BONDOWOSO — Pelaksanaan Bondowoso Digital Day 2026 di Alun-Alun Bondowoso menuai tanggapan beragam dari masyarakat. Pertunjukan DJ dan penampilan penari yang menjadi bagian dari rangkaian acara tersebut memicu pro dan kontra, terutama terkait kesesuaiannya dengan karakter religius dan budaya masyarakat Bondowoso.
Sebagian warga menilai konsep hiburan dalam acara yang melibatkan pemerintah daerah itu perlu dikaji lebih mendalam agar selaras dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan religius yang selama ini menjadi identitas masyarakat Bondowoso.
Di sisi lain, Bondowoso Digital Day 2026 juga dirancang sebagai ruang promosi dan penguatan sektor ekonomi kreatif serta UMKM. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk dan memperluas pasar.
Namun, konsep hiburan yang ditampilkan dalam acara itu kemudian menjadi sorotan publik. Kritik warga berkembang di ruang publik dan media sosial. Perdebatan pun mengemuka: sejauh mana sebuah kegiatan pemerintah daerah dapat menghadirkan hiburan modern tanpa mengabaikan karakter dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Menanggapi polemik tersebut, Bupati Bondowoso menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat.
Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah telah memberikan teguran kepada penanggung jawab acara dan meminta dilakukan evaluasi secara mendasar.
“Saya sangat mencermati dan memahami aspirasi yang disampaikan masyarakat. Kita akan melakukan evaluasi mendasar terkait standar kepatutan dalam acara yang dilakukan oleh pemerintah daerah,” ujar Bupati,Senin ,27/07/2026
Ia juga menegaskan bahwa evaluasi diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada kegiatan pemerintah daerah di masa mendatang.
“Kita berharap kita tidak kecolongan lagi di masa yang akan datang,” tegasnya.
Menurutnya, kritik yang disampaikan masyarakat merupakan bagian penting dari kontrol publik terhadap penyelenggaraan kegiatan pemerintah. Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan setiap acara yang digelar tidak hanya memiliki nilai hiburan dan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kepatutan serta karakter masyarakat setempat.
“Saya selaku pimpinan menyatakan permohonan maaf atas kejadian ini,” ungkapnya.
Polemik Bondowoso Digital Day 2026 pada akhirnya menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah. Di satu sisi, inovasi, digitalisasi, ekonomi kreatif, dan penguatan UMKM perlu terus didorong. Namun, di sisi lain, konsep acara dan hiburan yang disajikan tetap harus melalui perencanaan serta penyaringan yang matang.
Kegiatan pemerintah bukan semata-mata panggung hiburan. Setiap konsep yang ditampilkan membawa representasi pemerintah dan daerah. Karena itu, keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari kemeriahan dan jumlah penonton, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu berjalan seiring dengan nilai, budaya, dan harapan masyarakat yang dilayaninya.
Evaluasi yang dijanjikan pemerintah daerah kini menjadi sorotan berikutnya. Masyarakat tentu berharap polemik ini tidak berhenti pada permintaan maaf, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki standar perencanaan, pengawasan, dan kepatutan dalam setiap kegiatan pemerintah di masa mendatang.














