Beranda Uncategorized ILO Akan Perkuat program BRK Reborn, Terutama Digitalisasi Komoditas Kopi Hingga Pasar...

ILO Akan Perkuat program BRK Reborn, Terutama Digitalisasi Komoditas Kopi Hingga Pasar Eropa

1784696982808

BONDOWOSO – International Labour Organization (ILO) menyiapkan penguatan sektor kopi di Kabupaten Bondowoso melalui Project PROMISE IMPACT Fase 3. Program tersebut akan mendorong digitalisasi ekosistem kopi, memperluas akses pembiayaan bagi petani dan UMKM, sekaligus membuka peluang produk kopi Bondowoso menembus pasar Eropa dan Swiss.

National Project Coordinator Project PROMISE IMPACT Fase 2, Thomas Sugiono, mengatakan Bondowoso menjadi salah satu daerah yang ditetapkan sebagai target area pada fase ketiga program ILO tersebut ,saat berkunjung ke Bupati Bondowoso di ruang Paringgitan ,Rabu,29/09/2026.

Menurut Thomas, dukungan ILO akan diarahkan untuk memperkuat program BRK Reborn, terutama pada aspek digitalisasi ekosistem komoditas kopi.

“Di fase ketiga ini, kita akan masuk ke penguatan sektor kopi. Salah satu daerah yang menjadi target area adalah Bondowoso,” ujar Thomas.

Data Petani Akan Masuk Platform Digital
Salah satu langkah yang disiapkan ILO adalah membangun platform digital berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) untuk merekam berbagai aktivitas dalam ekosistem kopi.

Baca juga berita terkait :

ILO Siapkan Project Fase 3 Komoditas Kopi di Bondowoso, OJK Perkuat Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Final ILO Dukung Bondowoso dalam Project Fase 3 Tahun. 2026, OJK Jember Akan Banyak Libatkan Ekosistem Kopi

Ketua DPRD Bondowoso Sambut Positif Usulan OJK Final , Kopi Bondowoso Berpeluang Mendunia Lewat Ekosistem ILO

ILO Bidik Bondowoso sebagai Kandidat Pilot Project Pemberdayaan Buruh dan Petani Kopi

Gayung Bersambut! ILO Final, Putra Bupati Bondowoso Akan Bawa 40 Delegasi Kamerun Bidik Jejaring Kopi Global

Platform tersebut nantinya dapat memuat data petani, aktivitas produksi hingga transaksi pertanian. Menurut Thomas, digitalisasi menjadi penting karena tuntutan pasar ekspor, khususnya Eropa, semakin mengedepankan aspek traceability atau ketelusuran produk.

“Dengan adanya digital platform itu, bisa ditelusuri sampai ke level petani,” katanya.
Tak hanya mencatat data, sistem tersebut juga dirancang untuk memetakan lokasi lahan melalui geotagging dan poligonisasi. Data spasial itu diharapkan dapat membantu memastikan lokasi budidaya tidak berasal dari kawasan yang mengalami deforestasi.

Hal tersebut berkaitan dengan penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang menjadi salah satu ketentuan penting bagi komoditas tertentu yang masuk ke pasar Uni Eropa.

Digitalisasi Permudah Petani Mengakses Pembiayaan

Thomas menjelaskan, salah satu fokus utama Project PROMISE IMPACT adalah meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM.

Selama ini, keterbatasan data mengenai produksi dan pendapatan petani dapat menjadi salah satu tantangan ketika pelaku usaha mengajukan pembiayaan kepada lembaga keuangan.

Melalui sistem digital, data produksi, pendapatan, hingga aktivitas usaha petani dapat terdokumentasi secara lebih terstruktur.

Dengan demikian, bank akan lebih mudah memperoleh informasi ketika melakukan proses analisis kredit.

1785517338444

Namun, Thomas menegaskan bahwa ILO tidak menyediakan dana pembiayaan secara langsung.

“ILO tidak menyediakan dana untuk pembiayaan. ILO hanya membuka fasilitasi, artinya memberikan akses,” jelasnya.

Dalam prosesnya, ILO bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator dan pengawas sektor jasa keuangan. Pengajuan pembiayaan tetap menjadi kewenangan bank dan harus melalui analisis sesuai standar operasional prosedur (SOP), kebijakan perkreditan bank, serta ketentuan OJK yang berlaku.

Artinya, rekomendasi atau data dari ekosistem petani tidak otomatis membuat pengajuan pembiayaan disetujui.

“Tidak serta-merta yang direkomendasikan langsung disetujui. Tentunya harus mengikuti POJK yang berlaku untuk pemberian kredit dan juga kebijakan perkreditan dari bank tersebut,” kata Thomas.

Kopi Bondowoso Dibidik Masuk Pasar Eropa

Selain pembiayaan, ILO juga melihat peluang pengembangan pasar ekspor kopi Bondowoso.

Project PROMISE IMPACT sendiri didanai Pemerintah Swiss. Dalam pengembangan akses pasar, ILO memiliki jaringan dengan Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), yang berperan mempromosikan produk Indonesia ke pasar Eropa dan Swiss.

Thomas mengatakan, SIPPO nantinya akan dilibatkan untuk membantu mempromosikan kopi Bondowoso kepada calon pasar di kawasan tersebut.

“Teman-teman dari SIPPO juga akan ikut membantu mempromosikan kopi dari Bondowoso untuk bisa menembus pasar Eropa dan pasar Swiss,” ujarnya.

Thomas mengaku telah beberapa kali mencicipi kopi Ijen-Raung yang dikenal sebagai specialty coffee. Ia menilai kualitas kopi Bondowoso memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar internasional, meski tetap harus melewati proses kurasi dan memenuhi standar pasar tujuan.

“Kalau saya pribadi optimis dengan kualitasnya. Namun, tentunya ada standar patokan yang mereka tetapkan. Mereka perlu melakukan kurasi lebih dulu apakah kopi di Bondowoso bisa memenuhi kriteria mereka,” katanya.

Sejumlah sertifikasi juga dapat menjadi persyaratan sesuai karakteristik pasar. Thomas menyebut antara lain 4C (Common Code for the Coffee Community), Fair for Life, dan sertifikasi organik.

Kebutuhan sertifikasi, kata dia, tidak selalu sama untuk setiap pasar. Ada pasar yang mensyaratkan satu sertifikasi, sementara pasar lainnya dapat meminta lebih dari satu.

Bukan Sekadar Ekspor, Standar Kerja Petani Juga Jadi Perhatian
Pengembangan ekosistem kopi oleh ILO tidak hanya berorientasi pada produksi dan pasar. Aspek ketenagakerjaan juga menjadi bagian penting dari program tersebut.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang ketenagakerjaan internasional, ILO mendorong mitra-mitranya menerapkan labor standards, termasuk aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
ILO juga memastikan ekosistem yang mendapat dukungan program tidak melibatkan pekerja anak.

“Terutama masalah K3, kesehatan dan keselamatan kerja. Kami juga ingin memastikan ekosistem yang di-support oleh ILO tidak ada pekerja anak karena ILO adalah anti-child labor,” tutur Thomas.

Dengan demikian, Project PROMISE IMPACT Fase 3 di Bondowoso tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi kopi. Digitalisasi diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem yang lebih tertata—mulai dari data petani, produksi, ketelusuran lahan, akses pembiayaan hingga peluang pasar ekspor.

Fase kedua Project PROMISE IMPACT sendiri dijadwalkan berakhir pada akhir Oktober 2026, sebelum penguatan sektor kopi di Bondowoso dilanjutkan melalui fase ketiga.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521