Bondowoso – Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid bersama istrinya, Hj Khodijatul Qodriyah, tampil mengenakan busana adat Bengkulu merah maron saat menghadiri upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Alun-alun RBA Ki Ronggo, Bondowoso, Senin (4/5/2026).
Kehadiran keduanya dengan balutan pakaian adat tersebut menarik perhatian peserta upacara. Bupati menyampaikan bahwa penggunaan busana adat merupakan bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya di Indonesia.
“Penggunaan baju adat ini merupakan bagian dari upaya kita menghargai dan menghormati budaya-budaya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski kita berada di daerah, penting untuk mengenal dan melestarikan budaya lain sebagai bagian dari kekayaan nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya daerah, termasuk kearifan lokal, perlu terus diperkuat agar tetap menjadi identitas bangsa di tengah perkembangan zaman.
Busana adat Bengkulu yang dikenakan dikenal kental dengan nuansa Melayu. Pakaian tersebut umumnya menggunakan bahan beludru dengan hiasan sulaman benang emas. Untuk perempuan, busana ini dikenal dengan sebutan Baju Betabur, sedangkan untuk laki-laki disebut Jas Tutup.
Warna yang dominan pada pakaian adat ini, seperti merah tua, biru tua, atau hitam, melambangkan kemantapan hati dan keanggunan. Busana tersebut lazim digunakan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, upacara resmi, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Pada busana wanita, Baju Betabur dipadukan dengan kain songket berbahan benang emas atau perak. Aksesori yang digunakan antara lain penutup dada (teratai), kalung bersusun, gelang emas, serta hiasan kepala berupa sunting.
Sementara itu, busana pria berupa Jas Tutup berkerah tinggi yang dipadukan dengan celana panjang senada. Pelengkapnya meliputi kain songket yang dililitkan di pinggang, alas kaki, serta keris sebagai simbol kehormatan.
Ciri khas lainnya adalah penggunaan kain Besurek, yakni batik khas Bengkulu yang memiliki motif kaligrafi Arab atau flora, seperti bunga Rafflesia. Secara filosofis, penggunaan songket dan aksesori emas melambangkan kemewahan, kehormatan, serta status sosial.
Melalui momentum Hardiknas, Bupati berharap nilai-nilai budaya dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Budaya adalah identitas bangsa. Karena itu, harus kita jaga, lestarikan, dan kenalkan kepada generasi penerus,” pungkasnya.











