JEMBER – Aroma cerutu khas Jember berpadu dengan semilir angin Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu, saat Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) digelar pada Sabtu malam (1/8/2026).
Festival tersebut tak sekadar menghadirkan hiburan dan pertunjukan budaya. Kehadiran warga negara asing (WNA) dari 11 negara menjadi sorotan sekaligus menandai upaya memperluas promosi Jember sebagai daerah penghasil tembakau dan cerutu ke panggung internasional.
Beragam pertunjukan disuguhkan sepanjang malam. Kolaborasi Jember Fashion Carnaval (JFC), musik, kesenian tradisional Indonesia, serta musik internasional dan khas Jember berpadu dalam satu panggung di kawasan wisata Pantai Watu Ulo.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, kehadiran delegasi dari berbagai negara menjadi sinyal positif bagi promosi komoditas tembakau dan cerutu Jember.
“Ini merupakan rangkaian bagaimana mempromosikan Kabupaten Jember sebagai kota tembakau, dan hari ini ada turunannya, yaitu cigar. Hadir 11 negara, dari Amerika dan dari berbagai negara lainnya,” ujar Fawait.
Menurutnya, JKCI tidak hanya diarahkan sebagai ajang memperkenalkan produk cerutu. Festival tersebut juga menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor pariwisata dan membuka ruang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan komoditas tembakau.
“Ini menunjukkan bahwa kita sudah on the track untuk mempromosikan Kabupaten Jember, destinasi wisata di ujung timur Pulau Jawa, dan juga pengembangan ekonomi petani tembakau serta cerutu,” katanya.
Tak Ingin Cerutu Berhenti di Jember
Fawait berharap JKCI dapat berkembang secara berkelanjutan dan memiliki daya tarik semakin luas di tingkat internasional. Menurut dia, identitas Jember sebagai daerah penghasil tembakau dan cerutu merupakan potensi ekonomi sekaligus bagian dari karakter daerah yang perlu terus diperkenalkan.
Ia bahkan menyebut JKCI sebagai event terbesar di Asia. Namun, klaim tersebut disampaikan Fawait dan belum dijelaskan indikator atau pembanding yang digunakan.
“Bahkan Jember sudah dikenal sebagai penghasil tembakau dan cerutu. Event JKCI ini terbesar di Asia, yakni di Jember, dan semoga bisa mendunia. Ini merupakan simbol yang legend di Kabupaten Jember,” tandasnya.
Di sisi lain, Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikhyansah menilai kolaborasi Pemerintah Kabupaten Jember dengan penyelenggaraan JKCI dapat menjadi salah satu pengungkit aktivitas ekonomi daerah.
Menurut Charles, dampak kegiatan tersebut tidak berhenti pada industri cerutu. Pergerakan ekonomi juga dinilai berpotensi menyentuh sektor pariwisata, pelaku usaha, serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
“Ini merupakan langkah terobosan yang sangat berbobot. Aktivitas ekonomi kini bergerak lebih dinamis, bisnis pariwisata terdorong naik, dan yang paling utama, muaranya adalah peningkatan kesejahteraan warga Jember,” ujar Charles.
Kehadiran delegasi dari 11 negara di Pantai Watu Ulo sekaligus memperlihatkan bahwa JKCI mulai diarahkan bukan hanya sebagai festival lokal, melainkan sebagai etalase untuk mempertemukan identitas tembakau, budaya, pariwisata, dan aktivitas ekonomi Jember dalam satu agenda.
Tantangannya kini adalah memastikan gaung festival tersebut tidak berhenti pada panggung dan seremonial. Promosi internasional harus berujung pada manfaat nyata bagi petani tembakau, pelaku usaha cerutu, sektor pariwisata, UMKM, serta masyarakat Jember secara lebih luas.














