page contents
tapalkudapost.com
Ekonomi & Teknologi Featured Lensa Nusantara Life Style

Melirik Bisnis Hiasan Lampu Paralon Pemuda Ampelan

Bondowoso – Biasanya, orang menggunakan pipa paralon atau yang kerap dikenal dengan pipa PVC (polyvinyl chloride) untuk membuat sistem pengairan di bangunan atau bawah tanah. Namun, tidak bagi Pemuda Desa Ampelan,Bondowoso,Jawa Timur.

Ketua DPC Posoera Misbahul Munir mampu menyulap pipa-pipa paralon itu menjadi perabot ruangan. Misalnya, dibentuk menjadi lampu hias yang cantik. Sudah sejak beberapa bulan lalu,mereka menggeluti kerajinan tangan itu.

“Fungsi utamanya memang sebagai lampu hias. Tapi bisa juga sebagai pajangan atau dekorasi ruangan kalau tidak menggunakan lampu,”

Kader GMNI ini menyulap pipa PVC menjadi berbagai macam ukiran rupa dan warna lampu hias. Mulai dari gambar wajah, burung flora fauna,kaligrafi, dan beberapa gambar lain.

Waktu pengerjaannya, mulai dari 2 hingga 3 hari. Tergantung dari tingkat kesulitan. Jika pipanya  diolah hingga tidak menyerupai pipa, pengerjaannya memakan waktu hingga seminggu.

“Upaya merangkul pemuda untuk kreatif dan mampu menghasilkan rupiah,ada juga  lampu meja bergaya klasik.Yang banyak dipesan adalah kaligrafi,”ungkap munir ,Sabtu 7/9/2019.

Tentunya, semua gambar dan ukirannya itu bukan atas imajinasinya sendiri. Melainkan dari pesanan para pelanggan. Termasuk, ukuran pipa yang akan menjadi bahan utama.

“Soal desain, gambar, dan warna, yang pasti pelanggan yang menentukan. Kami hanya menyerahkan perkiraan hasil jadinya sebelum pengerjaan dimulai,” katanya.

Kecuali, soal bahan baku selain pipa dan teknik pengerjaannya. Sebagai pengerajin, Munir perlu menentukan beberapa hal. Yakni, bahan cat, pemasangan kabel dan dudukan lampu, hingga teknik mengukir pipanya.

Munir menjelaskan, dia menggunakan beragam teknik saat mengerjakan ukiran gambar pada pipa. Tekniknya, disesuaikan dengan gambar yang dipesan pelanggan.

Demikian juga dengan pewarnaan. Munir menggunakan cat acrylic jika pelanggan ingin pipa paralon lebih terang saat lampu di dalamnya menyala. Menurutnya, cat acrylic tidak terlalu pekat dan kental.

Sehingga, mampu meneruskan cahaya yang berpendar dari dalam pipa. Berbeda jika menggunakan cat minyak. Warna cat minyak lebih pekat. Cairan catnya juga relatif lebih kental.

Karenanya, saat disinari dari dalam, cahaya yang berpendar tidak menembus dinding pipa. “Kalau cat minyak, resikonya lebih mudah pudar ketimbang cat acrylic,” katanya.

Soal harga, Munir mengaku tidak terlalu mematok. Meski, dirinya tetap mempertimbangkan soal bahan baku dan tingkat kesulitan pengerjaan. Mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Dengan kisaran harga itu, Munir mampu meraup omzet, setidaknya Rp hampir dua juta per bulan di awal usahanya bersama pemuda desa Ampelan.

Namun, Munir mengaku tidak terlalu mementingkan soal harga. Dia hanya ingin produknya dikenal masyarakat banyak. Meski, sebenarnya Munir sudah banyak mendapat pesanan lampu hias. Mulai pesanan dari kalangan mahasiswa, hotel, luar kota

“ Yang penting produk saya dikenal masyarakat. Nah, kalau sudah terkenal, rejeki pasti datang sendiri,harapan kedepan kita bisa dapat perhatian pemerintah daerah dalam pembinaan pemuda kreatif ,”pungkasnya.

Ia mengaku belum mempunyai gerai pemasaran dilakukan melalui medsos.

IklanPost

Related posts

Teknologi Nuklir Untuk Pertanian Dikenalkan di Lumajang

Tapalkudapost

Bupati : Menjalin Silaturahmi Sangat Dibutuhkan Untuk Membagun Bondowoso

Tapalkudapost

Harimas : Penguatan Kelembagaan Sangat Dibutuhkan Untuk Melestarikan Budaya

Tapalkudapost