BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bondowoso, Dr. Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah, A.P., S.Ag., M.M.Pub., M.Si., mendorong perempuan agar semakin mandiri secara ekonomi, berdaya dalam keluarga, serta berperan aktif membangun masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terprovokasi maupun terjebak informasi bohong atau hoaks.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan pengajian rutin MAHABUDIMAN
( Manaqib, Ratibul Hadad, Burdah, Diba, hataman dan nariyahan)di Pendopo Raden Bagus Asra, Bondowoso, Selasa (13/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan rencana pengembangan kegiatan keagamaan perempuan melalui program Pesona Mahabudiman, yang direncanakan menjangkau kecamatan-kecamatan di Kabupaten Bondowoso.
Perempuan yang merupakan istri Bupati Bondowoso, KH. Abdul Hamid Wahid, itu menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga membutuhkan penguatan spiritualitas, pendidikan, kesehatan, dan kualitas keluarga.
Menurutnya ,perempuan memiliki multiperan, baik sebagai ibu, istri, anak, maupun anggota masyarakat. Seluruh peran tersebut perlu dijalankan secara seimbang, termasuk dalam membangun kemandirian ekonomi dan menanamkan nilai-nilai kebaikan di lingkungan keluarga.
“Sebagai perempuan, mari bersama-sama menjadi bagian dari pembentuk keluarga yang berkualitas melalui iman, Islam, dan ihsan,” pesannya.
Literasi Digital Jadi Benteng Melawan Hoaks
Di tengah derasnya arus informasi digital, Khodijatul, yang akrab disapa Ning I’a mengajak masyarakat membangun budaya literasi di lingkungan masing-masing.
Dikatakan, literasi tidak cukup hanya dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, serta menyaring informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ia menyoroti pentingnya literasi media, teknologi, digital, hingga finansial agar masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menjaga ketenteraman sosial. Masyarakat diharapkan tidak ikut menyebarkan hoaks maupun meneruskan informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan.
Ning I’a juga mengajak seluruh elemen masyarakat bersinergi mendukung program pembangunan, terutama di bidang agama, kesehatan, dan pendidikan. Ia menekankan pentingnya menuntut ilmu melalui majelis-majelis keagamaan sekaligus meningkatkan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Posyandu Tak Lagi Sekadar Melayani Ibu dan Anak
Selain menyoroti peran perempuan, Ning I’a menjelaskan bahwa fungsi Posyandu kini diarahkan pada pelayanan masyarakat yang lebih luas dan terintegrasi.
Ditegaskan bahwa , Posyandu tidak lagi terbatas pada pelayanan kesehatan ibu hamil dan anak, tetapi menjadi bagian dari pelayanan sepanjang siklus kehidupan masyarakat.
Pelayanan tersebut mencakup enam bidang standar pelayanan minimal (SPM), yakni kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan bidang sosial.
Melalui pendekatan tersebut, Posyandu diharapkan menjadi ruang pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari pendataan, identifikasi masalah, penyuluhan, hingga komunikasi, informasi, dan edukasi.
Bagi balita, pelayanan meliputi pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, dan konsultasi gizi. Anak-anak serta remaja diharapkan memperoleh edukasi kesehatan, sementara masyarakat usia produktif didorong meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan.
Adapun kelompok lanjut usia diharapkan mendapatkan pelayanan yang mendukung kualitas hidup mereka.
Transformasi ini, menurutnya, membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, jajaran kecamatan dan desa, kader Posyandu, hingga masyarakat.
PESHONA MAHABUDIMAN
Pengajian, Sholawat dan Anjangsana Direncanakan Menjangkau Kecamatan
Dalam kesempatan yang sama, perempuan yang juga istri Bupati Bondowoso , KH.Abdul Hamid Wahid ini menyampaikan bahwa kegiatan Mahabudiman telah memasuki pelaksanaan kesembilan. Pengajian tersebut menjadi bagian dari kegiatan rutin untuk memperkuat kehidupan spiritual masyarakat Bondowoso.
Ke depan, kegiatan keagamaan bagi perempuan direncanakan semakin beragam. Selain pengajian rutin, akan disiapkan kegiatan pengajian selawat dan anjangsana yang dijadwalkan setiap tiga bulan sekali melalui program Pesona Mahabudiman.
Melalui program tersebut, kegiatan tidak hanya dipusatkan di pendopo, tetapi direncanakan berlangsung secara bergilir di kecamatan-kecamatan di seluruh Kabupaten Bondowoso.
Pihaknya berharap perluasan kegiatan itu dapat mendekatkan pembinaan spiritual kepada masyarakat sekaligus mempererat silaturahmi antarkelompok perempuan di tingkat kecamatan.
Ia juga mengaitkan penguatan spiritual dengan pentingnya kepedulian sosial, menegakkan nilai-nilai kebaikan, serta mencegah perilaku yang merugikan masyarakat.
Disampaikan bahwa , nilai agama semestinya tidak berhenti pada kegiatan ibadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, kepedulian terhadap sesama, dan kontribusi nyata dalam pembangunan.
Perempuan Berdaya, Keluarga Berkualitas
Kemandirian ekonomi dan penguatan multiperan perempuan menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut. Khodijatul berharap perempuan mampu mengembangkan potensi diri tanpa mengabaikan perannya dalam membangun keluarga yang sehat, berpendidikan, dan bermartabat.
Ditegaskan pula bahwa kualitas keluarga merupakan salah satu fondasi penting bagi pembangunan masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup pemenuhan gizi, kesehatan fisik, pendidikan, kondisi ekonomi, serta pembentukan moral dan nilai keagamaan.
Melalui Mahabudiman dan rencana pengembangan Pesona Mahabudiman, ia berharap tumbuh kesadaran bersama bahwa pembangunan Bondowoso membutuhkan keseimbangan antara penguatan spiritual, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi perempuan, dan kepedulian sosial.
“Semoga Bondowoso semakin aman dengan iman kita,” harapnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri ustazah Ning Umi Laila dari Surabaya.











