Oleh: Fricas Abdillah
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Upacara digelar, spanduk dipasang, pidato kebangsaan disampaikan, dan pesan persatuan kembali dikumandangkan. Namun, setelah seremoni berakhir, sebuah pertanyaan penting patut diajukan: sejauh mana semangat Sumpah Pemuda benar-benar hadir dalam kehidupan kita hari ini?
Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan peringatan sejarah. Sebaliknya, ini merupakan upaya mengembalikan Sumpah Pemuda pada makna substantifnya. Sebab, sebuah peristiwa sejarah tidak cukup dihormati dengan upacara. Ia harus dihidupkan melalui sikap, keputusan, dan tindakan nyata.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Mereka melampaui sekat kedaerahan, perbedaan identitas, dan kepentingan kelompok demi cita-cita yang lebih besar: Indonesia yang merdeka.
Sumpah Pemuda bukan sekadar deklarasi kebangsaan. Ia adalah keberanian untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
Di sinilah persoalan kita hari ini bermula. Kita masih menghafal ikrarnya, tetapi belum tentu menjalankan semangatnya.
Persatuan yang Berhenti sebagai Slogan
Persatuan merupakan kata yang paling mudah diucapkan dalam pidato, tetapi bisa menjadi nilai yang paling sulit diwujudkan dalam praktik kehidupan berbangsa.
Perbedaan pandangan politik kerap berkembang menjadi permusuhan. Identitas kelompok terkadang dijadikan alat untuk membangun dukungan sekaligus menyingkirkan pihak lain. Ruang publik pun tidak jarang dipenuhi pertentangan yang lebih mengutamakan pembelaan terhadap kelompok daripada perdebatan mengenai gagasan dan kepentingan masyarakat.
Padahal, persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru menuntut kedewasaan untuk menerima perbedaan tanpa kehilangan komitmen terhadap kepentingan bersama.
Kritik bukan ancaman bagi persatuan. Perbedaan pendapat bukan penghalang bagi kebangsaan. Sebaliknya, kritik yang bertanggung jawab dan dialog yang terbuka merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis.
Persatuan menjadi kehilangan makna ketika hanya dijadikan slogan untuk meredam kritik, sementara ketidakadilan dibiarkan berlangsung.
Jika kita sungguh-sungguh ingin mewarisi semangat 1928, kita harus berani mengakui bahwa persatuan tidak cukup dibangun melalui simbol. Persatuan harus ditopang oleh keadilan, kepercayaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.
Pemuda Subjek Perubahan atau Sekadar Pelengkap Seremoni?
Persoalan berikutnya adalah bagaimana kita menempatkan pemuda dalam kehidupan sosial, politik, dan pemerintahan.
Pemuda sering disebut sebagai generasi penerus bangsa, agen perubahan, dan pemilik masa depan. Sebutan itu terdengar membanggakan. Namun, penghargaan terhadap pemuda seharusnya tidak berhenti pada pujian dalam pidato peringatan.
Apakah pemuda benar-benar diberi ruang untuk menyampaikan gagasan? Apakah kritik mereka didengar? Apakah mereka dilibatkan dalam perumusan kebijakan? Ataukah mereka baru dianggap penting ketika dibutuhkan untuk memeriahkan acara, menggerakkan massa, dan memperkuat kepentingan politik tertentu?
Pertanyaan tersebut layak menjadi bahan evaluasi bersama.
Pemuda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek program, apalagi sekadar pelengkap agenda seremonial. Mereka harus diperlakukan sebagai subjek yang memiliki kapasitas berpikir, keberanian moral, dan kemampuan berkontribusi terhadap pembangunan.
Namun, tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak pemerintah atau lembaga kepemudaan. Generasi muda sendiri harus berani keluar dari zona nyaman, meningkatkan kapasitas intelektual, memperkuat integritas, dan membangun kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Pemuda yang hanya bangga dengan sejarah tanpa berani menghadapi persoalan zamannya berisiko menjadikan sejarah sebagai romantisme belaka.
Semangat Sumpah Pemuda menuntut lebih dari sekadar kebanggaan. Ia menuntut tindakan.
Ketika Idealisme Berhadapan dengan Kepentingan Politik
Dalam kehidupan demokrasi, pemuda memiliki posisi strategis. Mereka dapat menjadi kekuatan moral yang mengawasi kekuasaan, menawarkan gagasan alternatif, dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat.
Namun, potensi tersebut dapat melemah ketika energi kepemudaan lebih banyak terserap ke dalam pertarungan kepentingan jangka pendek.
Politik pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dijauhi oleh pemuda. Politik justru menjadi salah satu ruang penting untuk memperjuangkan perubahan. Persoalannya adalah apakah keterlibatan politik dibangun berdasarkan gagasan, integritas, dan keberpihakan kepada masyarakat, atau sekadar mengikuti kepentingan tokoh dan kelompok.
Ketika pemuda kehilangan independensi berpikir, organisasi berisiko berubah menjadi kendaraan kepentingan. Ketika kritik dibungkam demi menjaga kedekatan dengan kekuasaan, idealisme kehilangan daya hidupnya.
