BONDOWOSO – Sejumlah peternak kambing di Kabupaten Bondowoso mengeluhkan penurunan harga jual ternak yang disebut mencapai sekitar 20 persen.
Kondisi tersebut dinilai semakin berat karena daya beli masyarakat melemah, sementara biaya pemeliharaan dan pakan masih relatif tinggi.
Di sisi lain, harga daging kambing di tingkat konsumen disebut masih relatif stabil. Kondisi ini membuat peternak mempertanyakan adanya ketidakseimbangan antara harga kambing hidup di tingkat peternak dan harga daging kambing di pasaran.
Agus, salah seorang peternak sekaligus pedagang kambing asal Kecamatan Jambesari, mengatakan kondisi perdagangan ternak saat ini tidak lagi sebaik sebelum pandemi Covid-19. Dari puluhan kambing yang sebelumnya dikelolanya, kini hanya sekitar 30 ekor yang masih berada di kandang.
“Saya pedagang sambil beternak sendiri, tetapi perputaran ekonomi tidak seperti sebelum Covid-19,” ujar Agus, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, sebelum kondisi ekonomi melemah, kambing yang dibeli biasanya dapat segera dipasarkan kembali. Namun, saat ini sebagian ternak harus dipelihara lebih lama karena daya beli masyarakat dan permintaan dari pasar penampung mengalami penurunan.
Agus mencontohkan, harga kambing indukan yang sebelumnya dapat terjual sekitar Rp6 juta per ekor, kini hanya mampu ditawarkan dan terjual di kisaran Rp4 juta. Penurunan tersebut, menurutnya, cukup berdampak terhadap perputaran modal peternak.
Selain melemahnya daya beli, tingginya biaya pakan juga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi peternak. Harga pakan pabrikan yang relatif mahal membuat biaya pemeliharaan meningkat. Dalam kondisi tertentu, peternak akhirnya terpaksa menjual ternaknya dengan harga lebih rendah agar modal dapat kembali berputar.
“Kami berharap pemerintah memperhatikan keseimbangan harga ternak di tingkat peternak dengan harga daging yang dijual di pasaran,” katanya.
Ia juga berharap dinas terkait dapat melakukan pemantauan terhadap rantai perdagangan kambing, mulai dari tingkat peternak, pedagang, hingga pasar.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui faktor yang menyebabkan harga kambing hidup mengalami penurunan ketika harga daging kambing di tingkat konsumen relatif stabil.
Menurut Agus, pemeriksaan atau pengawasan di lapangan diperlukan agar kondisi tersebut dapat diketahui secara lebih objektif. Pemerintah juga diharapkan dapat mempertemukan para pemangku kepentingan dalam rantai distribusi ternak untuk mencari solusi yang tidak merugikan peternak maupun konsumen.
“Kalau harga daging tetap stabil, kami berharap harga kambing di tingkat peternak juga tidak jatuh terlalu jauh. Kami berharap dinas terkait turun ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya,” pungkasnya.
Keluhan tersebut menjadi perhatian karena keberlangsungan usaha peternakan rakyat sangat bergantung pada keseimbangan antara biaya produksi, harga jual ternak, dan daya serap pasar. Pengawasan terhadap tata niaga ternak dinilai diperlukan agar peternak tetap memperoleh harga yang layak sekaligus menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.














