BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat pengembangan sektor kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem kopi secara berkelanjutan dari sektor hulu hingga hilir.
Kepala Bapperida Bondowoso, Anizatul Hamidah, mengatakan kopi Bondowoso memiliki keistimewaan yang tidak terlepas dari kondisi geografis daerah.
Wilayah penghasil kopi Bondowoso berada di kawasan dengan karakter tanah dan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kopi berkualitas.
Menurutnya, kopi Bondowoso, baik jenis arabika maupun robusta, memiliki karakter rasa yang khas. Sejumlah wilayah penghasil kopi juga berada dalam kawasan Ijen Geopark yang memiliki kekayaan alam dan potensi pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal.
“Bondowoso bukan sembarang kopi. Kopi Bondowoso sangat istimewa, baik arabika maupun robusta, karena ditanam di tanah yang memiliki karakter istimewa,” ujarnya dalam pemaparan pengembangan kopi Bondowoso.
Memiliki Sejarah Panjang pada puluhan mahasiswa Unej dan tamu dari Jepang dan Amerika pada acara Bondowoso Government Visit,Sabtu ,15/08/2026, di pendopo Bagus Asra.
Anizatul menjelaskan, sejarah kopi di Bondowoso memiliki perjalanan panjang. Cikal bakal perkebunan kopi di Indonesia telah berkembang sejak akhir abad ke-17, termasuk melalui kedatangan kopi dari Malabar pada 1699.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang hingga perdagangan kopi dari Jawa ke Eropa. Sejumlah perkebunan besar juga mengalami berbagai fase, mulai dari pembangunan fasilitas perkebunan pada masa kolonial, nasionalisasi dan revitalisasi setelah kemerdekaan, hingga program rehabilitasi kopi arabika Java Ijen-Raung.
Pengembangan kopi Bondowoso kembali memperoleh momentum pada 2010 melalui inisiasi pembentukan klaster kopi arabika. Pada 2013, kopi arabika Java Ijen-Raung memperoleh sertifikat Indikasi Geografis.
Sementara itu, kopi arabika dari kawasan Argopuro juga telah memperoleh Indikasi
Geografis pada 2021. Keberadaan dua Indikasi Geografis tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat identitas dan daya saing kopi Bondowoso.
“Dari perjalanan panjang tersebut, Bondowoso kemudian dikenal sebagai Republik Kopi,” katanya.
Luas Lahan Masih Berpotensi Dikembangkan
Dalam pemaparannya, Anizatul menyebut luas areal kopi yang masuk dalam Indikasi Geografis Java Ijen-Raung mencapai sekitar 10.700 hektare. Sementara kawasan Indikasi Geografis Argopuro memiliki luas sekitar 1.536 hektare.
Menurut dia, potensi tersebut masih dapat dikembangkan mengingat kondisi wilayah Bondowoso yang mendukung tanaman kopi. Namun, pengembangan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan luas tanam dan produksi.
“Pengembangan kopi Bondowoso tidak sekadar menanam, memanen, kemudian mengekspor. Kita ingin membangun ekosistem kopi yang kuat dari hulu sampai hilir,” jelasnya.
Perkuat Klaster hingga Hilirisasi
Pemkab Bondowoso telah menyusun peta jalan atau roadmap pengembangan klaster kopi secara bertahap. Tahap pertama merupakan fase inisiasi, dilanjutkan tahap penumbuhan pada 2016–2020, serta tahap pemantapan pada 2020–2025.
Pengembangan tersebut diarahkan agar sektor hulu dan hilir dapat berjalan beriringan. Pemerintah juga mendorong tumbuhnya berbagai pusat dan kampung kopi sebagai ruang edukasi, produksi, promosi, hingga pengembangan usaha berbasis kopi.
“Ekosistem pengembangan kopi harus sampai ke hilir. Hulu kita kuatkan, hilir juga harus kita kuatkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem kopi juga berkaitan dengan perlindungan kekayaan intelektual, keberlanjutan usaha, peningkatan kualitas produk, serta perluasan pasar.
Libatkan Lima Unsur
Untuk memastikan pengembangan berjalan berkelanjutan, Pemkab Bondowoso mendorong pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan kopi tidak berjalan secara parsial. Setiap perangkat daerah juga diharapkan memiliki peran sesuai tugas dan fungsinya dalam mendukung sektor kopi.
“Bapak dan ibu kepala perangkat daerah yang hadir memiliki komitmen agar masing-masing perangkat daerah dapat menjalankan tugas dan fungsi untuk mendukung pengembangan kopi di Bondowoso,” katanya.
Anizatul menegaskan, potensi kopi merupakan anugerah yang perlu dikelola secara serius agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Dengan penguatan produksi, kualitas, kelembagaan, hilirisasi, promosi, serta pemasaran, kopi Bondowoso diharapkan tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dan memperkuat identitas daerah di tingkat nasional maupun internasional.














