Beranda Lensa Nusantara Bondowoso Jadi Laboratorium Pertanian Modern, UMM dan Kemdiktisaintek Dorong Regenerasi Petani Berbasis...

Bondowoso Jadi Laboratorium Pertanian Modern, UMM dan Kemdiktisaintek Dorong Regenerasi Petani Berbasis Inovasi

1784696982808

Bondowoso – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya menjadikan Kabupaten Bondowoso sebagai salah satu model pengembangan pertanian modern berbasis riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen itu mengemuka dalam kegiatan tanam perdana padi organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Senin (20/7/2026).

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik mengatakan keberhasilan Desa Lombok Kulon mengembangkan pertanian organik tidak lepas dari peran pemerintah desa yang selama ini konsisten mendampingi masyarakat serta membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Lombok Kulon yang dinilai telah memberikan kontribusi positif dalam membangun ekosistem inovasi pertanian bersama UMM.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, Prof. Nazaruddin mengingatkan Indonesia masih menghadapi persoalan serius berupa ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja (skill mismatch). Kondisi itu, menurutnya, menyebabkan banyak lulusan memilih meninggalkan desa dan sektor pertanian.

“Kita ingin anak-anak kita tetap tumbuh di desanya, mencintai pertanian, dan menjadikan sektor ini sebagai sumber kehidupan yang membanggakan. Bayangkan jika pertanian dikelola oleh generasi muda yang lebih terdidik, produktivitas dan kesejahteraan petani tentu akan meningkat,” ujarnya,Senin ,20/07/2026.

Ia menilai stigma bahwa menjadi petani bukan profesi yang menjanjikan harus diubah. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan inovasi sekaligus membangun kebanggaan generasi muda terhadap sektor pertanian.

Menurutnya, kearifan lokal harus dipadukan dengan ilmu pengetahuan sehingga santri, pelajar, hingga mahasiswa dapat melihat bahwa pertanian merupakan sektor yang mampu menghadirkan kesejahteraan dan masa depan yang cerah.

Selain persoalan kesenjangan keterampilan, Prof. Nazaruddin juga menyoroti lamanya masa tunggu kerja lulusan perguruan tinggi yang masih mencapai sekitar satu tahun delapan bulan.

Karena itu, penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, termasuk pertanian, menjadi solusi strategis untuk membuka lapangan kerja di daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia yang diwakili Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., menyampaikan permohonan maaf karena Wakil Menteri tidak dapat hadir akibat tugas kenegaraan di Jakarta.

Ia menegaskan kehadirannya di Bondowoso membawa amanat langsung dari kementerian untuk memastikan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat benar-benar berjalan dalam membangun ekosistem inovasi.

“Kehadiran kami bukan sekadar menghadiri seremoni tanam perdana atau pelepasan beras organik. Apa yang dilakukan di Bondowoso merupakan jawaban nyata terhadap tantangan kedaulatan pangan nasional,” tegasnya.

1785517338444

Menurut Prof. Yudi, Desa Lombok Kulon telah membuktikan bahwa hasil riset perguruan tinggi mampu diterapkan secara nyata. Beras organik yang diproduksi bahkan telah dipasarkan hingga Kalimantan dan Papua, menjadi bukti bahwa inovasi mampu meningkatkan daya saing produk pertanian daerah.

Ia menekankan bahwa sains tidak boleh hanya berhenti di laboratorium ataupun jurnal ilmiah. Di Bondowoso, kata dia, ilmu pengetahuan telah berubah menjadi teknologi yang langsung dimanfaatkan petani melalui pupuk organik, peningkatan produktivitas, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

“Di sini sains benar-benar membumi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Prof. Yudi mengungkapkan, produktivitas rata-rata padi nasional saat ini sekitar 5,2 ton per hektare, sedangkan lahan pertanian organik yang dikembangkan Gapoktan Al Barokah di Desa Lombok Kulon mampu menghasilkan sekitar 6,5 ton per hektare.

Peningkatan satu hingga dua ton per hektare tersebut menjadi bukti konkret bahwa intervensi teknologi mampu meningkatkan hasil panen sekaligus pendapatan petani.

Untuk memperluas keberhasilan tersebut, Kemdiktisaintek meluncurkan platform pendanaan terintegrasi SEMESTA (Sinergi Masyarakat, Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara) pada 2026 dengan total anggaran hampir Rp250 miliar.

Dana tersebut dialokasikan melalui sejumlah program strategis, di antaranya Berdikari sebesar Rp150 miliar, Lestari sebesar Rp57,5 miliar, serta Saintek Nusantara sebesar Rp35 miliar.

Pendanaan itu diperkuat berbagai program pendukung guna mempercepat hilirisasi hasil riset dan pemanfaatan teknologi di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Prof. Yudi juga memberikan apresiasi kepada UMM yang dinilai konsisten menghasilkan riset berdampak bagi masyarakat. Tahun ini, UMM berhasil memperoleh pendanaan hampir Rp1 miliar melalui Program Bestari Saintek sebagai bentuk kepercayaan pemerintah terhadap kualitas inovasi yang dihasilkan kampus tersebut.

Ia menambahkan, mulai September 2026 kementerian akan membuka kembali penerimaan proposal Program Berdikari dan Saintek Nusantara. Program tersebut diharapkan menjadi peluang bagi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan UMM untuk memperkuat kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pertanian melalui inovasi, teknologi, serta kebijakan yang berbasis kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan petani diyakini akan menjadi fondasi kuat bagi Bondowoso untuk tampil sebagai model pertanian modern berkelanjutan sekaligus pusat inovasi pangan nasional.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521