FeaturedLensa Nusantara

Unjuk Rasa TOPI BANGSA : Apakah Mau Jember Dikatakan Kota Wahabi ?

Screenshot_2024-06-16-16-20-23-29_c37d74246d9c81aa0bb824b57eaf7062

JEMBER Ratusan orang dari Tolak Penjajahan Ideologi Bangsa (Topi Bangsa) berunjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (3/8/2018). Mereka menolak paham Islam Wahabi di Jember.
“Apakah mau Jember dikatakan kota Wahabi?” teriak salah satu orator.
“Tidak,” sahut massa.
“Apakah mau Jember dikatakan kota santri?” teriak orator itu lagi.
“Iya,” sahut massa.
Para demonstran keberatan dengan pembangunan dan aktivitas Sekolah Tinggi Dakwah Islam Imam Syafi’i di kawasan Gladak Pakem dan lembaga pendidikan di bawah yayasan itu. Mereka menilai STDI menyebarkan paham yang bertentangan dengan ahlus sunnah wal jamaah kaum Nahdliyyin dan tidak sesuai dengan Pancasila.
Demonstran menyatakan, warga setempat yang merayakan Maulud Nabi disalahkan. “Mereka mengkafirkan orang yang merayakan maulid,” kata Kustiono Musri, salah satu orator. Tudingan ini tertuang dalam artikel buletin STDI yang berjudul ‘Apakah Kita Merayakan Maulud Nabi’.
Massa menuntut agar Pemerintah Kabupaten Jember membekukan seluruh kegiatan STDI dan Ma’had As-Salafi di Gladak Pakem dalam tempo paling lama 7 kali 24 jam. “Seharusnya pemerintah menolak sejaj awal,” kata Kustiono.

Sebelumnya di media sosial beredar klarifikasi dari Ali Musri Semjan Putra, perintis dan pendiri STDI Imam Syafi’I Jember. “Sejak kami merintis STDI  pada tahun 2007 sampai pada saat sekarang ini, kampus kami tidak punya permasalahan apa pun dengan masyarakat sekitar. Kami selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar kampus, kami melakukan berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat dengan kegiatan yang bervariatif,” katanya.
STDI juga menghormati perbedaan khilafiyah di tengah masyarakat, termasuk ojika ada masyarakat yang meninggal, keluarga besar STDI datang ikut bertakziah dan memberikan sumbangan sesuai kemampuan.
Semua tuduhan tidak ada bukti termasuk buletin yang dituduh memancing terjadinya permasalahan. Buletin tersebut terbit sekitar tahun 2012, isinya tidak seperti yang disimpulkan secara baper. Buletin edisi 05 Tahun ke-3 isi nukilan dari Ibnu Katsir tentang secara perayaan maulid, tidak ada tuduhan terhadap pelaku maulid dengan zindiq. Buletin edisi 33 tahun ke-3 menjelaskan hal yang membatalkan amal.
Sementara itu Didiet Aktifis yang juga ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan ,” Guru kami adalah pendekar dan pejuang melawan penjajah Belanda, Jepang serta agresi militer Belanda pertama, kedua dan yang ketiga… Perjuangan beliau merebut kemerdekaan Indonesia penuh dengan pengorbanan, pun tidak jarang mereka harus ditawan oleh penjajah,” ungkapnya
Lanjutnya ,Negara kesatuan republik Indonesia dan Pancasila adalah harga mati yang wajib dipertahankan oleh segenap insan dan tumpah darah Indonesia. Mbah Kyai As’ad, Mbah Kyai Mahfudz Siddiq, Mbah Kyai Abdul Halim Shiddiq dst adalah pejuang yang tanpa kenal takut. Lah kok ujug ujug ada yang mau merubah arah Perjuangan dengan tanpa memperhatikan kearifan lokal,” tandasnya.

IMG-20240429-WA0000

Related posts

Terik Matahari Tak Surutkan Masyarakat Ikut Kerja TMMD

Polres Bondowoso Amankan 10 Tersangka Tindak Kejahatan

Satbinmas Polres Situbondo Gelar Forum Silaturahmi Kamtibmas

error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih