Beranda Kesehatan Dari 10 Besar Menuju 4 Terbaik, Dinkes Bondowoso Seleksi Ketat Pesantren Sehat...

Dari 10 Besar Menuju 4 Terbaik, Dinkes Bondowoso Seleksi Ketat Pesantren Sehat Berbasis Aksi, Bukan Sekadar Seremoni

1784696982808

BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Penilaian pesantren sehat di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak sekadar mengukur kebersihan lingkungan atau menata kawasan pondok agar terlihat rapi saat penilaian.

Lebih dari itu, program ini menguji sejauh mana kesehatan, sanitasi, dan perilaku hidup bersih benar-benar menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari para santri.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bondowoso, dr. Moch. Jasin, M.Kes., FISQua, menyampaikan bahwa penilaian pesantren sehat dilakukan melalui evaluasi penerapan Trias Pesantren Sehat, yang meliputi pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat, serta pemenuhan 15 indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Sekarang masih 10 besar. Nanti kita pilih empat besar,” demikian disampaikan dalam penjelasan mengenai tahapan penilaian pesantren sehat di Bondowoso,Rabu 14/10/2026.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk mendorong pesantren tidak berhenti pada pemenuhan indikator administratif, tetapi mampu membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan, melibatkan pengasuh, pengurus, kader kesehatan, dan seluruh santri.

Bukan Hanya Kebersihan, tetapi Perubahan Perilaku

Trias Pesantren Sehat menempatkan pendidikan kesehatan sebagai fondasi untuk meningkatkan pengetahuan santri mengenai gizi, kebersihan diri, kesehatan reproduksi, dan kesehatan jiwa.

Pada aspek pelayanan kesehatan, keberadaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), layanan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), pemeriksaan kesehatan, serta kemitraan dengan Puskesmas menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kesehatan warga pesantren.

Sementara itu, kata Kadinkes pembinaan lingkungan sehat mencakup pengawasan kualitas air, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan asrama, kamar mandi, jamban, hingga tempat wudu.

Penilaian juga memperhatikan 15 indikator PHBS, mulai dari kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, penggunaan air bersih, konsumsi makanan bergizi, kebersihan fasilitas sanitasi, aktivitas fisik, pemberantasan sarang nyamuk, hingga penerapan kawasan tanpa rokok.

Aspek lain yang tidak kalah penting ialah pemantauan berat dan tinggi badan, pencegahan penyakit kulit seperti skabies, pemeliharaan kesehatan reproduksi remaja, kesehatan jiwa, serta pengelolaan sampah secara benar.

Menurutnya ,dengan indikator tersebut, pesantren sehat dituntut menghadirkan perubahan nyata, bukan sekadar lingkungan yang tampak bersih ketika tim penilai datang.

Dikatakan ,salah satu contoh penerapan program tersebut terdapat di Yayasan Raudlatul Falah, Ramban Wetan, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso.

Pesantren ini mengembangkan inovasi RAHAYU, singkatan dari Raudlatul Falah Memayu Hayuning Bawana, dengan tujuan mewujudkan pesantren yang sehat, bersih, asri, dan berkah.

Inovasi ini berangkat dari persoalan mendasar yang kerap dijumpai di lingkungan pesantren, seperti belum meratanya kesadaran menjaga kebersihan, pengelolaan sampah organik dan anorganik yang belum optimal, serta kebersihan kamar yang masih perlu ditingkatkan.

Alih-alih hanya mengandalkan petugas kebersihan atau instruksi pengurus, RAHAYU menempatkan santri sebagai pelaku utama perubahan.

Santri didorong mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, melakukan aksi, mengevaluasi hasil, dan mengembangkan inovasi secara berkelanjutan.

Lebih -lebih ,pendekatan ini menjadi penting karena budaya hidup sehat tidak akan terbentuk hanya melalui imbauan. Perubahan membutuhkan keterlibatan langsung, pembiasaan, dan tanggung jawab bersama.

Sampah Diolah, Lingkungan Lebih Bernilai
Salah satu implementasi nyata RAHAYU ialah pengelolaan sampah dengan prinsip bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang.

1791899701721

“Sampah organik dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos. Sementara itu, sampah anorganik, termasuk botol plastik bekas, dikumpulkan dan dimanfaatkan menjadi ecobrick sesuai kebutuhan program,”jelasnya.

Perubahan juga terlihat dari penyediaan tempat sampah dan wadah pengumpulan botol bekas. Jika sebelumnya sampah dibuang atau dibakar dan fasilitas penampungan masih terbatas, kini pesantren mulai membangun sistem pengelolaan yang lebih tertata.

Ditegaskan bahwa ,dampaknya tidak hanya menyangkut kebersihan lingkungan. Para santri juga memperoleh pengalaman langsung tentang pentingnya kepedulian, kerja sama, kreativitas, kemandirian, dan tanggung jawab.

