BONDOWOSO – Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso Kristianto Putro Prasojo, menyampaikan bahwa potensi krisis air bersih yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026
Untuk itu pihaknya mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih . Selain melanjutkan distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak krisis air bersih BPBD juga menyiapkan program penanganan permanen guna mengurangi risiko kekeringan yang berulang setiap tahun.
Dikatakan bahwa penyaluran air bersih melalui program dropping tetap menjadi langkah prioritas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Kendati demikian, pemerintah daerah juga mulai merancang solusi jangka panjang sesuai arahan Bupati Bondowoso.
“Pada periode Agustus hingga September kami tetap melaksanakan dropping air bersih. Namun, bersamaan dengan itu kami juga menyiapkan penanganan permanen. Ini merupakan arahan Bupati Bondowoso agar penanganan kekeringan tidak hanya bersifat darurat setiap tahun,” ujarnya, Selasa 30/06/2026.
Kristanto menjelaskan bahwa,sebagai dasar penyusunan program tersebut, BPBD telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Hasilnya, sebanyak sembilan kecamatan, 12 desa, dan 20 dusun diusulkan menjadi prioritas penanganan. Salah satu kawasan yang masuk kategori paling rentan terhadap krisis air bersih adalah Dusun Sumber Biru.
Ia menegaskan bahwa penanganan kekeringan memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, BPBD mengedepankan pendekatan pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, serta masyarakat.
Sebagai wujud kolaborasi tersebut, BPBD akan kembali melaksanakan dropping air bersih lanjutan mulai pekan depan dengan dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan sejumlah lembaga mitra.
Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) dijadwalkan menyalurkan bantuan ke dua desa melalui empat rit pengiriman atau sekitar 20.000 liter air bersih.
Bantuan serupa juga diberikan oleh Bank Jatim untuk dua desa dengan total empat rit atau 20.000 liter air bersih. Sementara itu, Baznas Kabupaten Bondowoso akan mendistribusikan 14 rit pengiriman atau sekitar 70.000 liter air bersih untuk tujuh desa yang terdampak.
“Penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Melalui kolaborasi seluruh unsur pentahelix, kami berharap kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau, sekaligus mendorong terwujudnya solusi permanen bagi wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan,” kata Kristianto.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat, BPBD Bondowoso optimistis upaya penanganan kekeringan tidak hanya mampu menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan rawan krisis air bersih.














