Bondowoso — Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Bondowoso sekaligus Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Bondowoso, Sandi Aulia Mochtar, mendorong seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Bondowoso.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya temuan kasus baru HIV/AIDS di Bondowoso. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, selama periode Januari hingga Juni tercatat sebanyak 45 kasus baru HIV/AIDS ditemukan.
Sandi menyebut persoalan HIV/AIDS harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan melalui edukasi, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta pengawasan lingkungan sosial.
“HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel darah putih atau CD4. Sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kondisi lanjutan ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan parah sehingga tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit,” ujar Sandi.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami gejala atau memiliki risiko terpapar HIV. Menurutnya, fasilitas kesehatan seperti Dinas Kesehatan dan Puskesmas memiliki komitmen menjaga kerahasiaan identitas pasien.
“Jangan merasa rendah diri atau takut untuk memeriksakan diri. Dinkes dan pihak Puskesmas tentu menjaga kerahasiaan pasien pengidap HIV. Yang terpenting adalah mendapatkan penanganan dan pendampingan agar kondisi kesehatan bisa terjaga,” katanya.
Sandi juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam memberikan edukasi kepada generasi muda terkait kesehatan reproduksi, perilaku hidup sehat, serta pemahaman mengenai risiko penularan HIV/AIDS.
Ia berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga masyarakat, serta elemen terkait dapat bersinergi dalam menekan angka penyebaran HIV/AIDS di Bondowoso.
“Kita harus bersama-sama berkomitmen melakukan pencegahan. Semua pihak harus mengambil peran agar persoalan HIV/AIDS ini dapat diminimalisir,” tegasnya.
Dalam upaya pencegahan, Sandi menyampaikan prinsip, sebagai langkah edukasi yang dapat diterapkan masyarakat yaitu menghindari hubungan seksual berisiko di luar pernikahan.
Selain itu menjaga kesetiaan kepada satu pasangan.
Menggunakan kondom dalam hubungan seksual yang berisiko sebagai salah satu upaya mengurangi kemungkinan penularan.Kemudian menghindari penggunaan narkoba, terutama penggunaan jarum suntik secara bergantian.
Tak kalah pentingnya ,kata Sandi ,meningkatkan pemahaman dan edukasi mengenai HIV/AIDS berdasarkan informasi yang benar.
Sandi menambahkan, penanganan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari pencegahan, edukasi, pemeriksaan dini, hingga dukungan bagi para penderita agar tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
“Perang terhadap HIV/AIDS bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan edukasi yang benar dan kepedulian masyarakat, penyebaran penyakit ini dapat ditekan,” pungkasnya.














