BONDOWOSO – Pengembangan ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso diarahkan untuk menembus pasar internasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pekerja di sepanjang rantai nilai kopi. Melalui program Promise II Impact, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mendorong penguatan kerja sama lintas sektor guna memperluas peluang usaha dan meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal.
National Project Coordinator program Promise II Impact dari ILO, Tomas Sugiono, menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Pengembangan pada tahap awal difokuskan pada dua ekosistem kopi dengan sasaran sekitar 2.000 petani.
Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perluasan pasar, penguatan rantai usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada komoditas kopi.
Kopi Bondowoso Dibidik untuk Pasar Eropa dan Swiss
Salah satu agenda penting dalam pengembangan ekosistem kopi Bondowoso adalah memperluas akses pemasaran ke pasar internasional, termasuk Eropa dan Swiss.
Upaya tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso, BUMD Bondowoso Gemilang, hingga mitra SIPO yang membantu mempromosikan kopi Bondowoso ke pasar tersebut.
Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi kopi lokal untuk menjangkau pembeli baru sekaligus memperkuat jaringan pemasaran. Jika dikelola secara berkelanjutan, perluasan pasar berpotensi memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha kopi.
Namun, peluang memasuki pasar internasional juga perlu ditunjang konsistensi kualitas, kesinambungan pasokan, ketertelusuran produk, serta pemenuhan persyaratan yang ditetapkan pembeli.
Dengan demikian, promosi kopi Bondowoso tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi diharapkan berkembang menjadi hubungan perdagangan yang berkelanjutan.
Dua Ekosistem Jadi Fokus Awal, Sekitar 2.000 Petani Disasar
Pada tahap awal, program pengembangan difokuskan pada dua ekosistem kopi. Pertama, wilayah Ijen yang dikaitkan dengan kelompok Haji Tohari. Kedua, KUB DOA di wilayah Argopuro yang dikaitkan dengan kelompok Haji Dani.
Kedua ekosistem tersebut menjadi titik awal pengembangan model usaha kopi yang melibatkan petani dan pelaku lain dalam rantai nilai komoditas tersebut.
Sasaran awal program mencapai sekitar 2.000 petani.
Jumlah ini merupakan target yang diharapkan dapat dijangkau melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas, serta pembukaan akses terhadap peluang pasar dan layanan pendukung usaha.
Pendekatan berbasis ekosistem dinilai penting karena keberhasilan usaha kopi tidak hanya ditentukan oleh hasil panen. Pengelolaan pascapanen, mutu produk, akses pembiayaan, serta hubungan dengan pembeli juga berperan dalam menentukan nilai ekonomi yang diterima petani.
Peningkatan Pendapatan Menjadi Sasaran Utama
Selain memperluas pemasaran, program Promise II Impact menargetkan peningkatan pendapatan para pelaku di sepanjang rantai nilai kopi, mulai dari petani hingga pekerja dan pelaku usaha terkait.
Peningkatan pendapatan diharapkan dapat didukung oleh terbukanya peluang pasar baru, penguatan kualitas produk, serta kerja sama yang lebih erat antara produsen, pemerintah daerah, dan mitra pemasaran.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, keterlibatan berbagai pihak perlu berjalan secara konsisten. Pemerintah daerah berperan dalam mendukung pengembangan sektor kopi, sementara BUMD dan mitra pemasaran dapat membantu memperkuat jejaring usaha serta membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, manfaat pengembangan pasar perlu menjangkau petani dan pekerja secara nyata. Keberhasilan program nantinya dapat dinilai dari perkembangan akses pemasaran, keberlanjutan hubungan usaha, serta perubahan pendapatan masyarakat yang terlibat.
Memperkuat Masa Depan Kopi Bondowoso
Pengembangan dua ekosistem dengan sasaran sekitar 2.000 petani diharapkan menjadi pijakan bagi penguatan sektor kopi Bondowoso secara lebih luas.
Jika pelaksanaannya berjalan sesuai sasaran, model tersebut berpotensi menjadi rujukan untuk pengembangan ekosistem kopi di wilayah lain dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Bagi Bondowoso, upaya ini menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi kopi sebagai komoditas unggulan sekaligus membangun sistem usaha yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan kopi tidak hanya diukur dari luasnya pasar yang dijangkau, tetapi juga dari kemampuan petani dan pekerja memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik serta berkelanjutan.











