Bondowoso – Musim liburan 2026 menjadi berkah bagi masyarakat di sekitar jalur pendakian klasik Gunung Raung melalui Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.
Lonjakan jumlah pendaki yang mencapai tiga kali lipat dibandingkan hari biasa tidak hanya memadati jalur pendakian, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Meningkatnya arus wisatawan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha yang dikelola warga.
Mulai dari jasa ojek, pemandu pendakian, penyewaan perlengkapan, penginapan, hingga warung makan ikut menikmati peningkatan pendapatan selama musim liburan.
Camat Sumberwringin, Probo Nugroho, mengatakan peningkatan aktivitas pendakian membawa dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat di sekitar kawasan Gunung Raung.
“Salah satu yang paling merasakan manfaat adalah pengemudi ojek yang mengantar pendaki menuju Pos Pondok Motor. Pada akhir pekan, omzet mereka bahkan bisa mencapai sekitar Rp500 ribu dalam sehari,” ujarnya,Minggu 12/07/2026.
Menurut Probo, sektor pariwisata berbasis alam terbukti mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Kehadiran ribuan wisatawan setiap musim liburan menciptakan peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan warga yang selama ini bergantung pada aktivitas di sekitar kawasan pendakian.
Lonjakan kunjungan terlihat cukup signifikan. Jika pada akhir pekan biasa jumlah pendaki hanya mencapai puluhan orang, selama masa liburan jumlahnya meningkat hingga ratusan orang.
Gunung Raung yang memiliki ketinggian sekitar 3.332 meter di atas permukaan laut (mdpl) memang menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendaki.
Jalur klasik Sumberwringin menawarkan pengalaman pendakian yang khas menuju gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember.
Salah seorang pengurus pengelola pendakian Gunung Raung, Kurniawan, mengatakan para pendaki yang datang tidak hanya berasal dari Bondowoso maupun berbagai daerah di Pulau Jawa, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
“Bahkan yang paling jauh dari dalam negeri ini ada empat orang pendaki dari Papua,” katanya, Jumat (10/7/2026).
Pria yang akrab disapa Cadas itu menjelaskan, pola pendakian wisatawan cukup beragam. Sebagian memilih berkemah untuk menikmati suasana alam pegunungan, sementara sebagian lainnya menggunakan sistem tek-tok, yakni mendaki dan turun pada hari yang sama tanpa bermalam.
Menurutnya, daya tarik utama Gunung Raung adalah panorama matahari terbit serta pemandangan kaldera yang menjadi favorit para pencinta fotografi alam. Selain itu, Gunung Raung juga dikenal sebagai salah satu puncak dalam daftar Seven Summits Pulau Jawa, sehingga menjadi destinasi yang banyak diburu para pendaki.
“Gunung Raung termasuk salah satu Seven Summits di Pulau Jawa,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya jumlah wisatawan, pengelola tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Standar operasional prosedur (SOP) pendakian diperketat, terutama karena semakin banyak pendaki pemula yang mencoba menaklukkan Gunung Raung.
Setiap pendaki diwajibkan mengikuti briefing sebelum keberangkatan, menjalani pemeriksaan kondisi kesehatan, serta melaporkan riwayat penyakit yang dimiliki.
“Ketika briefing, jika ada pendaki yang memiliki riwayat penyakit tertentu, mereka wajib membawa obat-obatan sesuai dengan kebutuhannya,” jelas Kurniawan.
Lonjakan pendaki selama musim liburan ini menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
Dengan pengelolaan yang mengedepankan keselamatan dan kelestarian lingkungan, Gunung Raung berpotensi terus menjadi salah satu destinasi unggulan yang memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi warga Bondowoso.














