

Ia berharap seluruh pihak, khususnya para pendamping desa, terus siap berdiskusi dan mencari solusi bersama demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

 

images (15)

Dorong Digitalisasi Pariwisata, Disparbudpora Bondowoso Imbau Wisatawan Gunakan Pembayaran Non Tunai

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

 

Bondowoso – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mendukung digitalisasi sektor pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, mengimbau seluruh wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Kabupaten Bondowoso untuk menggunakan metode pembayaran non tunai (cashless) dalam setiap transaksi.

Imbauan tersebut mencakup pembayaran tiket masuk maupun retribusi parkir di kawasan wisata. Menurut Gede, metode pembayaran non tunai dapat dilakukan melalui berbagai fasilitas yang telah disediakan.

“Yang dapat digunakan antara lain melalui mesin EDC Bank Jatim menggunakan kartu debit atau kartu kredit, serta melalui QRIS Bank Jatim menggunakan aplikasi mobile banking maupun dompet digital (e-wallet) yang telah mendukung QRIS,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

FB_IMG_1773966750014

Gede menjelaskan, penerapan sistem pembayaran non tunai memiliki sejumlah manfaat, di antaranya mempercepat proses transaksi karena wisatawan tidak perlu menyiapkan uang tunai atau menunggu kembalian.

Selain itu, sistem ini dinilai lebih aman karena dapat mengurangi risiko kehilangan uang tunai maupun potensi tindak kejahatan selama berwisata. Tidak hanya itu, penggunaan pembayaran digital juga membantu mengurangi antrean di loket, sehingga kepadatan pengunjung dapat diminimalisir.
“Proses pembayaran yang cepat tentu akan membantu mengurangi antrean di lokasi transaksi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gede menegaskan bahwa penerapan sistem ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan pariwisata modern yang berbasis digital, sekaligus meningkatkan tata kelola destinasi agar lebih tertib, transparan, dan profesional.

“Hal ini juga sejalan dengan arahan dan masukan Bupati Bondowoso dalam mewujudkan Bondowoso Berkah,” pungkasnya.

images (15)

Dispendik Bondowoso Pantau Pelaksanaan TKA, Kehadiran Capai 99,8 Persen

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Bondowoso melakukan monitoring langsung pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada hari pertama, Senin (6/4/2026). Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan dan kelancaran pelaksanaan ujian di sejumlah sekolah tingkat SMP.

Kepala Dispendik Bondowoso, Taufan Restuanto, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring bertujuan meninjau kesiapan sekolah, sarana dan prasarana, serta kelancaran teknis pelaksanaan. Selain itu, pihaknya juga memastikan integritas pelaksanaan TKA, termasuk memantau gladi bersih sebelum ujian utama digelar.

“TKA ini merupakan program yang pertama kali dilaksanakan secara nasional untuk tingkat SMP. Pelaksanaannya dijadwalkan dalam empat gelombang, namun di Bondowoso cukup dilaksanakan dalam dua gelombang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gelombang pertama dilaksanakan pada 6–7 April, sementara gelombang kedua dijadwalkan pada 8–9 April 2026. Penentuan jumlah gelombang disesuaikan dengan jumlah peserta serta ketersediaan sarana dan perangkat di masing-masing daerah.

“Tergantung jumlah murid dan kemampuan peralatan yang dimiliki. Untuk Bondowoso, dua gelombang sudah mencukupi,” jelasnya.

TKA tahun ini menguji dua mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika, sesuai arahan dari Kementerian Pendidikan. Dispendik juga melakukan monitoring ke beberapa sekolah, di antaranya SMP Negeri 1 Bondowoso, SMP Taman Krocok, dan SMP Negeri 7 Bondowoso.
Berdasarkan data sementara, tingkat kehadiran peserta pada gelombang pertama mencapai 99,8 persen. Dari total 5.143 peserta, hanya satu siswa yang tidak hadir karena sakit dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

FB_IMG_1773966750014

“Peserta yang berhalangan hadir akan mengikuti ujian susulan. Termasuk kendala teknis yang sempat terjadi di salah satu sekolah, akan difasilitasi melalui jadwal susulan,” tambahnya.

