Bondowoso – Kabupaten Bondowoso kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah pengembang pertanian organik di Jawa Timur. Hal itu ditandai dengan tanam perdana padi organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Senin (20/7/2026), yang dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso,Sekda, akademisi, dan para petani.
Hadir dalam giat tersebut Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi. Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si.; dan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Wamendiktisaintek diwakili Direktur Desiminasi dan pemanfaatan sains dna teknologi Ditjend Saintek Kemendiktisaintek.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penerapan inovasi pertanian berbasis mikroorganisme yang dikembangkan Prof. Indah Prihartini, akademisi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagai upaya memperkuat sistem pertanian organik yang produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Di hadapan Forkopimda Bondowoso, Prof. Indah memaparkan inovasi yang memanfaatkan Lysinibacillus sp., mikroorganisme yang berpotensi dikembangkan sebagai probiotik tanaman. Melalui pendekatan bio-nano sintesis, mikroorganisme tersebut mampu meningkatkan kesehatan tanaman, memperkuat ketahanan terhadap serangan penyakit, serta mengoptimalkan pertumbuhan padi secara alami.
Menurutnya, pemanfaatan mikroorganisme menjadi salah satu solusi strategis dalam menjawab tantangan pertanian modern yang selama ini masih bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.
“Pemanfaatan mikroorganisme sebagai probiotik tanaman merupakan langkah strategis untuk membangun sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan,” ujar Prof. Indah.
Ia menegaskan, hasil riset perguruan tinggi tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus diterapkan di lapangan agar memberikan manfaat nyata bagi petani. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan kelompok tani diyakini mampu melahirkan model pertanian organik yang lebih efisien, produktif, dan berdaya saing.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso, Mulyadi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bukti pengakuan pemerintah pusat terhadap konsistensi Bondowoso dalam mengembangkan pertanian organik.
Menurutnya, dukungan dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi semakin memperkuat posisi Bondowoso sebagai salah satu sentra beras organik nasional.
“Pertanian organik di Bondowoso hingga saat ini tetap eksis. Pada tahun 2026 bahkan dilakukan pengembangan lahan sekitar 40 hektare. Hari ini kami juga telah mengirimkan beras organik ke sejumlah daerah, di antaranya Kalimantan dan Papua. Ini menjadi bukti bahwa kualitas beras organik Bondowoso telah mendapat kepercayaan pasar,” kata Mulyadi.
Ia menjelaskan, pengembangan lahan organik seluas 40 hektare dipusatkan di Desa Lombok Kulon. Sementara kawasan pertanian organik kini telah berkembang di tiga desa pada tiga kecamatan, yakni Desa Lombok Kulon di Kecamatan Wonosari, Desa Sulek di Kecamatan Tlogosari, dan Desa Gadingsari di Kecamatan Maesan.
Seluruh kawasan tersebut dikelola oleh kelompok tani, termasuk Gapoktan Al Barokah di Desa Lombok Kulon yang selama ini dikenal sebagai produsen beras organik berkualitas dan telah mampu menembus pasar antarpulau.
Melalui penerapan inovasi berbasis mikroorganisme dan perluasan kawasan pertanian organik, Bondowoso diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai daerah penghasil pangan sehat sekaligus menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Perbedaan dengan padi organik sebelumnya ,saat ini kata Mulyadi menanam langsung dari biji padinya sementara yang sebelumnya ,menanam dari bibit padinya.
Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan petani dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.














