Beranda Ekonomi & Teknologi Ekonomi Bondowoso Tumbuh 5,83 Persen, Lampaui Jatim dan Nasional

Ekonomi Bondowoso Tumbuh 5,83 Persen, Lampaui Jatim dan Nasional

1784696982808

BONDOWOSO — Perekonomian Kabupaten Bondowoso menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat 5,83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2026 yang berada di angka 5,42 persen.

Capaian tersebut bahkan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,72 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen.

Bupati Bondowoso Dr. KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menyampaikan capaian itu berdasarkan laporan dan asesmen atas rilis pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan melalui Bank Indonesia.

Berdasarkan laporan yang diterima Bupati dari Iqbal Reza Nugraha, Bank Indonesia Jember, penguatan ekonomi Bondowoso pada triwulan II ditopang oleh sejumlah sektor strategis, terutama pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan.
Pertanian hingga Perdagangan Jadi Penopang

“Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penguatan seiring masuknya masa panen raya sejumlah komoditas perkebunan unggulan, khususnya kopi arabika dan robusta.
Peningkatan produksi hortikultura serta pasokan pangan lokal yang relatif stabil turut memperkuat kinerja sektor pertanian dibandingkan triwulan sebelumnya,”jelasnya Rabu ,9/09/2026.

Penguatan juga terjadi pada sektor industri pengolahan. Melimpahnya bahan baku pascapanen perkebunan kopi dan hortikultura mendorong peningkatan aktivitas pengolahan.

Pengolahan kopi, manufaktur makanan dan minuman lokal, hingga pemrosesan hasil kayu olahan menjadi aktivitas yang memberikan tambahan terhadap output industri daerah.

Sementara itu, sektor perdagangan ikut menunjukkan akselerasi. Mobilitas masyarakat selama libur sekolah serta meningkatnya distribusi hasil panen perkebunan mendorong aktivitas perdagangan.

“Kenaikan omzet pedagang eceran, permintaan bahan pokok, hingga meningkatnya jasa perawatan kendaraan operasional pertanian menjadi faktor yang ikut mengerek pertumbuhan sektor tersebut,” ungkapnya.

Investasi dan Belanja Pemerintah Menguat
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mengalami penguatan. Kondisi ini didorong oleh akselerasi investasi fisik swasta, antara lain pembangunan fasilitas pengolahan komoditas perkebunan dan modernisasi peralatan pertanian.

Konsumsi pemerintah turut meningkat seiring percepatan penyerapan APBD dan pelaksanaan berbagai program kerja daerah. Belanja operasional instansi serta pengadaan fasilitas publik memberikan kontribusi terhadap peningkatan belanja pemerintah.

1785517338444

Namun, tidak semua komponen menunjukkan tren penguatan.Konsumsi rumah tangga justru mengalami perlambatan. Kondisi ini terutama dipengaruhi normalisasi belanja masyarakat setelah tingginya konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri pada triwulan I.

Tingginya belanja masyarakat pada periode tersebut menciptakan high base effect, sehingga konsumsi riil rumah tangga pada triwulan II cenderung melandai.

Hilirisasi Kopi hingga Pariwisata Jadi Kunci

Capaian 5,83 persen dinilai menjadi momentum bagi Bondowoso untuk tidak sekadar mempertahankan pertumbuhan, tetapi meningkatkan kualitas ekonomi daerah.

“Sejumlah strategi perlu didorong, salah satunya hilirisasi agroindustri kopi dan hortikultura. Pengolahan produk pascapanen dengan nilai tambah lebih tinggi, fasilitasi sertifikasi ekspor, serta kemitraan UMKM pangan lokal dengan jaringan ritel modern menjadi langkah yang dapat memperluas pasar produk Bondowoso,”paparnya.

Di sektor pariwisata, penguatan ekosistem pariwisata dan agrowisata juga dinilai penting. Potensi alam seperti Ijen Geopark dapat diintegrasikan dengan wisata perkebunan kopi dan sentra produksi masyarakat.

Langkah tersebut perlu dibarengi peningkatan akses infrastruktur, terutama jalan menuju destinasi, serta promosi event kebudayaan dan pariwisata daerah secara lebih agresif.

Akselerasi investasi juga menjadi pekerjaan penting. Pemerintah daerah perlu memperkuat promosi investasi sekaligus menyederhanakan perizinan, khususnya bagi investor yang bergerak di sektor pengolahan hasil perkebunan.

Di sisi lain, pengendalian inflasi dan ketahanan pangan tetap harus menjadi perhatian. Optimalisasi kerja sama antardaerah (KAD), digitalisasi rantai pasok pangan, serta penguatan sektor pertanian diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak tergerus oleh gejolak harga pangan.

Dengan pertumbuhan 5,83 persen, Bondowoso kini memiliki modal ekonomi yang cukup kuat. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar mengalir ke peningkatan produksi, investasi, lapangan kerja, pendapatan masyarakat, dan kesejahteraan warga.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521