Bondowoso – Pameran Seni Rupa “Simulakra” yang digelar dalam rangkaian Road to Festival Muharam 2026 di GOR Pelita Bondowoso tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya seni para seniman.
Lebih dari itu, pameran yang berlangsung sejak 6 hingga 18 Juni 2026 tersebut menghadirkan kisah inspiratif tentang semangat bangkit dan pemulihan kesehatan jiwa.
Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah Noera Cahyo, atau yang akrab disapa Yoyok, warga Bondowoso yang pernah mengalami gangguan kejiwaan.
Setelah menjalani proses rehabilitasi dan mendapatkan pendampingan yang tepat, Yoyok kini mampu berkarya secara mandiri dan menampilkan hasil lukisannya dalam pameran seni tersebut.
Keikutsertaan Yoyok dalam pameran menjadi bukti bahwa mantan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkarya, dan berprestasi apabila memperoleh penanganan medis serta dukungan sosial yang memadai.
Di tengah deretan karya yang dipamerkan, beberapa lukisan Yoyok tampak menarik perhatian pengunjung. Dengan penuh percaya diri, ia menceritakan proses kreatif di balik salah satu karyanya yang mengangkat tema laut.
“Saya menyelesaikan lukisan ini dua hari,” ujar Yoyok saat ditemui di lokasi pameran, Minggu (8/6/2026).
Menurutnya, inspirasi lukisan tersebut muncul dari pengalaman pribadinya yang sering menghabiskan waktu di kawasan pantai dan laut.
“Ini temanya laut, karena saya sering ke laut, jadi yang saya ingat itu yang saya lukis,” katanya.
Meski terlihat sederhana, karya-karya yang dihasilkan Yoyok menunjukkan kemampuan artistik yang terus berkembang.
Ia bahkan dikenal sebagai salah satu pelukis yang cukup produktif setelah berhasil melewati masa-masa sulit akibat gangguan kejiwaan yang pernah dialaminya.
Kehadiran Yoyok dalam Pameran Seni Rupa “Simulakra” menjadi pesan kuat bahwa pemulihan kesehatan jiwa bukanlah akhir dari harapan seseorang.
Dengan terapi yang berkelanjutan, dukungan keluarga, lingkungan yang menerima, serta ruang untuk mengekspresikan diri, mantan ODGJ dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan produktif.
Pameran ini sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk menghapus stigma terhadap penyintas gangguan jiwa.
Mereka bukan individu yang harus dijauhi, melainkan warga yang memiliki potensi, kreativitas, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun budaya.
Melalui karya-karyanya yang terpajang di ruang pamer, Yoyok tidak hanya memperlihatkan kemampuan melukis, tetapi juga menghadirkan kisah tentang perjuangan, ketekunan, dan harapan.
Setiap goresan warna pada kanvas menjadi simbol bahwa proses pemulihan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pameran Seni Rupa “Simulakra” pun menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa seni memiliki peran penting sebagai media ekspresi, terapi, sekaligus sarana pemberdayaan.
Dari Bondowoso, kisah Yoyok menjadi inspirasi bahwa keterbatasan dan masa lalu yang kelam bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan meraih prestasi.














