Beranda Ekonomi & Teknologi Digitalisasi Ekosistem Kopi Bondowoso Sasar Sekitar 2.000 Petani

Digitalisasi Ekosistem Kopi Bondowoso Sasar Sekitar 2.000 Petani

1784696982808

BONDOWOSO – Digitalisasi ekosistem kopi di Kabupaten Bondowoso mulai diarahkan untuk menjangkau sekitar 2.000 petani melalui penerapan sistem pengelolaan usaha terintegrasi.

Program ini menjadi bagian dari tindak lanjut Project Fase 3 yang didukung Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan fokus pada pengembangan komoditas kopi dan penguatan inklusi keuangan.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso, Ir. Hergiar Yuli Pramanto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program tersebut saat ini masih menggunakan pendekatan percontohan (pilot project). Pelaksanaan awal dipusatkan di sejumlah lokasi sebelum nantinya diperluas berdasarkan hasil evaluasi.

Menurut Hergiar, dua lokasi yang telah dipetakan memiliki potensi jangkauan masing-masing sekitar 1.000 petani, yakni kelompok yang dikaitkan dengan Pak Tohari dan kawasan Argopuro yang dikaitkan dengan Pak Dhani.

“Untuk Pak Tohari saja sekitar 1.000 petani. Di Argopuro, kurang lebih juga sama. Jadi, sudah sekitar 2.000 petani yang bisa masuk ke dalam sistem ini,” ujar
dipendopo Raden Bagus Asra Bondowoso, Kamis,22/10/2026.

Hergiar dalam keterangannya.
Sementara itu, lokasi Bogem masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum ditetapkan dalam pelaksanaan program.

Data Produksi hingga Pembiayaan Akan Terintegrasi

Salah satu komponen utama program ini adalah penerapan Enterprise Resource Planning (ERP), yakni sistem digital untuk mengintegrasikan dan mengelola data kegiatan usaha.

Melalui sistem tersebut, data produksi, kualitas kopi, hingga pembiayaan diharapkan dapat tercatat dan ditelusuri secara lebih akurat serta cepat. Ketersediaan data yang terstruktur dinilai penting untuk memperjelas kondisi usaha petani sekaligus mendukung proses pengambilan keputusan.

Hergiar menjelaskan, sistem digital ini diharapkan dapat membantu petani memperoleh akses permodalan dari perbankan maupun lembaga keuangan lainnya.

“Harapannya, ketika data sudah lebih tergambar dengan jelas, akses permodalan petani ke perbankan atau lembaga keuangan lainnya bisa lebih mudah. Ini yang diharapkan dapat memberikan dampak bagi petani kita,” jelasnya.

1791899701721

Meski demikian, kemudahan akses pembiayaan tersebut masih menjadi target yang perlu diwujudkan melalui penerapan sistem dan dukungan lembaga keuangan. Digitalisasi data diharapkan menjadi salah satu faktor pendukung, bukan jaminan otomatis bahwa seluruh petani akan memperoleh pembiayaan.
Sertifikasi Barista dan Roaster Jadi Perhatian

Selain digitalisasi pertanian kopi, Diskoperindag Bondowoso juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam industri kopi, khususnya barista dan roaster atau tenaga yang menangani proses sangrai biji kopi.
Hergiar mengakui, pihaknya belum memiliki data lengkap mengenai jumlah barista yang telah tersertifikasi. Hal ini karena banyak barista bekerja secara mandiri di luar pendataan resmi pemerintah daerah.

Meski demikian, Diskoperindag berharap program sertifikasi dapat diperluas secara bertahap melalui komunitas barista yang telah terbentuk di Bondowoso.
“Harapan kami, setidaknya setiap periode ada lima barista yang bisa mengikuti sertifikasi. Tidak hanya barista, tetapi juga roaster yang memiliki sertifikasi kompetensi,” ungkapnya.

Menurut Hergiar, sertifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan kepastian kepada konsumen dan pelaku usaha mengenai kompetensi tenaga profesional yang terlibat dalam pengolahan serta penyajian kopi.

Ia memperkirakan, berdasarkan pengamatannya, tenaga barista dan roaster yang telah memiliki sertifikasi masih sekitar 20 persen. Namun, angka tersebut belum didukung pendataan menyeluruh sehingga perlu diverifikasi lebih lanjut.

Perkuat Daya Saing Industri Kopi Bondowoso

Diskoperindag berharap dukungan ILO dan OJK dapat membuka peluang peningkatan kapasitas pelaku usaha kopi secara bertahap, mulai dari petani hingga tenaga profesional di sektor hilir.

Digitalisasi data, kemudahan akses pembiayaan, dan sertifikasi kompetensi diharapkan saling mendukung dalam membangun rantai usaha kopi yang lebih tertata dan berdaya saing.

Bagi Bondowoso, yang dikenal dengan identitas Republik Kopi, penguatan ekosistem tersebut bukan hanya menyangkut peningkatan produksi. Upaya ini juga berkaitan dengan peningkatan kualitas produk, profesionalisme tenaga kerja, dan terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ke depan, keberhasilan program akan ditentukan oleh hasil penerapan sistem percontohan, ketepatan data petani, perluasan akses pembiayaan, serta meningkatnya jumlah tenaga profesional kopi yang memiliki kompetensi terverifikasi.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kopi Bondowoso diharapkan tidak berhenti pada potensi komoditas, tetapi berlanjut menjadi penguatan usaha yang manfaatnya dapat dirasakan oleh petani dan pelaku industri kopi secara lebih luas.

ilustrasi-stop-pungli