page contents
25 Oktober 2020
tapalkudapost.com
Featured Pariwisata & Budaya Pendidikan

Telisik Sinung Sudrajad Selalu Gunakan Blangkon Bondowoso

Bondowoso,Udeng berfungsi sebagai penutup kepala bagi pria, lalu berkembang menjadi tradisi. Penutup kepala ini dulu juga menunjukkan atribut sosial seseorang, dilihat dari bahan, warna, bentuk pakai,dan status sosial si pemakai.

Jenis udeng biasa menggunakan kain batik berlatar belakang hitam dengan warna batik putih atau warna putih dan coklat. Sedangkan jenis iket yang umum menggunakan kain berbatik motif kembang, berlatar belakang merah dengan motif kembang berwarna merah tua. Dalam perkembangan saat ini, banyak menggunakan kain batik lembaran (textil) dengan pilihan warna beragam.

Sinung Sudrajad dalam keseharianya selalu mengunakan udeng bahkan saat acara resmi seperti sidang paripurna, Politikus PDIP yang juga menjadi wakil ketua DPRD Bondowoso ini selalu mengunakan udeng sebagai ciri khas penampilannya sebagai seorang budayawan.

Saat ditelisik  lebih jauh , Sinung menyampaikan bahwa tujuan pengunaan udeng tersebut untukmuntuk karakter sebuah daerah memang di Bondowoso ada beberapa versi udeng atau blangkon.

“Bisa dilihat dibeberapa bukti situs sejarah rata-rata seperti yang saya pakai ini, bisa dilihat di foto-foto Bondowoso tempo dulu, bukti sejarah  pemerintahan masa lalu seperti yang saya pakai ini,” ungkapnya, Kamis 8/10/2020.

Dikatakan ,mula-mula orang memakai iket. Dibentuk dari lembar kain berbentuk segi empat. Lalu dilipat membentuk segitiga. Kemudian berkembang menjadi bentuk lebih praktis, seperti topi tinggal pakai, yang dikenal dengan nama udeng yang bentuknya seperti blangkon.

Iket yang dikencangkan di kepala bagian belakang  bermakna agar si pemakai memiliki fikiran yang kukuh, fokus, matang, dan tidak tidak terombang-ambing oleh keadaan apa pun.

Sedangkan Udeng diambil dari kata mudheng yang berarti memahami dengan jelas arti kehidupan. Maknanya, agar seseorang memiliki kecakapan dalam hidup karena telah mengerti dan menguasai dasar keilmuannya.

Ikalan Didalam

“Pakaian khas Jawa Timur hampir sama rata-rata tertutup diatas, hanya mungkin perbedaan ujungnya, ini bisa dikatakan udeng meski berbentuk belangkon, namun karena memakainya diikat ya disebut udeng, atau blangkon Bondowoso karena pembuatanya  dasarnya adalah belangkon kita  komitmen untuk Geopark  Bondowoso,” harapnya.

Kenapa Blangkon, tarikan sederhananya karena  pengaruh dari Wirodipuro Besuki yg mengasuh Ki Ronggo sejak kecil sampai Dewasa

‘Karena memang belum ada kajian sejarah yang serius terkait penutup kepala khas Bondowoso,Namun bukti foto foto Bondowoso tempo dulu sebagai dasarnya,” imbuhnya.

Untuk diketahui sejarah pengunaan udeng dari empat sudut kain melambangkan kesatuan dari 4 unsur; niat, ucapan, sikap, dan gerak tubuh. Sementara sudut segitiga sebagai simbol trinetra atau tritunggal. Bila dicermati, sudut segitiga juga tampak pada persilangan kain yang ada di kening sebelah kanan dan di dahi di atas hidung. Trinetra itu mewartakan makna bahwa manusia dalam menjalankan kehidupannya wajib untuk selalu menjaga keharmonisan hidup antara sesama manusia, alam lingkungan, dan Tuhan.

Kemudian di bagian belakang udeng, ada 2 ujung kain yang menjulang ke atas. Dua untaian itu melambangkan iman yang melandasi hidup, yakni iman kepada Allah dan rasul utusan-Nya.

IklanPost

Related posts

Diduga Dibunuh,Jurnalis Mingguan ini Ditemukan Bersimbah Darah

Tapalkudapost

2 Rumah di Kecamatan Sumbermalang, Situbondo Ludes Dilalap si Jago Merah

Tapalkudapost

Darungan, Kampung Misterius di Songgon yang Kini Ditinggal Para Penghuninya

Tapalkudapost