tapalkudamedia.com – Kebudayaan masyarakat pesisir pantai utara Jawa Timur memiliki karakteristik kebudayaan yang khas di masing-masing wilayah. Minimal ada tiga sub kultur yang dapat ditelusuri di wilayah ini yaitu sub kultur Jawa pesisir, kultur Madura, dan sub kultur Pedalungan sebagai hasil akulturasi etnis Madura yang.
Budaya daerah, tradisi dan gaya hidup yang berbeda di setiap daerah merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Budaya daerah ini antara lain, kesenian, pakaian adat, upacara adat, gaya hidup, dan kepercayaan.
Pedulungan merujuk pada kelompok sub etnik yang mendiami kawasan Jawa Timur bagian timur tengah Pulau Jawa, yang dikenal dengan istilah daerah tapal Kuda.
Masyarakat penghuni tapal kuda mayoritas adalah etnis Madura. Meski ada minoritas etnis Jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkan karakter budaya di wilayah ini lebih bernuansa Madura daripada etnis lain. Orang-orang tapal kuda juga sangat identik dengan Islam tradisional yang merujuk pada pengkut organisasi Nahdatul Ulama (NU).
Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa keislaman yang kental. Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat diwilayah ini, kendatipun mistisme juga ditemukan utamanya di Banyuwangi. Kendatipun berada di pulau Jawa, namun mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah masyarakat Madura atau berbahasa Madura. Tapi anehnya mereka banyak yang enggan disebut Madura dan lebih suka disebut sebagai orang pendhalungan atau campuran, dikarenakan nenek moyang yang merupakan pembauran antara etnis Jawa dan Madura, atau orang Jawa yang dimadurakan
Di Pasuruan, ada cerita rakyat yang populer dengan sebutan ”Sakera”, pembangkang kompeni di ladang tebu Pasuruan yang kemana-mana membawa Clurit. Banyak pula beredar cerita-cerita tentang pahlawan rakyat : Pangeran Situbondo yang patungnya bisa ditemui di Alas Malang, Panarukan (sekarang Situbondo) dan Pangeran Tawang Alun di Jember.(red)