Beranda Ekonomi & Teknologi Hadir di FKNT, Sabrang Letto Mengaku Belum Pernah Merasakan Kopi dan Tape...

Hadir di FKNT, Sabrang Letto Mengaku Belum Pernah Merasakan Kopi dan Tape Bersamaan Padahal Bondowoso Punya E-Kotap

1784696982808

BONDOWOSO – Vokalis grup musik Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh, hadir dalam Festival Kopi dan Tembakau Nusantara (FKNT) ke-9 di Kabupaten Bondowoso, Senin (31/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Sabrang mengaku memiliki pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya: menikmati kopi bersamaan dengan tape khas Bondowoso.

Pernyataan itu menarik perhatian lantaran Bondowoso memiliki inovasi kuliner yang justru memadukan dua produk ikonik tersebut dalam satu sajian, yakni E-KOTAP (Es Kopi Tapai).

Putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu mengaku belum pernah merasakan perpaduan kopi dan tape secara bersamaan.

Padahal, konsep tersebut telah dikembangkan menjadi minuman khas melalui E-KOTAP. Minuman ini memadukan seduhan kopi lokal dengan tapai singkong, menghadirkan perpaduan karakter pahit dan aroma kopi dengan rasa manis serta asam khas tapai.

Koordinator Barista Class Bondowoso, Om Seon Oner, mengatakan E-KOTAP lahir dari upaya mengawinkan dua produk yang lekat dengan identitas Bondowoso.

“E-KOTAP memiliki filosofi pelestarian budaya lokal. Kami mencoba mengawinkan dua ikon Bondowoso, yaitu kopi dan tape, menjadi satu sajian yang tidak hanya memiliki nilai rasa, tetapi juga mengangkat identitas daerah,” ujarnya.

Menurut dia, E-KOTAP tidak sekadar menawarkan kreasi minuman baru. Produk tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal dalam kemasan yang lebih modern.

1785517338444

Perpaduan kopi dan tapai menghasilkan karakter rasa yang khas. Pahit dan aroma kopi berpadu dengan sensasi manis, asam, serta aroma fermentasi dari tapai.
E-KOTAP dapat disajikan dalam kondisi dingin maupun panas, sehingga memberikan pilihan bagi penikmat kopi untuk menikmati perpaduan tersebut sesuai selera.

Om Seon Oner menambahkan, tape Bondowoso juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Kabupaten Bondowoso pada 2025, sehingga pengembangan E-KOTAP dinilai memiliki nilai lebih dari sekadar inovasi kuliner.

“Ini bukan hanya soal menciptakan minuman baru, tetapi bagaimana produk lokal bisa terus hidup dan dikenal melalui inovasi,” katanya.

Kehadiran E-KOTAP sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Kopi dan tape yang selama ini menjadi bagian dari identitas Bondowoso dipadukan dalam satu sajian yang menyasar selera generasi baru.

Menariknya, pengakuan Sabrang bahwa dirinya belum pernah menikmati kopi dan tape bersamaan justru menjadi momentum untuk memperkenalkan E-KOTAP lebih luas.

Sebab, ketika dua ikon Bondowoso sudah bisa disatukan dalam satu gelas, pertanyaannya bukan lagi apakah kopi dan tape bisa dipadukan, melainkan seberapa jauh inovasi itu mampu membawa cita rasa Bondowoso menembus pasar yang lebih luas.

 

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521