BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Pendakwah milenial asal Surabaya, Jawa Timur, Ummi Lailatul Rahmah Hadi atau yang akrab disapa Ning Umi Laila, mengajak jamaah pengajian Mahabudiman memperkuat rasa syukur dan menjaga konsistensi dalam beribadah. Pesan tersebut disampaikan saat mengisi pengajian di Pendopo Bagus Asra, Bondowoso, Selasa (13/10/2026).
Dalam tausiyahnya, Ning Umi Laila menegaskan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, maupun banyaknya harta. Menurut dia, rasa syukur menjadi kunci penting agar seseorang mampu menikmati kehidupan dengan hati yang lapang.
“Tidak ada manusia yang paling bahagia kecuali dirinya yang pandai bersyukur. Mau sekaya apa pun, mau setinggi apa pun jabatannya, tetapi kalau di hati tidak ada rasa syukur, tidak akan menemukan kebahagiaan,” tuturnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengajak para peserta untuk mengucapkan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas kesempatan berkumpul dalam keadaan sehat. Baginya, pertemuan dalam majelis ilmu merupakan kesempatan untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Effort dalam Kebaikan, Istiqamah dalam Ibadah
Dengan gaya ceramah yang santai dan diselingi humor, Ning Umi Laila juga menjelaskan makna effort atau upaya yang dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu. Ia mencontohkan, kehadiran jamaah di lokasi pengajian pun membutuhkan usaha, mulai dari meluangkan waktu hingga mempersiapkan diri.
Ia berharap setiap ikhtiar yang dilakukan untuk menghadiri majelis tersebut menjadi bagian dari amal kebaikan.
“Semoga yang kita gunakan pada siang hari ini menjadi saksi di akhirat bahwa kita melakukan kebaikan,” ujarnya.
Selain mengajak jamaah memperbanyak selawat, Ning Umi Laila menekankan pentingnya istiqamah dalam menjalankan ajaran agama. Menurut dia, konsistensi menjadi tantangan tersendiri karena sesuatu yang mudah diucapkan belum tentu mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan kewajiban salat lima waktu. Meski jumlahnya telah ditetapkan lima kali sehari, dalam praktiknya masih ada orang yang meninggalkan ibadah tersebut karena terlambat bangun, sibuk bekerja, sedang dalam perjalanan, kelelahan, atau tertidur.
“Pengajian, berangkat pengajian itu gampang, yang susah istiqamah. Salat itu gampang, yang susah tidak meninggalkan salat,” ungkapnya.
Ning Umi Laila menjelaskan bahwa kebiasaan baik yang dijaga secara berkelanjutan merupakan bentuk latihan spiritual atau riyadah. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk tidak hanya bersemangat dalam beribadah pada waktu tertentu, tetapi juga mempertahankannya secara konsisten.
Menurutnya, ketekunan dalam menjalankan amalan menjadi bagian penting dari ikhtiar seorang muslim dalam memohon pertolongan dan keberkahan Allah SWT.
Menyoroti Ketangguhan Perempuan
Dalam kesempatan yang sama, putri sulung almarhum KH. Edy Rahmatullah atau Kyai Granat dan Nyai Hj. Sulastri tersebut turut menyinggung peran perempuan, terutama mereka yang bekerja jauh dari keluarga.
Ia menceritakan pengalamannya mengisi pengajian bagi para pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Dari pengalamannya itu, ia melihat besarnya peran perempuan dalam menopang kehidupan keluarga, baik sebagai ibu maupun istri.
Ning Umi Laila mengungkapkan bahwa mayoritas jamaah dalam sejumlah pengajian yang diikutinya di Hong Kong merupakan perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Kondisi tersebut membuatnya semakin menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul kaum perempuan.
Ia juga menyinggung perempuan yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Menurutnya, kontribusi mereka perlu dipahami secara tepat dalam perspektif tanggung jawab keluarga dan ajaran Islam.
Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa kewajiban mencari nafkah berada pada laki-laki, tetapi perempuan yang turut bekerja juga menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan perannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketangguhan perempuan tidak hanya terlihat dari kemampuannya bekerja, tetapi juga dari tanggung jawab yang dijalankan dalam keluarga dan kehidupan sosial.
Melalui tausiyahnya di Bondowoso, Ning Umi Laila mengajak jamaah menjadikan rasa syukur sebagai landasan menjalani kehidupan, istiqamah sebagai pegangan beribadah, serta kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.











