Bondowoso – Kabupaten Bondowoso terus memperkuat komitmennya dalam melestarikan budaya lokal melalui program Desa Budaya. Hingga Juli 2026, pemerintah daerah telah menetapkan sembilan desa budaya yang masing-masing memiliki karakter, tradisi, serta kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakatnya.
Keberadaan desa budaya tidak hanya menjadi upaya pelestarian warisan leluhur, tetapi juga diharapkan mampu mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya, meningkatkan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Bondowoso sebagai bagian dari kawasan Ijen UNESCO Global Geopark.
Berikut sembilan desa budaya di Kabupaten Bondowoso beserta kekhasannya.
1. Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan
Desa Prajekan Lor menjadi salah satu desa budaya pertama di Bondowoso setelah ditetapkan pada 2018. Desa yang berada sekitar 24 kilometer di timur laut pusat kota Bondowoso ini dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Madura.
Tradisi unggulannya adalah Ronjhangan, yakni permainan musik menggunakan lesung penumbuk padi yang menghasilkan irama khas. Selain itu, masyarakat juga rutin menggelar Festival Sa’langseng, yang menampilkan lagu-lagu Madura, tari tradisional, pencak silat, hingga pemberian penghargaan kepada para pelestari budaya.
Desa ini juga memiliki nilai sejarah melalui keberadaan Cagar Budaya Eks Kawedanan Prajekan dan Sumur Majapahit, yang menjadi saksi perjalanan sejarah kawasan tersebut.
2. Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin
Dicanangkan sebagai Desa Budaya pada Agustus 2019, Desa Banyuputih dikenal karena tradisi Ajegeh Khobur, yaitu budaya menjaga makam leluhur yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.
Selain itu, masyarakat juga terus melestarikan kesenian musik ketipung, yang kerap mengiringi berbagai kegiatan adat.
Di tengah dominasi mata pencaharian sebagai petani tembakau, singkong, dan sengon, masyarakat tetap menjaga budaya sebagai bagian penting kehidupan sehari-hari.
3. Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee
Ramban Kulon dikenal sebagai desa budaya yang mempertahankan tradisi Gugur Gunung, sebuah budaya gotong royong dan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi.
Dalam tradisi tersebut, warga membawa berbagai hasil pertanian menuju pelataran masjid untuk didoakan bersama oleh tokoh masyarakat. Setelah itu seluruh warga menikmati hidangan secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Keunikan tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan budaya gotong royong masyarakat Bondowoso.
4. Desa Blimbing, Kecamatan Klabang
Desa Blimbing merupakan salah satu desa budaya yang kaya akan tradisi dan kesenian.
Desa ini terkenal dengan ritual Kadisah atau Ghedisah, yakni tradisi bersih desa yang telah berlangsung selama ratusan tahun sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi tersebut dilengkapi dengan Rokat Debuan, yaitu ritual selamatan sumber mata air yang diyakini sebagai peninggalan leluhur.
Blimbing juga menjadi pusat berbagai kesenian tradisional seperti Topeng Kona, Singo Ulung, Ojhung, dan Macapat, serta dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah legenda Mbah Singo Ulung atau Juk Seng.
5. Desa Sukosari Kidul, Kecamatan Sumberwringin
Desa Sukosari Kidul dikenal sebagai desa yang aktif menjaga seni tradisional, terutama Tari Jaran Kencak dan Macapat.
Selain kekayaan budaya, desa ini juga memiliki potensi wisata melalui Tirta Agung, yang menjadi salah satu destinasi rekreasi masyarakat.
Perpaduan antara seni tradisi dan wisata alam menjadi modal penting dalam pengembangan desa berbasis budaya.
6. Desa Karang Melok, Kecamatan Tamanan
Desa Karang Melok resmi dikukuhkan sebagai Desa Budaya pada 28 Juli 2023. Tradisi utamanya adalah Rokat Desa, yakni pesta rakyat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat persatuan masyarakat.
Masyarakat juga aktif merawat berbagai pusaka peninggalan leluhur, seperti keris dan koleksi barang antik yang dimanfaatkan sebagai media edukasi sejarah bagi generasi muda.
Untuk menjaga eksistensi budaya, desa ini secara rutin menggelar karnaval budaya yang menampilkan beragam kesenian tradisional.
7. Desa Klabang, Kecamatan Tegalampel
Desa Klabang ditetapkan sebagai Desa Budaya pada 30 Juni 2024 dengan ikon budaya Totta’an Dara, yakni tradisi pelepasan burung merpati yang melambangkan harapan, kedamaian, dan persatuan.
Peresmian desa budaya ditandai dengan pelepasan seribu burung merpati oleh Penjabat Bupati Bondowoso saat itu.
Selain Totta’an Dara, desa ini juga memiliki potensi seni tradisional seperti Ojhung dan Singo Ulung yang terus dilestarikan sebagai daya tarik wisata budaya.
8. Desa Sukosari Lor , Kecamatan Sukosari
Pada Juli 2025, Desa Sumberwringin resmi menjadi Desa Budaya Bumi Raung. Tradisi utamanya adalah Nyontheng Kolbuk, yaitu ritual selamatan sumber mata air yang dilaksanakan setiap bulan Suro atau Muharam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga kelestarian sumber air.
Prosesi budaya tersebut dilengkapi arak-arakan gunungan, doa bersama, serta pemercikan air suci.
Keunggulan desa ini semakin lengkap dengan keberadaan jalur pendakian Gunung Raung, Teduh Glamping, dan kopi khas pegunungan yang menjadi daya tarik wisata berbasis alam dan budaya.
9. Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang
Desa Karanganyar resmi ditetapkan sebagai Desa Budaya ke-9 Kabupaten Bondowoso pada 30 Juli 2026 oleh Bupati Bondowoso, KH. Abdul Hamid Wahid.
Kekuatan utama desa ini terletak pada Tradisi Pojhien, yakni tradisi puji-pujian atau doa yang diwariskan secara turun-temurun dan masih hidup dalam kehidupan masyarakat hingga kini.
Penetapan Karanganyar sebagai desa budaya diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi Pojhien sebagai warisan budaya takbenda sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Bondowoso.
Program Desa Budaya menjadi salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam menjaga keberagaman budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Dengan kekayaan tradisi yang dimiliki sembilan desa tersebut, Bondowoso semakin menegaskan posisinya sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya dan memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark.














