page contents
25 Januari 2020
tapalkudapost.com
Featured Kesehatan Politik & Pemerintahan

3 Masalah Krusial Bidang Kesehatan yang Harus Diprioritaskan di Bondowoso

Bondowoso –  Wakil Bupati Bondowoso H.Irwan Bachtiar Rahmat menyampaikan bahwa ada 3 masalah krusial dibindang kesehatan yang harus di Prioritaskan , pasalnya Bondowoso ,masuk diurutan 38 di Jawa Timur tentang jambanisasi.Tiga maslah tersebut diantaranya adalah ODF (Open Defecation Free) atau bebas dari BAB sembarangan.Kemudian masalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi serta Stunting.  

 “Kita harus bisa merubah prilaku kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan, sudah dibuatkan jamban tapi tidak dipakai, mungkin alasan mereka karena lebih enak disungai , jadi ini butuh kerjasama ,memberikan masukan pada masyarakat agar tidak BAB Sembarangan,” jelasnya saat menghadiri Rapat Koordinasi dan Pemaparan program/kegiatan di Dinas Kesehatan Bondowoso,Jawa Timur, Senin 15/04/2019.

Wabup mengaku bahwa sebenarnya sebelum pembangunan jamban sudah dilakukan sosialisasi , namun kembali kepada prilaku yang memang harus segera dirubah , msyarakat diharapkan benar-benar menerapkan prilaku hidup sehat.

“Ada sebanyak 190 desa di Bondowoso masih buang air besar (BAB) sembarangan. Tak heran, jika masuk diurutan ke 38 dari kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur,tentang jambanisasi,untuk itu Dinkes harus bisa bekerjasama dengan Dinas Perkim dalam hal jambanisasi ini,’ ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso ,H.M.Imron mengatakan bahwa baru ada 18 desa yang masuk kategori desa ODF (Open Defecation Free) atau bebas dari BAB sembarangan.

Rinciannya, 11 desa di tujuh kecamatan telah dideklarasikan sebagai Desa ODF pada rentan tahun 2008 -2016. Sementara delapan desa dideklarasikan pada tahun 2017 lalu,  Desa dan kelurahan dimaksud di antaranya, desa Gebang, Sekarputih, Purnama, Karang Anyar, Karang Melok, Kademangan, Tamansari, serta Banyuputih.

“Untuk memberikan jamban ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya karena akses air bersihnya tersedia yang didukung dengan kesiapan serta keperdulian masyarakat terhadap pemanfaatan dan keberlangsungan dari jamban yang telah dibangun,kalau dibagun tidak digunakan kan percuma ,” tegasnya.

“Ada jamban yang di keluarga (1 KK 1 jamban), ada juga yang sifatnya komunal seperti WC umum. Kalau yang WC umum inilah yang ada kendala-kendala seperti habis pakek nggak dibersihkan,dan biaya lebih besar , jika 1 KK 1 Jamban , ini biayanya dengan 750 ribu untuk beli bahan, untuk pengarapanya bisa gotong royong, dan kebersihanya lebih terjaga,” paparnya.

Yang lebih penting lagi kata Imron sepertyi yang diharapkan Bupati dan wakil bupati, bahwa masyarakat yang memperoleh bantuan jamban ini bisa digunakan.

IklanPost

Related posts

14 Kelompok Tani Terima Bantuan Secara Simbolis Alsitan dari Kementerian Pertanian

Tapalkudapost

Beredar Pesan Singkat Aksi 22 Mei ini Tanggapan Ketua PC PMII Jember

Tapalkudapost

Pemerintah Akan Bangun Jalan Tol Bawah Tanah 6 KM di Situbondo

Tapalkudapost