Bondowoso — Pemerintah Kabupaten Bondowoso menggelar High Level Meeting Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2D) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) sebagai langkah strategis memperkuat arah pembangunan ekonomi daerah.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Sabha Binapraja Pemkab setempat ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta merumuskan langkah konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa pertemuan strategis tersebut sangat penting dalam menghadapi dinamika perekonomian daerah. Menurutnya, sinergi lintas sektor diperlukan agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seimbang dengan pengendalian inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi perekonomian Kabupaten Bondowoso menunjukkan tren yang cukup positif. Pada tahun 2024, jumlah penduduk Bondowoso tercatat sebanyak 788.007 jiwa dengan tingkat kepadatan 505 jiwa per kilometer persegi. Angka ketergantungan berada pada level 47,01 persen, yang mencerminkan besarnya peran penduduk usia produktif sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bondowoso pada tahun 2024 tercatat sebesar 4,87 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja sejumlah lapangan usaha, terutama sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib yang mengalami pertumbuhan signifikan. Meski demikian, masih terdapat beberapa sektor yang mengalami perlambatan dan memerlukan perhatian bersama,” jelasnya Rabu,17/12/2025.
Dikatakan bahwa ,capaian positif lainnya adalah penurunan angka kemiskinan. Persentase penduduk miskin di Bondowoso turun dari 13,34 persen pada tahun 2023 menjadi 12,60 persen pada tahun 2024, atau berkurang sekitar 5,51 ribu jiwa. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga menurun menjadi 3,63 persen pada tahun 2024, seiring pemulihan ekonomi dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor industri.
Meski demikian, Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh berpuas diri. Tantangan struktural masih dihadapi, seperti keterbatasan lapangan kerja, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta kebutuhan akan penciptaan wirausaha baru.
“Selain itu, stabilitas harga dan pengendalian inflasi tetap menjadi isu krusial karena berdampak langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat,”harapnya.
Sejalan dengan visi pembangunan daerah dalam RPJMD Kabupaten Bondowoso Tahun 2025–2029, yakni Mewujudkan Bondowoso yang Tangguh, Unggul, Berdaya Saing Global, dan Berbudaya, pembentukan TP2D serta optimalisasi peran TPID dinilai sebagai langkah strategis dan tepat.
TP2D diharapkan menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi melalui penguatan iklim investasi, peningkatan produktivitas sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan, UMKM, dan pariwisata, serta mendorong hilirisasi komoditas lokal guna menciptakan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja.
Sementara itu, TPID berperan sebagai stabilisator harga dan inflasi daerah melalui penguatan koordinasi lintas sektor, pemantauan harga dan pasokan, pelaksanaan operasi pasar, serta penguatan kerja sama antardaerah guna menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan strategis.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso, Fathur Rozi, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Bondowoso saat ini mencapai 6,64 persen dan menempati peringkat ketiga se-Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa ke depan penguatan sektor primer menjadi fokus utama pemerintah daerah.
“Ke depan akan terjadi peningkatan di berbagai sektor, baik primer, sekunder, maupun tersier. Namun fokus utama saat ini adalah sektor primer, khususnya pertanian dan pertambangan, karena menjadi fondasi utama pemenuhan kebutuhan masyarakat,” ujar Fathur Rozi.
Menurutnya, penguatan sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan lokal, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi dan meningkatkan nilai tambah daerah. Pemerintah daerah, kata dia, ingin mendorong masyarakat agar berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri.
“Dari situ akan tumbuh aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.
Melalui sinergi TP2D dan TPID, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berkomitmen terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada penguatan sektor unggulan daerah, pengendalian inflasi, serta pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
l.











