Beranda Lensa Nusantara Penggunaan Alsintan Pangkas Kebutuhan Buruh Tani, DPKP Bondowoso: Ini Solusi di Tengah...

Penggunaan Alsintan Pangkas Kebutuhan Buruh Tani, DPKP Bondowoso: Ini Solusi di Tengah Kelangkaan Tenaga Kerja

1784696982808

Bondowoso – Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern dinilai menjadi solusi paling efektif untuk menjawab persoalan semakin langkanya tenaga kerja di sektor pertanian.

Di tengah menurunnya minat generasi muda menjadi buruh tani, mekanisasi pertanian dinilai mampu menjaga produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, usai mengikuti kegiatan sarasehan dan tanam perdana padi organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Senin (20/7/2026).

Menurut Mulyadi, mekanisasi pertanian bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi petani di tengah sulitnya mencari tenaga kerja.

“Sekarang mencari tenaga kerja pertanian sangat sulit, tidak seperti beberapa tahun lalu. Karena itu penggunaan alat pertanian modern menjadi solusi yang efektif agar proses budidaya tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penggunaan alsintan mampu memangkas kebutuhan tenaga kerja secara signifikan. Pada proses tanam, misalnya, mesin rice transplanter hanya membutuhkan satu hingga dua operator untuk mengerjakan lahan seluas satu hektare dalam sehari.

Sementara metode tanam manual membutuhkan sekitar 20 pekerja.
Efisiensi serupa juga terjadi saat panen. Dengan combine harvester, proses memotong, merontokkan, hingga mengemas gabah dapat dilakukan dalam satu rangkaian pekerjaan hanya oleh dua hingga tiga orang operator.

Jika dilakukan secara manual, proses tersebut memerlukan jauh lebih banyak tenaga kerja dan waktu.

Meski demikian, Mulyadi menegaskan mekanisasi bukan berarti menghilangkan seluruh lapangan pekerjaan di sektor pertanian. Menurutnya, perkembangan teknologi justru membuka peluang kerja baru sebagai operator, teknisi, maupun tenaga perawatan alat pertanian.

1785517338444

“Yang berubah adalah jenis pekerjaannya. Kalau dulu lebih banyak tenaga manual, sekarang dibutuhkan operator dan teknisi yang memiliki keterampilan mengoperasikan serta merawat mesin pertanian,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Mulyadi menyebut kegiatan tanam perdana padi organik di Desa Lombok Kulon menjadi bentuk pengakuan pemerintah pusat terhadap keberhasilan Bondowoso dalam mengembangkan pertanian organik.

Menurutnya, dukungan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi bukti bahwa pertanian organik Bondowoso memiliki prospek besar untuk terus berkembang.

Hingga 2026, luas lahan pertanian organik di Bondowoso bertambah sekitar 40 hektare, dengan pusat pengembangan berada di Desa Lombok Kulon. Selain itu, kawasan pertanian organik juga telah berkembang di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, dan Desa Gadingsari, Kecamatan Maesan.

Tidak hanya berkembang dari sisi luasan lahan, kualitas beras organik Bondowoso juga semakin diakui pasar. Mulyadi mengungkapkan, Gapoktan Al Barokah di Desa Lombok Kulon kini telah mampu mengirimkan beras organik ke sejumlah daerah di luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan dan Papua.

“Ini menunjukkan beras organik Bondowoso telah mendapat kepercayaan masyarakat. Kualitasnya mampu bersaing sehingga permintaan terus meningkat,” ungkapnya.

Ia berharap sinergi antara mekanisasi pertanian, inovasi teknologi, dan pengembangan pertanian organik mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Bondowoso.

Dengan kombinasi penggunaan alsintan modern dan sistem budidaya organik berbasis inovasi, Bondowoso dinilai semakin siap menjadi salah satu model pertanian modern dan berkelanjutan di Indonesia.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521