BONDOWOSO – Festival Kopi Nusantara (FKNT) IX dan Tembakau 2026 tidak sekadar menjadi ajang promosi komoditas unggulan Bondowoso. Festival tersebut juga menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, akademisi, generasi muda, serta komunitas kopi untuk mendorong inovasi dan pengembangan produk bernilai tambah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, mengatakan rangkaian kegiatan festival, termasuk kompetisi inovasi berbasis kulit kopi, berjalan lancar dan sukses.
Menurutnya, kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang. Bahkan, sejumlah peserta berasal dari kalangan akademisi dan luar Pulau Jawa.
“Peserta ada dari delapan kompetensi inovasi kulit kopi. Banyak yang berasal dari akademisi. Tahun berikutnya, semoga bisa menambah kompetensi, mengingat banyak peserta yang datang dari luar Jawa,” ujar Mulyadi.
Ia menjelaskan, kompetisi inovasi tersebut menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan limbah kulit kopi agar tidak berakhir sebagai sampah atau bahan yang tidak terpakai.
Inovasi pengolahan kulit kopi dinilai penting karena dapat membuka peluang baru dalam pemanfaatan hasil samping komoditas kopi. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Selain menjadi ajang kompetisi, FKNT IX juga dirancang untuk mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem kopi. Promosi komoditas kopi Bondowoso dipadukan dengan seni dan budaya lokal sehingga festival tidak hanya berbicara tentang komoditas, tetapi juga identitas daerah.
Mulyadi menyebut penampilan seni dan budaya pada malam penutupan merupakan hasil seleksi dari rangkaian lomba yang digelar dalam FKNT IX.
Wabup: Anak Muda Harus Jadi Penggerak
Sementara itu, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, dalam closing ceremony FKNT IX menegaskan bahwa festival tersebut menunjukkan kesiapan Bondowoso untuk terus bergerak maju di tengah dinamika pembangunan daerah.
Menurutnya, geliat kreativitas anak muda menjadi salah satu modal penting bagi daerah untuk berkembang. Ruang publik, kata dia, perlu terus diisi dengan kegiatan positif, inovatif, dan produktif.
“Festival ini menjadi bukti kesiapan daerah untuk maju di tengah semarak pembangunan dan bangkitnya semangat anak-anak muda Bondowoso yang kini semakin kreatif meramaikan ruang publik dengan inovasi dan kegiatan positif,” kata As’ad.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang berbagai lomba dalam festival tersebut.
“Saya ucapkan selamat kepada seluruh pemenang lomba festival ini. Kemenangan ini harus mendorong Anda untuk terus bekerja dan mengangkat nama Bondowoso,” ujarnya.
As’ad menilai kekayaan kopi dan tembakau Bondowoso memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kembali semangat Bondowoso Republik Kopi.
Menurutnya, kopi arabika Ijen-Raung dan tembakau Bondowoso memiliki kualitas yang dapat menjadi produk unggulan daerah dan berpeluang bersaing di pasar yang lebih luas.
Namun, penguatan sektor tersebut tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Bondowoso, kata As’ad, perlu berani mendorong hilirisasi agar komoditas pertanian tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
“Kopi Bondowoso harus diproses untuk menghasilkan produk inovatif, beragam, dan bernilai tambah tinggi yang dapat dipasarkan di tingkat nasional dan internasional,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku UMKM, akademisi, dan generasi muda. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar pengembangan komoditas kopi dan tembakau mampu memberikan dampak lebih luas.
Harapannya, kebangkitan sektor kopi dan tembakau tidak hanya meningkatkan daya tarik Bondowoso, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan petani, pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pada kesempatan tersebut, As’ad juga mengajak para siswa dan seluruh masyarakat Bondowoso untuk mencintai serta bangga terhadap produk lokal.
“Melalui penutupan festival ini, saya mengajak anak-anakku para siswa dan seluruh warga Bondowoso untuk terus bangga dan mencintai produk lokal kita,” ujarnya.
Menutup sambutannya, As’ad menyampaikan pantun:
Memetik kopi di lereng Raung,
Daun tembakau diikat erat.
Bondowoso maju terus melambung,
Masyarakat sejahtera, harum dan bermartabat.














