Nabbhu Ronjhengan, Warisan Budaya Tapal Kuda yang Kian Tergerus Zaman
BONDOWOSO, TAPALKUDA POST — Dentingan alu yang beradu dengan kayu lesung panjang dahulu menjadi salah satu bunyi yang akrab di tengah kehidupan masyarakat pedesaan di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur.
Dari Bondowoso, Situbondo, Jember, Lumajang hingga Probolinggo, tradisi tersebut dikenal dengan sebutan “Nabbhu Ronjhengan”, yang berarti menabuh ronjhengan.
Namun, tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tani itu kini semakin jarang ditemui. Perubahan pola kehidupan, penggunaan mesin penggiling padi, serta berkurangnya keberadaan alat ronjhengan membuat kesenian tradisional tersebut berada di ambang kepunahan.
Ronjhengan merupakan lesung berukuran panjang yang umumnya dibuat dari satu gelondongan kayu. Bentuknya menyerupai perahu atau sampan dengan bagian tengah dilubangi sebagai tempat menumbuk hasil pertanian.
Alat tersebut dahulu digunakan untuk menumbuk padi, jagung, kedelai, dan hasil pertanian lainnya. Berbeda dengan lesung biasa yang umumnya dimainkan oleh dua atau tiga orang, ronjhengan dapat dimainkan secara bersama-sama oleh sekitar delapan hingga sepuluh orang.
Mereka menggunakan alu atau batang kayu panjang untuk menghasilkan bunyi secara bergantian. Ketukan yang dilakukan secara kompak menciptakan irama khas yang rancak.
Dalam perkembangannya, permainan tersebut kerap dipadukan dengan kidungan atau nyanyian tradisional berbahasa Madura.
Dari Aktivitas Bertani Menjadi Hiburan
PNabbhu Ronjhengan merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Tapal Kuda yang memiliki nilai sosial dan filosofi kuat.
Tradisi tersebut tidak sekadar menghasilkan bunyi dari alat penumbuk padi. Di dalamnya terdapat gambaran rasa suka cita masyarakat, khususnya para perempuan petani, ketika memasuki masa panen.
Sayangnya, Nabbhu Ronjhengan ini sudah hampir punah. Padahal, pada tradisi ini terkandung filosofi rasa suka cita petani saat panen padi tiba dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Permainan ronjhengan juga mencerminkan kebersamaan para perempuan petani.
Ketika menumbuk padi, mereka memainkan ronjhengan secara bergantian. Aktivitas yang semula merupakan pekerjaan sehari-hari tersebut kemudian berkembang menjadi hiburan bersama.
Makna filosofinya adalah kebersamaan para perempuan petani dalam menumbuk padi sambil memainkan ronjhengan dan gentong sebagai hiburan.
Tergusur Mesin Penggiling Padi
Seiring perkembangan teknologi pertanian, aktivitas menumbuk padi secara manual perlahan ditinggalkan. Kehadiran mesin penggiling atau selep padi membuat masyarakat tidak lagi membutuhkan tenaga banyak orang untuk mengolah gabah menjadi beras.
Kondisi tersebut turut memengaruhi keberadaan kesenian Nabbhu Ronjhengan.
Masyarakat kini semakin jarang menggunakan ronjhengan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran lesung atau ronjhengan sudah diganti selep. Kalaupun ada yang kenal atau bisa memainkan musik ronjhengan, biasanya usianya sudah di atas 70 tahun.
Tidak hanya karena perubahan teknologi, keberadaan perangkat ronjhengan juga terancam akibat kerusakan dan penjualan kayu-kayu tua yang menjadi bahan pembuatannya.
Sebagian ronjhengan bahkan berpotensi berpindah tangan menjadi barang koleksi karena memiliki nilai historis.
Iramanya Lahir dari Kebersamaan
pada masa lalu hampir setiap desa memiliki kelompok yang memainkan ronjhengan.
tradisi tersebut masih cukup dikenal hingga sekitar awal tahun 2000-an.
Setelah itu, keberadaannya semakin sulit ditemukan.Sekitar tahun 2000-an mungkin sudah tidak ada lagi permainan menabuh ronjhengan ini.
Tradisi tersebut umumnya dimainkan kaum perempuan. Hal itu berkaitan dengan aktivitas menumbuk padi yang pada masa lalu banyak dilakukan oleh perempuan di pedesaan.
Ketukan alu dilakukan secara bergiliran. Jarak dan tempo tumbukan menghasilkan suara yang saling bersahutan. Dari situlah muncul irama khas yang kemudian dikenal sebagai bagian dari kesenian ronjhengan.
Dalam tradisi masyarakat Madura, permainan ketukan tersebut juga dikenal dengan istilah aguttha, yakni teknik menghasilkan bunyi khas dari permainan ronjhengan, termasuk ketukan pada bagian luar lubang lesung.
Dulu menabuh ronjhengan digunakan ibu-ibu untuk menghilangkan rasa lelah setelah bekerja, khususnya ketika menumbuk padi.
Sempat Berkembang Mengikuti Musik Modern
Dalam perkembangannya, kesenian ronjhengan tidak hanya berupa permainan instrumen dari alu dan lesung. Kesenian tersebut kemudian dipadukan dengan lagu-lagu berbahasa Madura yang mengandung pesan dan nilai-nilai luhur.
Suara benturan kayu yang dimainkan secara kompak berpadu dengan suara penyanyi sehingga menghasilkan pertunjukan yang lebih meriah.
Pengaruh perkembangan musik modern juga sempat masuk dalam kesenian tersebut. Lagu-lagu populer, termasuk dangdut dan pop, turut digunakan dalam sejumlah pertunjukan.
Dalam beberapa perkembangan, permainan ronjhengan bahkan dilengkapi alat musik tambahan seperti jidur atau sejenis beduk.
Meski mengalami perubahan, karakter utama berupa bunyi ketukan ronjhengan tetap menjadi bagian penting dari pertunjukan.
Masih Ada Upaya Mempertahankan
Di tengah semakin langkanya tradisi tersebut, sebagian masyarakat masih berupaya mempertahankan keberadaan ronjhengan.
Salah satunya dengan tetap menyimpan alat tersebut dan tidak menjualnya kepada kolektor barang antik maupun pemburu kayu lama.
Di sejumlah wilayah Bondowoso, ronjhengan juga pernah dipertahankan melalui kegiatan kelompok masyarakat, termasuk perkumpulan Muslimat. Selain menjadi sarana melestarikan kesenian, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan hiburan bersama.
Nabbhu Ronjhengan pada akhirnya bukan sekadar tradisi menumbuk padi. Ia merekam kehidupan masyarakat agraris masa lalu, semangat gotong royong, kebersamaan kaum perempuan, serta kegembiraan menyambut hasil panen.
Ketika mesin menggantikan tenaga manusia dan musik modern mengambil alih ruang hiburan masyarakat, bunyi alu yang beradu dengan ronjhengan perlahan semakin jarang terdengar.
Karena itu, pelestarian Nabbhu Ronjhengan tidak cukup hanya dengan menyimpan alatnya. Regenerasi pemain, dokumentasi, pengenalan kepada generasi muda, serta pemberian ruang bagi kesenian tradisional untuk tampil menjadi langkah penting agar warisan budaya Tapal Kuda tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Nabbhu Ronjhengan, seperti halnya Glundeng, Macopat, Ojhung, Jaran Kencak, dan berbagai kesenian tradisional lainnya, merupakan bagian dari kekayaan budaya yang menyimpan identitas masyarakat Tapal Kuda.














