Beranda Lensa Nusantara Rokatan Tradisi Mengakar di Banyuputih

Rokatan Tradisi Mengakar di Banyuputih

Bondowoso –  Tradisi rokatan/ruwatan pada masyarakat yang berada di Desa Banyuputih Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso , yang masih tetap ada dan mengakar diwilayah tersebut.Betapa tidak walaupun perkembangan zaman yang begitu pesat. Di era keterbukaan ini, tak hilang termakan oleh usia, tetapi malah menjadi budaya yang mengakar di masyarakat Banyuputih. Meski tak mudah membuat batasan atau definisi yang memuaskan dan dapat diterima oleh semua pihak itu tradisi atau budaya.

Definisi yang begitu banyak itu merupakan pertanda betapa luasnya aspek yang terkandung dalam pengertian “kebudayaan” itu, yang memang meliputi aspek kehidupan manusia melalui cipta, rasa dan karsanya.

Loading...

Al kisah, jika Batara Kala tidak lahir dan tidak dituding sebagai biang keladi segala kerusakan insani, maka ruwatan tidak akan menjadi bahan pembicaraan berkepanjangan. Meskipun cerita Muwakala hanya berdasarkan pada tradisi lisan dan mitos masyarakat Jawa lama, kenyataannya upacara ruwatan masih berlangsung sampai sekarang sebagai sebuah pertunjukan.

Di Desa Banyuputih rokatan seakan menjadi adat istiadat atu kebiasaan yang turun temurun dilakukan sebagai warisan dari para leluhur.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan rokatan tersebut dilakukan bila Ontang-anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan ,Selain itu Uger-uger lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal

Kemudian Sendang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang kedua perempuan dan Pancuran kapit sendhang, yaitu 3 orang anak yang sulung dan yang bungu perempuan sedang anak yang kedua laki-laki.

Ada pula Anak bungkus, yaitu anak yang ketiga lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta) dan Anak kembar, yaitu 2 orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan)

Istilah menarik lainnya yaitu Kembang sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.Kendhana-kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki,Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

Ada pula Mancalaputra atau pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki,Mancalaputri, yaitu 5 orang anak semuanya perempuan

Begitu pula denganPipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempua dan 1 orang anak laki-laki.Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan

Julung pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam dan Julung wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari

Julung sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang  serta Tiba ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal dan empina, yaitu anak yang baru berusia 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

Selain itu ada Tiba sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus ,Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan dan Wahana, yaitu anak yang lahir di halaman / pekarangan rumah serta  Siwah / salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa jika tidak dilakukan rokatan akan mendapat bala bencana.

Ritual rokatan ditampilkan dalam pencanangan desa budaya oleh Sekda Bondowoso H.Syaifullah.Ribuan pasang mata menyaksikan pertunjukan tersebut hingga usai,Jum’at 9/8/2019.

Syaifullah sangat mengapresiasi acara tersebut bahkan pihaknya menyampaikan keinginanya untuk mengajak masyarakat Bondowoso menjaga agar budaya yang ada tidak sampai punah.

“Ini bagus sekali, budaya jangan sampai punah, saya berharap nanti bisa ditampilkan dalam perayaan 1 Muharram karena kental dengan nuansa islami,” pungkasnya.