Bondowoso – Setiap Goresan Batik Bondowoso Gambarkan Identitas Daerah,Industri Kreatif ,Tampil Memukau di Fashion Show Fesmuh 1448 H
Betapa tidak fropimda turut serta memeriahkan Fashion Show festival Muharram 1448 H di depan pendopo Raden Bagus Asra , Sabtu,20/06/2026 sore.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Bondowoso KH .Abdul Hamid bersama istri menggunakan baju warna hijau army dengan nuansa batik Bondowoso , Sementara Sekda bersama istri menggunakan batik biru langit kombinasi warna putih.
Selain Forpimda yang melenggang di catwalk, Kepala OPD , Kabag dan Camat SE Kabupaten Bondowoso turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Untuk diketahui Batik Bondowoso menampilkan corak unik yang menggambarkan tentang kearifan lokal.
Selain Kopi yang jadi produk unggulan Bondowoso. Kain batik tak bisa dianggap sebelah mata. Batik Bondowoso kini terus memasarkan produk dengan ciri khas motif andalan.
Ciri khas motif yang menggambarkan identitas daerah. Dari daun singkong, kopi, hingga topeng kona dan singo ulung.
Setiap goresan batik menjadi media untuk memperkenalkan budaya Bondowoso ke nusantara bahkan ke mancanegara.
Para pengrajin Barik di Bondowoso konsisten mengangkat kearifan lokal dalam setiap karya.
Pantauan dilokasi bahwa setiap motif memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat Bondowoso.
Seperti daun singkong dipilih karena Bondowoso dikenal sebagai kota tape.
Sementara motif kopi merepresentasikan julukan Bondowoso sebagai Republik Kopi.
Selain itu motif Singkong Songo dengan tujuh dan sembilan jari daun singkong.
Pemasaran batik Bondowoso sudah menjangkau berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari Banyuwangi, Probolinggo, Bali, hingga luar pulau Jawa.
tanpa terkecuali ada turis asing yang datang ke berbagai sanggar di bumi Kironggo hanya untuk belajar membatik.
Kendati demikian tantangan terbesar pemasaran batik adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap batik asli.
Banyak yang menganggap kain printing sebagai batik, padahal UNESCO hanya mengakui batik dengan proses melanisasi menggunakan lilin (malam) dan canting.
Pemkab Bondowoso telah memberikan dukungan kepada para pengrajin batik.
Dengan edukasi lebih luas
Bupati Bondowosopun berkomitmen terus memperluas pemasaran dengan strategi offline maupun online, serta bekerja sama dengan komunitas dan instansi yang peduli budaya.
“Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dapat dijadikan pijakan strategis untuk membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan warisan budaya leluhur mampu berjalan seiring dengan perkembangan industri kreatif modern,” jelasnya.
Perpaduan antara busana muslim dan motif batik khas Bondowoso menjadi simbol harmonisasi antara identitas religius dan budaya lokal dalam membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan bermartabat.
Selain aspek pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor industri kreatif.
Hal itu sejalan dengan misi ke-4 Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang menempatkan industri kreatif sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah














