BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperkuat pengembangan perkebunan rakyat di kawasan Ijen melalui penyaluran 340.000 bibit kopi Arabika kepada enam kelompok tani. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid saat menghadiri Sosialisasi Agroforestry dan Pupuk Bersubsidi serta Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Agroforestry bersama Perum Perhutani KPH Bondowoso di Kecamatan Sempol/Ijen, Senin (2/11/2026).
Selain bibit kopi Arabika, pemerintah daerah juga menyerahkan bantuan bibit alpukat secara simbolis kepada Koperasi Istana Sayur, Koperasi Konsumen Kopi Arabika, serta tiga Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Bantuan tersebut diarahkan untuk mendorong diversifikasi komoditas perkebunan, memperkuat pola agroforestry, sekaligus membuka sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat sekitar hutan.
Penyaluran 340 ribu bibit kopi Arabika kepada enam kelompok tani menjadi salah satu bentuk dukungan konkret terhadap pengembangan komoditas unggulan Ijen.
Kopi Arabika selama ini menjadi salah satu potensi perkebunan yang memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan, baik dari sisi produksi maupun nilai ekonominya.
Bupati KH. Abdul Hamid Wahid menyambut baik dukungan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program bantuan bibit tidak boleh hanya diukur dari jumlah tanaman yang diserahkan kepada kelompok tani.
Menurutnya, aspek pemeliharaan, tingkat keberhasilan tumbuh, pendampingan penyuluh, penerapan praktik budidaya yang baik, hingga keberlanjutan produksi harus menjadi perhatian bersama.
Artinya, bantuan yang diberikan harus benar-benar tumbuh menjadi tanaman produktif dan memberikan hasil ekonomi bagi petani.
“Pendataan penerima manfaat terus diperluas secara bertahap, termasuk petani yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan akses pupuk bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku,”ungkapnya.
Ia menegaskan, kelompok tani yang telah menerima fasilitasi diharapkan menjadi bagian dari pengembangan kemitraan agroforestry yang lebih luas.
Dengan demikian, semakin banyak masyarakat sekitar hutan yang memperoleh kesempatan mengembangkan usaha pertanian dan perkebunan secara legal serta berkelanjutan.
“Kita berharap ini menjadi rombongan awal. Ke depan akan ada kelompok-kelompok berikutnya yang bisa difasilitasi. Yang terpenting, kita tertib, saling memberikan manfaat, dan bersama-sama menjaga kawasan hutan,” pesannya.
Bupati menegaskan, kemitraan agroforestry harus menjadi titik awal perubahan bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Tidak hanya memberikan akses terhadap sarana produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani, meningkatkan daya saing komoditas perkebunan, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Ke depan, pengembangan perkebunan rakyat di kawasan Ijen diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Penguatan kelembagaan ekonomi, pengolahan hasil pertanian, hilirisasi produk, hingga pengembangan pariwisata harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.
Melalui langkah tersebut, masyarakat Sempol diharapkan tidak hanya berperan menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menikmati manfaat ekonomi dari pengembangan potensi daerahnya.