Namun, pengelolaan sampah tetap memerlukan pemilahan yang benar, pengawasan rutin, serta evaluasi agar pemanfaatan limbah tidak justru menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan baru.

Dari Kompos Menuju Ketahanan Pangan
RAHAYU juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan pesantren.
Sampah organik yang telah diolah direncanakan menjadi pupuk bagi tanaman cabai, tomat, dan terong. Selain itu, terdapat rencana pembuatan kolam lele dengan memanfaatkan aliran sungai, yang pelaksanaannya perlu memperhatikan kelayakan lokasi, kualitas air, dan ketentuan lingkungan.

Jika dikembangkan secara konsisten, langkah tersebut berpotensi menghubungkan pendidikan kesehatan, pengelolaan lingkungan, dan kemandirian pangan dalam satu gerakan terpadu.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan melalui teori, tetapi juga memberikan ruang bagi santri untuk mempraktikkannya.

Santri Husada dan Pencegahan Penyakit
Pelaksanaan pesantren sehat di Raudlatul Falah turut melibatkan Puskesmas Cermee dan Dinas Kesehatan melalui berbagai kegiatan pembinaan dan pelayanan kesehatan.

Kegiatan tersebut meliputi pembinaan PHBS, pemeriksaan kesehatan dan rujukan, skrining tuberkulosis (TBC), skrining kesehatan jiwa, pemantauan konsumsi tablet tambah darah (TTD), serta cek kesehatan gratis.

Di tingkat pesantren, pembentukan kader Santri Husada menjadi salah satu strategi untuk memperkuat partisipasi warga pondok. Kader diharapkan membantu menggerakkan perilaku hidup bersih, mengenali persoalan kesehatan, dan mendukung upaya pencegahan penyakit.

Program konsumsi TTD bersama setiap Kamis juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mencegah anemia. Gerakan ini disebut telah berjalan sejak 2019 di sekolah dan pondok pesantren.

“Langkah tersebut penting karena pencegahan anemia tidak cukup melalui pembagian tablet. Edukasi, pendampingan, pemantauan konsumsi, dan pemahaman mengenai manfaat TTD harus berjalan beriringan.
SIGAP PESAT, Kunci Kolaborasi Lintas Sektor,”paparnya.

Karena menurutnya ,persoalan kesehatan pesantren tidak dapat diselesaikan oleh Dinas Kesehatan semata. Sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan perorangan, pencegahan penyakit, dan pembinaan lingkungan membutuhkan koordinasi lintas sektor.

“Untuk itu, dikembangkan pendekatan SIGAP PESAT (Sinergi Gerak Antar Perangkat Daerah) yang melibatkan Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, Bapperida, Dinas Perumahan dan Cipta Karya, Dinas Lingkungan Hidup, Bagian Kesejahteraan Rakyat, Dinas Sosial, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Fatayat NU,”katanya.

Sinergi tersebut kata Kadinkes ,diarahkan untuk menyelaraskan pembinaan, memperkuat aksi nyata, dan menyinkronkan kegiatan pada 2027.
Dari sisi kebijakan, pelaksanaan pesantren sehat didukung Peraturan Daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 4 Tahun 2024 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren, keputusan pembentukan tim pembina pesantren sehat, serta kebijakan pendampingan melalui program SAJAH (Santri Jatim Sehat dan Berkah).

Selain itu ditingkat lokal, kerja sama Puskesmas Cermee dengan Pondok Pesantren Raudlatul Falah dan Fatayat NU Kecamatan Cermee menjadi bagian dari upaya memperluas pembinaan kesehatan.
Empat Terbaik Harus Dibuktikan dengan Dampak

Seleksi dari 10 besar menuju empat terbaik menjadi momentum untuk melihat sejauh mana program pesantren sehat benar-benar berjalan di lapangan.

Penilaian tidak semestinya hanya berorientasi pada kelengkapan dokumen, keberadaan tempat sampah, atau tampilan lingkungan yang tertata. Konsistensi perilaku, keberlanjutan pengelolaan sampah, akses pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan keterlibatan aktif santri juga menjadi aspek penting untuk diperhatikan.

“Pada akhirnya, pesantren sehat bukanlah program yang selesai ketika penilaian berakhir. Keberhasilannya justru terlihat setelah kegiatan penilaian usai: apakah kamar tetap bersih, sampah terkelola, santri terbiasa mencuci tangan, kesehatan terpantau, dan seluruh warga pesantren terus menjaga lingkungan,”terangnya

Dari Raudlatul Falah, inovasi RAHAYU membawa pesan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab bersama.
Sebab, santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjaga dirinya sendiri, tetapi juga menjaga sesama dan alam. Menjaga kebaikan hari ini merupakan investasi bagi kehidupan generasi mendatang.

ilustrasi-stop-pungli