Karena itu, pemuda perlu memahami bahwa keberanian politik tidak selalu berarti berada di pihak yang berkuasa. Terkadang, keberanian justru terlihat ketika seseorang bersedia menyampaikan kritik yang beralasan, meskipun kritik itu tidak populer di lingkungannya sendiri.
Semangat Sumpah Pemuda seharusnya melahirkan generasi yang mampu berdiri di atas kepentingan bersama, bukan generasi yang mudah terpecah oleh perebutan pengaruh.
Menghidupkan Sumpah Pemuda di Bondowoso
Dalam konteks Bondowoso, peringatan Hari Sumpah Pemuda semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana generasi muda mendapatkan kesempatan yang nyata dalam pembangunan daerah.
Pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan atau kegiatan yang diselenggarakan. Kita juga perlu melihat apakah pembangunan tersebut membuka kesempatan yang adil bagi pemuda untuk belajar, bekerja, berinovasi, mengembangkan usaha, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil perlu membangun hubungan yang lebih substantif dengan generasi muda.
Pemuda harus memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai persoalan pendidikan, kesempatan kerja, pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, hingga pengawasan kebijakan publik.
Mereka juga perlu mendapatkan akses yang luas terhadap peningkatan keterampilan, pendampingan usaha, pengembangan kreativitas, serta ruang partisipasi yang tidak diskriminatif.
Penting pula untuk memastikan bahwa kesempatan tersebut tidak hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan atau jaringan tertentu. Potensi pemuda tersebar di berbagai desa, komunitas, latar belakang pendidikan, dan kondisi sosial.
Jika pembangunan kepemudaan hanya berputar di lingkungan yang sama, kita berisiko kehilangan banyak potensi yang sebenarnya dapat menjadi kekuatan bagi kemajuan Bondowoso.
Semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang membuka kesempatan, bukan sekadar pernyataan yang membangkitkan kebanggaan sesaat.
Mengukur Peringatan dari Perubahan Nyata
Ukuran keberhasilan peringatan Sumpah Pemuda bukanlah kemeriahan panggung, panjangnya pidato, atau banyaknya unggahan di media sosial.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang dihasilkan setelah peringatan itu berlalu.
Apakah pemuda semakin kritis dan bertanggung jawab? Apakah organisasi kepemudaan semakin mandiri? Apakah pemerintah semakin terbuka terhadap partisipasi generasi muda? Apakah ruang demokrasi semakin sehat? Apakah kesempatan untuk berkembang semakin adil?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab melalui evaluasi yang terbuka, bukan sekadar klaim keberhasilan.
Kita membutuhkan keberanian untuk mengubah peringatan menjadi agenda kerja yang berkelanjutan. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan karakter serta nalar kritis. Organisasi kepemudaan perlu membangun tradisi intelektual dan independensi. Pemerintah perlu menyediakan ruang partisipasi yang bermakna. Sementara itu, pemuda harus membuktikan bahwa kebebasan dan kesempatan yang mereka miliki dapat digunakan untuk menghasilkan perubahan positif.
Sumpah Pemuda harus menjadi energi yang bekerja sepanjang tahun, bukan semangat yang muncul sehari lalu menghilang selama sebelas bulan berikutnya.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Maknanya
Sumpah Pemuda merupakan bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai ketika generasi muda memiliki keberanian untuk melampaui perbedaan dan membangun cita-cita bersama.
Tantangan zaman memang telah berubah. Generasi 1928 menghadapi kolonialisme, sedangkan generasi hari ini menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari ketimpangan kesempatan, tantangan ekonomi, kualitas demokrasi, hingga derasnya arus informasi yang menuntut kecerdasan dan tanggung jawab.
Namun, satu hal tetap sama: bangsa ini membutuhkan generasi muda yang berani berpikir, menjaga integritas, dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk bercermin. Kita perlu menguji apakah persatuan yang kita ucapkan telah hadir dalam tindakan, apakah penghormatan kepada pemuda telah diwujudkan dalam kebijakan, dan apakah idealisme masih memiliki tempat di tengah kuatnya kepentingan politik.
Jangan sampai kita begitu fasih mengucapkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tetapi masih membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Jangan sampai pemuda terus disebut sebagai harapan bangsa, tetapi kesempatan untuk menentukan masa depannya justru dibatasi.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita masih mengingat Sumpah Pemuda. Persoalannya adalah apakah kita masih bersedia menjalankan nilai-nilai yang melahirkannya.
Kita boleh memperingati Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Namun, kita tidak boleh membiarkan semangatnya hidup hanya dalam upacara, sementara dalam kehidupan nyata persatuan dikalahkan oleh kepentingan, idealisme ditukar dengan pragmatisme, dan pemuda kehilangan ruang untuk menentukan arah perubahan.
Sebab, Sumpah Pemuda tidak membutuhkan lebih banyak seremoni untuk tetap dikenang. Ia membutuhkan keberanian untuk diwujudkan.











