Pertanian, Perikanan hingga Teknologi Finansial Jadi Bidikan
BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai menjajaki peluang kerja sama internasional dengan sejumlah pemerintah daerah Kamerun, Afrika Tengah. Melalui pertemuan diplomatik yang difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaounde, peluang kolaborasi di sektor pertanian, perikanan, investasi, pendidikan, hingga pariwisata menjadi bahasan strategis untuk memperluas jejaring ekonomi daerah.
Pertemuan bertajuk “Meeting on The Exploration of Potential Cooperation Between The Regent of Bondowoso, Indonesia and The Mayors of Participating Local Governments in Cameroon” tersebut berlangsung di Ruang Paringgitan, Pendopo Bagus Asra, Bondowoso, Senin (19/10/2026).
Bupati Bondowoso, KH. Abdul Hamid Wahid, bersama jajaran pemerintah daerah menerima rombongan yang didampingi Tomy Lutvan Abqary, diplomat yang bertugas di KBRI Yaounde, Kamerun.
Pertemuan ini menjadi ruang penjajakan untuk menemukan kesamaan potensi dan kepentingan antara Bondowoso dengan sejumlah pemerintah daerah di Kamerun.
Harapannya, komunikasi diplomatik tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Tomy: Cari Titik Temu untuk Kerja Sama Nyata
Tomy Lutvan Abqary menegaskan, KBRI Yaounde berupaya menjadi penghubung antara pemerintah daerah di Indonesia dan mitra potensial di kawasan Afrika Tengah. Langkah tersebut dilakukan dengan membuka ruang dialog agar masing-masing pihak dapat mengenali potensi dan kebutuhan yang bisa disinergikan.
“Kami membuka platform untuk berdiskusi, terutama dengan Bupati Bondowoso beserta jajarannya, untuk bersama-sama mencari common ground atau titik temu mengenai sektor apa saja yang dapat dikerjasamakan,” ujar Tomy .
Menurutnya, peluang kerja sama tidak terbatas pada perdagangan, tetapi juga mencakup berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, kesehatan, pendidikan, hubungan antarmasyarakat, hingga pengembangan sektor bisnis.
“KBRI terus menjajaki berbagai sektor, baik bisnis, pemerintahan, kesehatan, hubungan antarmasyarakat, universitas, maupun bidang lainnya, untuk mendorong kerja sama antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika Tengah,” jelasnya.
Tomy juga menyampaikan bahwa KBRI Yaounde relatif baru beroperasi, yakni sekitar dua setengah tahun. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk terus memperluas hubungan dan menggali potensi kemitraan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pertanian, Perikanan hingga Teknologi Finansial Jadi Bidikan
Sejumlah sektor potensial menjadi bahan pembahasan dalam penjajakan kerja sama tersebut. Di bidang pertanian, peluang kolaborasi dapat mencakup komoditas pertanian, penyediaan alat dan mesin pertanian, pupuk, serta benih berkualitas.
Sektor perikanan, teknologi finansial (financial technology atau fintech), ekowisata, transportasi, dan pengelolaan perkotaan serta sampah juga masuk dalam daftar bidang yang berpotensi dikembangkan.
Selain itu, industri karet beserta produk turunannya dan produk rambut palsu (wig) turut disebut sebagai peluang komoditas yang dapat dijajaki.
Tomy menjelaskan, peran KBRI adalah menjembatani komunikasi dan membantu membuka jalan bagi pembahasan teknis antara pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan.
“Tugas kami adalah menjembatani dan membangun momentum kerja sama, kemudian menyiapkan konsep tindak lanjut teknis antara pemerintah daerah yang terlibat,” ungkapnya.
Penjajakan tersebut menjadi penting karena peluang kerja sama internasional membutuhkan langkah lanjutan, mulai dari pemetaan potensi, pencocokan kebutuhan pasar, hingga identifikasi mitra yang siap bekerja sama.
83 Delegasi dan Jejaring Lintas Sektor
Dalam pemaparan mengenai rangkaian kegiatan kerja sama tersebut, disebutkan terdapat 83 delegasi dari negara-negara Afrika Tengah dengan latar belakang beragam, antara lain pelaku usaha, pejabat pemerintah, unsur pemerintah daerah, perwakilan kementerian, serta kalangan perguruan tinggi.
Rangkaian kegiatan mencakup business matching, forum bisnis, forum investasi, dan pertemuan dengan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari agenda kunjungan.
Lima perguruan tinggi yang disebut terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut ialah Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Pertamina, dan Universitas Nurul Jadid di Probolinggo.
Tomy Lutvan Abqary yang juga putra pasangan bupati Bondowoso Dr. KH.Abdul Hamid Wahid ,M.Ag , dan Dr. Hj. Khodijatul Qodriyah, S.Ag., M.M.Pub., M.Si. menyampaikan bahwa, keterlibatan unsur pemerintah, bisnis, dan akademisi diharapkan memperluas peluang kemitraan, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga dalam pendidikan, pengembangan teknologi, serta pertukaran pengetahuan.
KBRI Yaounde Menjangkau Enam Negara
Tomy menerangkan bahwa selain Kamerun, KBRI Yaounde juga memiliki cakupan akreditasi di lima negara lain di kawasan Afrika Tengah, yakni Gabon, Republik Kongo, Chad, Republik Afrika Tengah, dan Guinea Khatulistiwa.
Dengan cakupan tersebut, KBRI Yaounde berperan dalam mengelola hubungan bilateral Indonesia dengan enam negara di kawasan, termasuk Kamerun sebagai negara tempat perwakilan diplomatik itu berkedudukan.
Menurut Tomy, kondisi tersebut membuka ruang lebih luas bagi penjajakan hubungan ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan kerja sama antarpemerintah daerah.
Tantangan Bondowoso: Menindaklanjuti Peluang
Bagi Bondowoso, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menjajaki kemungkinan memperluas akses pasar ke tingkat internasional.
Namun, peluang yang dibicarakan perlu ditindaklanjuti melalui langkah konkret. Pemetaan komoditas unggulan, kajian kebutuhan pasar, identifikasi mitra, serta penyusunan agenda teknis menjadi bagian penting agar penjajakan tidak berhenti pada pertemuan diplomatik.
Kerja sama yang berkelanjutan juga membutuhkan kejelasan bidang prioritas, kesiapan pelaku usaha, dan kesepakatan kedua belah pihak.
Melalui fasilitasi KBRI Yaounde, Bondowoso diharapkan dapat membangun jejaring internasional yang lebih luas sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi daerah.
Pertemuan di Pendopo Bagus Asra tersebut menjadi langkah awal untuk menghubungkan potensi lokal dengan peluang lintas negara. Tahap berikutnya akan menentukan sejauh mana komunikasi diplomatik ini dapat diwujudkan menjadi kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.











