page contents
11 Agustus 2020
tapalkudapost.com
Featured Kesehatan Politik & Pemerintahan

Ini Kata Kepala Dinkes Tentang Tingginya AKI/AKB Di Bondowoso

Bondowoso – Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB) saat melahirkan dan pascamelahirkan di Bondowoso masih terbilang tinggi. Memasuki bulan April 2019 AKI sebanyak 8 orang dan AKB 172.Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan H.M.Imron saat pemaparan program/kegiatan tahun 2019 dihadapan Wakil Bupati Bondowoso,H.Irwan Bachtiar,kepala Bapeda serta kepala puskesmas se-Kabupaten Bondowoso,Senin 15/04/2019.

Menurut Imron tingginya AKI/AKB dipicu oleh tingginya angka pernikahan dini serta akibat  terlambat dan pengawasan. Ia mengaku bahwa pihaknya pun telah berupaya bersama untuk menurunkan angka tersebut, berbagai program kesehatan ibu dan bayi pun telah diupayakan.

“Namun, berbagai penyebab mulai dari aspek sosial budaya hingga kondisi geografis masih jadi penghambat. Ini kondisi yang butuh perhatian semua pihak, tidak hanya bidan atau pemangku kebijakan. Harus melibatkan seluruh komponen, banyak hal yang berkontribusi menjadi penyebab AKI/AKB di Bondowoso tetap tinggi,” ucapnya.

Berfokus pada penguatan peran bidan dalam pemberdayaan perempuan dan keluarga, diharapkan bidan bersama masyarakat bisa menekan AKI/AKB. Sebab pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesehatan ibu dan bayi jadi indikator utama untuk menurunkan AKI/AKB.

Imron mengungkapkan, ada 2 penyebab utama AKI/AKB masih tinggi, yakni aspek sosial budaya dan kondisi geografis. Aspek sosial budaya, terutama akibat terlambat membawa ibu saat akan melahirkan  . Terlambat memutuskan, keluarga tidak segera memutuskan agar ibu/anak yang dikandung untuk mendapatkan penanganan.

Ikalan Didalam

“Terlambat merujuk transportasi, karena infrastruktur jalan yang buruk pun jadi masalah. Sementara  terlalu,  adalah terlalu muda saat melahirkan dibawah 20 tahun akibat pernikahan dini. Terlalu tua melahirkan diatas 35 tahun, terlalu banyak anak lebih dari 4 anak, dan terlalu dekat jarak menikah dengan kehamilan,” ungkapnya.

Kondisi geografis pun turut berperan menyebabkan tingginya AKI/AKB. Kondisi jalan, di wilayah pelosok jadi penghambat untuk mempercepat akses pertolongan pertama. Serta tak meratanya jumlah pelayanan kesehatan masyarakat (yankesmas).

Pihaknya pun mengakui, kurangnya tenaga medis jadi faktor lainnya. Secara rasio idealnya, 1 bidan melayani 1000 penduduk. “Jika berbicara rasio masih sangat kurang. Saat ini, dalam satu desa saja terdapat 1-2 bidan ada yang PNS dan ada yang kontrak, belum lagi nanti kalau  dari desa ditarik ke puskesmas induk, karena dipuskesmas kekurangan,” jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya bersama dinas terkait terus berupaya melalui berbagai program, salah satunya melalui desa siaga. Bekerjasama dengan pihak desa, masyarakat diminta lebih peka dan peduli terhadap permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.

IklanPost

Related posts

BLT DD Tahap II Disalurkan Pada198 Warga Desa Curahpoh

Tapalkudapost

Pembentukan Kampung Tangguh di Jangkar, Diawali Pembuatan Portal

Tapalkudapost

Mushola Al Azhar Sudah Bisa Difungsikan

Tapalkudapost