Meski bersifat opsional, Taufan menyebut seluruh siswa di Bondowoso tetap mengikuti TKA. Hal ini karena hasil TKA akan menjadi salah satu pertimbangan dalam proses penerimaan murid baru.

Dari sisi anggaran, pelaksanaan TKA tidak menggunakan dana khusus. Seluruh kebutuhan didukung oleh potensi yang ada di sekolah, termasuk penggunaan peralatan serta pembiayaan listrik melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Taufan berharap pelaksanaan TKA ke depan dapat dipersiapkan lebih optimal, terutama dalam menjaga kondisi kesehatan peserta.

“Kami berharap ke depan persiapan lebih matang, khususnya kesehatan anak-anak. Tidak perlu tegang, jalani dengan santai dan rileks,” pungkasnya.

Untuk diketahui pemantauan hanya dilakukan dari luar Kedung kegiatan.

images (15)

Dorong Penguatan Karakter dan Budaya Siswa, Dispendik Bondowoso Gelar ‘Pekan Pendidikan Berkah 2026’

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Guna mendorong penguatan karakter dan budaya siswa ,Dinas Pendidikan (Dispendik) Bondowoso menggelar Pekan Pendidikan Berkah Tahun 2026.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, mengatakan bahwa, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan langkah nyata untuk mengembalikan pendidikan pada nilai-nilai autentik yang membentuk karakter, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya dan bangsa.

Dikatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh upaya mengembalikan esensi pendidikan yang sesungguhnya.

“Kami ingin pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, budaya, dan nilai-nilai keimanan,” ungkapnya,Selasa 7/04/2026.

Beragam lomba digelar untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Menurutnya masing-masing sebanyak 13 cabang. Di tingkat SD, siswa mengikuti berbagai kompetisi seperti murid teladan, cerdas cermat, olimpiade Matematika, IPA, dan IPS. Selain itu, terdapat kegiatan kreatif seperti mendongeng, pildacil, membaca puisi, menyanyi solo, serta gambar ekspresi.
Permainan tradisional seperti gobak sodor juga turut dilombakan, disertai cabang olahraga seperti bola voli mini, atletik, bulutangkis, dan senam Anak Indonesia Hebat yang menambah semarak kegiatan.

“Ini sengaja kita laksanakan serempak,agar semua siswa punya kesempatan mengikuti,tidak hanya bertumpu pada beberapa siswa ,yang biasanya satu siswa mengikuti beberapa lomba,sekarang tidak karena pelaksanaanya serempak di 8 lokasi,”paparnya.

Sementara itu, pada tingkat SMP, kompetisi dirancang lebih variatif dan menantang. Kegiatan tersebut meliputi lomba penulisan cerpen yang direncanakan akan dibukukan, lomba vlog, poster digital, komik, hingga olimpiade Bahasa Inggris dan Matematika. Selain itu, terdapat lomba ilustrasi kebangsaan yang bertujuan memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila.

FB_IMG_1773966750014

“Kami ingin anak-anak kembali hafal dan menghayati Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Taufan.

Nuansa budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Tari remo khas Bondowoso akan ditampilkan secara kolosal oleh 1.000 pelajar pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.

Tarian tersebut menjadi simbol ekspresi perjuangan hidup sekaligus identitas budaya daerah yang terus dilestarikan.
Di balik kemeriahan kegiatan, tersimpan semangat kolaborasi dari berbagai pihak.

Taufan menyampaikan apresiasi kepada pihak KDS yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan di tengah keterbatasan anggaran dinas.

“Kami hanya memiliki anggaran untuk trofi dan uang pembinaan. Dukungan fasilitas dari KDS sangat berarti bagi terselenggaranya kegiatan ini,” tuturnya.

