Bondowoso – Penutupan (Closing Meeting) Revalidasi UNESCO Global Geopark Ijen (UGGp) di Pendopo Raden Bagus Asra, Kabupaten Bondowoso, Kamis (6/8/2026), menjadi momentum penegasan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso untuk terus menjaga keberlanjutan kawasan Ijen sebagai warisan dunia.
Mewakili Bupati Banyuwangi yang berhalangan hadir, Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si. menyampaikan apresiasi kepada dua asesor UNESCO, Mr. Andreas Josef Schueller dan Ms. Li Yue, yang telah melakukan proses revalidasi sejak 3 Agustus 2026.
“Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada kedua asesor UNESCO yang telah berjalan bersama kami, berdialog dengan masyarakat, serta melihat langsung bagaimana Ijen bukan hanya bentang alam, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Mujiono.
Menurutnya, perjalanan para asesor ke berbagai destinasi, mulai kawasan pesisir, Alas Purwo hingga Desa Adat Kemiren, menunjukkan bahwa konsep geopark tidak hanya berbicara mengenai kekayaan geologi.
“Geopark adalah pertemuan antara bumi, manusia, budaya, dan masa depan. Karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari keindahan alam atau status internasional yang dimiliki, tetapi ketika alam tetap terjaga, budaya tetap hidup, masyarakat semakin sejahtera, dan generasi muda mau meneruskan estafet pelestariannya,” katanya.
Mujiono menegaskan, selama proses revalidasi masyarakat tidak hanya menjadi objek kunjungan. Mereka hadir sebagai penjaga alam, pelestari budaya, penggerak ekonomi lokal, sekaligus duta yang memperkenalkan Ijen kepada dunia.
Ia juga menekankan bahwa revalidasi UNESCO bukan sekadar mempertahankan status UNESCO Global Geopark, melainkan menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi dan terus melakukan perbaikan.
“Setiap catatan dan rekomendasi dari asesor akan menjadi pedoman bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan. Kami berkomitmen memperkuat konservasi, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, serta melibatkan generasi muda dalam menjaga masa depan Ijen,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mujiono mengapresiasi sinergi seluruh pihak, mulai pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, akademisi, dunia usaha hingga media yang selama ini turut menjaga keberlanjutan Geopark Ijen.
“Alam tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, menjaga Ijen juga harus melampaui batas wilayah. Kolaborasi Banyuwangi dan Bondowoso menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kawasan ini,” tegasnya.
Mujiono menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses kunjungan terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelayanan kepada tim asesor UNESCO.
“Kami berharap Bapak dan Ibu tidak hanya membawa catatan tentang Ijen, tetapi juga membawa kenangan tentang masyarakat yang mencintai alam, menjaga budaya, dan menyambut dunia dengan hati yang terbuka,” tuturnya.
Dikayakan bahwa Ijen merupakan warisan bumi yang harus dijaga bersama.
“Ijen adalah warisan bumi, tetapi masa depannya adalah pilihan yang kita tentukan hari ini,” pungkasnya.
Dalam giat tersebut dihadiri wakil Bupati Bondowoso dan Wakil Bupati Banyuwangi
Juga dari Bapenas ,Kementerian pariwisata kemudian dari kmgi kemudian Dinas pariwisata Provinsi Jawa Timur dan badan pengelola ujian Geopark baik dari Jawa Timur maupun tingkat nasional termasuk dari Kabupaten Banyuwangi .














