Beranda Lensa Nusantara Dua Warisan Budaya Tak Benda dari Bondowoso Kian Mendunia, Singo Ulung dan...

Dua Warisan Budaya Tak Benda dari Bondowoso Kian Mendunia, Singo Ulung dan Ojung Jadi Penjaga Identitas Daerah

1784696982808

Bondowoso, Tapalkudapost.com – Kabupaten Bondowoso kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang kaya akan khazanah budaya di Jawa Timur. Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, sejumlah tradisi leluhur tetap bertahan dan diwariskan lintas generasi. Di antara kekayaan budaya tersebut, dua kesenian khas Bondowoso, yakni Singo Ulung dan Ojung, telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh pemerintah pusat.

Penetapan tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal Bondowoso tidak hanya memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa yang patut dijaga dan dilestarikan.

Jawa Timur sendiri dikenal sebagai provinsi dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satu warisan yang masih hidup hingga saat ini adalah seni tari dan seni pertunjukan tradisional yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kesenian tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pewarisan nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, sejarah, hingga spiritualitas masyarakat pendukungnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menetapkan puluhan seni tari dan pertunjukan tradisional Jawa Timur sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Dari puluhan karya budaya tersebut, Bondowoso menyumbangkan dua warisan budaya yang hingga kini masih lestari dan terus dipromosikan ke tingkat nasional maupun internasional.

Singo Ulung, Legenda yang Menjadi Ikon Budaya Bondowoso

Singo Ulung merupakan salah satu legenda paling populer di Bondowoso. Tokoh ini diyakini pernah menguasai wilayah yang kini menjadi Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, Singo Ulung disebut berasal dari kawasan Mataraman dan memiliki kesaktian luar biasa, termasuk kemampuan berubah wujud menjadi singa atau harimau putih.

Legenda Singo Ulung tidak dapat dipisahkan dari kisah pertarungannya melawan Juk Jasiman, seorang penguasa setempat yang berasal dari Madura. Pertarungan keduanya dikisahkan berlangsung selama 41 hari 41 malam. Setelah mengalami kekalahan, Juk Jasiman kemudian menjadi pengikut setia Singo Ulung. Keduanya selanjutnya disebut bersama-sama menyebarkan ajaran Islam di wilayah Bondowoso bagian utara.

Kisah heroik tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan rakyat yang dikenal sebagai Ronteg Singo Ulung. Kesenian ini menampilkan sosok Singo Ulung dalam bentuk replika singa raksasa yang dimainkan oleh para seniman dengan iringan musik tradisional yang khas.

Hingga kini, Ronteg Singo Ulung menjadi salah satu ikon budaya Bondowoso yang selalu hadir dalam berbagai agenda penting daerah, mulai dari peringatan Hari Jadi Bondowoso, festival budaya, hingga penyambutan tamu kehormatan.

Di Desa Blimbing, tradisi yang berkaitan dengan legenda tersebut juga masih terpelihara melalui ritual tahunan Ghadisah, sebuah tradisi ruwatan desa yang sarat makna spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.

Atas nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang dimilikinya, Singo Ulung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada tahun 2015. Kesenian ini juga menjadi salah satu unsur budaya yang memperkuat pengakuan Ijen Geopark sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023.

Untuk selanjutnya tahun 2026 apa lagi yang akan  menjadi warisan yang akan diakui dunia melalui UNESCO Global Geopark pada tahun 2026?

1785517338444

Ojung, Tradisi Adat yang Menyatukan Keberanian dan Harapan

Selain Singo Ulung, Bondowoso juga memiliki tradisi unik bernama Ojung, sebuah ritual adat yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun di tengah masyarakat.
Ojung merupakan pertarungan simbolis antara dua laki-laki yang saling mencambuk menggunakan rotan.

Pertunjukan ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka dan dipimpin oleh seorang wasit yang memastikan seluruh rangkaian berlangsung sesuai aturan adat yang berlaku.

Sekilas tradisi ini tampak keras dan penuh risiko. Namun bagi masyarakat Bondowoso, Ojung bukanlah ajang permusuhan ataupun kekerasan.

Sebaliknya, tradisi ini mengajarkan keberanian, sportivitas, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap sesama. Setelah pertandingan berakhir, para peserta biasanya saling berjabat tangan dan bermaafan sebagai simbol persaudaraan.

Ojung umumnya digelar saat musim kemarau panjang. Masyarakat meyakini ritual tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memohon turunnya hujan.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, darah yang menetes dari bekas cambukan menjadi simbol pengorbanan dan harapan agar alam kembali memberikan berkah melalui turunnya hujan.

Tradisi Ojung tidak hanya dikenal di Bondowoso, tetapi juga berkembang di sejumlah daerah kawasan Tapal Kuda seperti Situbondo, Jember, Lumajang, dan Probolinggo. Meski demikian, Bondowoso menjadi salah satu daerah yang paling konsisten menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

Komitmen pelestarian itu membuahkan hasil ketika Ojung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada tahun 2019. Upaya menjaga eksistensi budaya ini terus dilakukan melalui berbagai festival dan pertunjukan budaya.

Salah satu momentum penting terjadi pada tahun 2024 ketika Bondowoso menggelar pertunjukan Tari Ojung Massal yang melibatkan lebih dari seribu pelajar. Kegiatan tersebut berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan menjadi bukti nyata bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Keberadaan Singo Ulung dan Ojung sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bondowoso. Lebih dari sekadar kesenian dan tradisi, keduanya merupakan cerminan jati diri masyarakat yang lahir dari sejarah panjang, nilai-nilai kebersamaan, serta kearifan lokal yang terus hidup hingga saat ini.

Di tengah derasnya pengaruh budaya global, pelestarian warisan budaya menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap mengenal akar budayanya. Singo Ulung dan Ojung membuktikan bahwa budaya lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menjadi identitas daerah yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan dunia.
.

1784091984781
file_00000000d4ac720b8315be53dad5e2f1
file_00000000f3dc71f699615aa3d7e15c43
Screenshot_20260730-221521