Melalui Pekan Pendidikan Berkah 2026, Kabupaten Bondowoso tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa pendidikan mampu melahirkan generasi yang tangguh, unggul, berdaya saing global, serta berakar kuat pada budaya dan nilai keimanan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I dan II Setda Bondowoso,3 staf Ahli Bupati Bondowoso.

images (15)

Adi Kriesna: Demi Negara, Kader Golkar Siap Mengawali Gajinya Dipotong

tapalkuda1-removebg-preview.png (1)

Bondowoso – Ketua DPD Partai Golkar Bondowoso, Adi Kriesna, menyatakan dukungannya terhadap langkah Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M Sarmuji, yang menyatakan kesiapan kadernya untuk dipotong gajinya apabila negara membutuhkan.

Hal ini menunjukan respon positif
karena Golkar mengawali menentukan langkah jika Negara membutuhkan.

Kriesna menuturkan, pernyataan tersebut merupakan respons atas wacana efisiensi anggaran yang tengah dikaji Presiden Prabowo Subianto menyusul dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian global.

“Jika negara membutuhkan, kami siap mendukung langkah Sekjen Golkar untuk dipotong gaji,” ujar Kriesna, Senin (6/4/2026).

Ia menegaskan, pemotongan gaji bukan sekadar langkah penghematan, melainkan bentuk kepekaan terhadap dinamika global yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional.

“Ini bukan sekadar soal penghematan, tetapi bentuk kesediaan kita untuk peka terhadap kondisi,” tegasnya.

Menurut Kriesna, langkah yang disampaikan Sekjen Golkar mencerminkan rasa tanggung jawab terhadap kondisi keuangan negara.

Wacana tersebut juga mendapat dukungan dari kader Golkar lainnya, termasuk Ali Mufthi.
Ia menyebut, kader Golkar di daerah juga siap mengikuti kebijakan tersebut.

“Kami di Bondowoso juga setuju. Anggota DPRD Fraksi Golkar sangat siap jika gajinya dipotong. Saya rasa pejabat eksekutif pun juga harus siap,” katanya.

FB_IMG_1773966750014

Selain itu, politisi muda tersebut menilai perlunya evaluasi dan reorientasi program-program pemerintah agar lebih efektif, tepat sasaran, serta terhindar dari pemborosan anggaran.

“Program harus dievaluasi agar tidak terjadi idle cost dan inefisiensi,” ujarnya.

Kriesna menambahkan, kebijakan pemotongan gaji dan refocusing anggaran nantinya dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai persoalan daerah, salah satunya pembangunan infrastruktur di Bondowoso.

“Kalau di Bondowoso, tentu untuk pembangunan infrastruktur,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi Golkar, Zulfikar Arse Sadikin, juga mendorong agar evaluasi tidak hanya menyasar gaji pejabat, tetapi juga program-program pemerintah.

Wacana efisiensi ini mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji sejumlah langkah penghematan sebagai antisipasi dampak konflik di Timur Tengah.

Dalam sidang kabinet, Presiden mencontohkan kebijakan efisiensi yang diterapkan Pakistan, di mana pemerintahnya melakukan pemotongan gaji pejabat negara, mulai dari anggota kabinet hingga parlemen. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk membantu kelompok masyarakat rentan.

Selain pemotongan gaji, Pakistan juga menerapkan berbagai langkah efisiensi lain, seperti pengurangan jatah bahan bakar kementerian, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, hingga penghentian sementara sejumlah belanja negara, termasuk pembelian pendingin ruangan, kendaraan, dan perabot kantor.

Langkah efisiensi lainnya mencakup pengurangan kunjungan kerja, pembatasan anggaran kegiatan seremonial, hingga penerapan pembelajaran daring di perguruan tinggi.
Meski demikian, kebijakan tersebut masih menjadi referensi yang dipelajari pemerintah Indonesia sebelum menetapkan langkah konkret terkait efisiensi anggaran di dalam negeri.(Adhex)

images (15)
error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih