Beranda Politik & Pemerintahan PNS Bolos Pasca-Lebaran, Tunjangan Kinerja Dipotong 2%

PNS Bolos Pasca-Lebaran, Tunjangan Kinerja Dipotong 2%

IMG-20250408-WA0090

JAKARTA – Idul Fitri telah berlalu ,berdasarkan Keppres Nomor 13 Tahun 2019 tentang Cuti Bersama Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tahun 2019, maka secara keseluruhan libur Lebaran yang didapatkan PNS yakni mulai tanggal 1 Juni 2019, usai upacara Pancasila hingga 9 Juni 2019.

Terdiri dari tanggal 1, 2, 8, 9 Juni 2019 yang merupakan hari libur akhir pekan, lalu 3,4,7 Juni 2019 yang merupakan cuti bersama, serta 5 dan 6 Juni 2019 yang merupakan hari libur nasional karena perayaan Idul Fitri. Dengan demikian, pada tanggal 10 Juni 2019 PNS wajib kembali bekerja pasca libur Lebaran.

Menurut Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana, yang dirilis dari okezone bahwa bagi PNS yang membolos kerja sudah pasti dikenakan sanksi. Hukumannya berupa pemotongan Tunjangan Kinerja (Tukin) sebesar 2%.

“Mereka sudah masuk seperti biasa sudah hari kerja biasa. Akan berlaku tata cara berkerja hari-hari biasa. Kalau enggak masuk ya mungkin akan ada teguran atau potongan tunjangan kinerja. Bisa 2%,” ujarnya, beberapa waktu lalu.  

Kata Bima, sanksi ini sama seperti ketika PNS bolos saat upacara hari lahir Pancasila. Artinya bagi PNS yang pada hari pertama masuk kerja bolos dan ketika juga bolos saat upacara hari Pancasila potongannya di akumulasikan sebesar 4%.

“Bisa (dipotong) 2%, terus 2% lagi jadi 4%,” ucapnya

Kendati demikian, lanjutnya, besaran potongan tunjangan tidaklah sama bagi masing-masing Kementerian dan Lembaga. Sebab, pemotongan tergantung kepada kebijakan dari masing-masing pimpinan instansinya.

Tradisi Mengakar di Tapal Kuda Pasca Idul Fitri “Telasan Lontong”

Seain Idul Fitri yang dimanfaatkan oleh mayoritas umat muslim sebagai ajang silaturrahmi dan bermaaf – maafan, ada pula lebaran yang disebut dengan “ Telasan Lontong “ (dalam bahasa Madura) atau biasa disebut dengan lebaran ketupat  yang merupakan salah satu  tradisi turun temurun  yang masih terjaga dan dilestarikan di wilayah tapal kuda.

Kegiatan membuat makanan yang terbuat dari beras dengan bungkus daun pisang maupun dari anyaman janur ini biasa dilakukan pada lebaran hari ke 5 -7. Seperti biasa, warga dengan membawa ketupat dan kelengkapannya seperti opor ayam maupun lauk pauknya untuk di bagikan ke tetangga maupun kerabat terdekat adapula dibawa ke Masjid, Mushola atau tempat lain yang disepakati. Setelah dikumpulkan, warga kemudian melakukan doa bersama, dan di akhiri dengan  menyantap ketupat bersama sama.

Pantauan ,tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun di wilayah tapal kuda. Selain sebagai penanda sempurnanya puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa Syawal selama 6 hari yang dimulai pada hari ke 2 bulan Syawal. Tradisi Lebaran ketupat ini juga dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar warga.

Telasan Lontong atau yang biasa di sebut dengan hari raya ketupat ini sebagai penanda lengkap dan sempurnanya puasa kita, dan sebagai ajang rasa syukur kita karena sebagian besar umat Islam telah melaksanakan Siltaurrahmi  dan saling memaaf maafkan antar sesama

Bahkan ada pula yang berpendapat jika Lebaran Ketupat ini merupakan “ hari rayanya “ bagi orang orang yang berpuasa Syawal.

Meski masih dilaksanakan sampai sekarang, makna Lebaran Ketupat sendiri semakin jarang dipahami oleh generasi muda saat ini. Kendati demikian masyarakat diwilayah tapal kuda masih memeliharan tradisi Lebaran Ketupat dan mengenalkannya kepada anak-anak dan generasi muda.  

Sementara itu, hari raya ketupat dibeberapa wilayah di pusatkan di area pemakaman umum setempat, warga sekitar berbondong bondong untuk mengikuti acara yang dilaksanakan tujuh hari pasca hari raya idul Fitri tersebut dengan membawa berbagai aneka lontong yang disertai lauk pauknya.

Kegiatan yang dilaksanakan di pemakaman tertua ,  bertujuan agar warga sekitar mengingatkan kembali akan kematian dan menyadarkan bahwa para pendahulu sangat membutuhkan doa dari anak cucunya yang ditujukan padanya.  

Sri, salah satu ibu Rumah Tangga mengatakan jika hari raya ketupat ini merupakan tradisi turun temurun yang harus tetap dilestarikan. Bahkan dia mengaku jika hampir setiap tahun keluarganya tetap merayakan lebaran katupat, “ saya dan keluarga hampir setiap tahun  merayakannya,  biasaya saya membuat beberapa kilo beras dan di bungkus dengan daun pisang dan di masak setelah masak lontong tersebut di campur dengan lauk  pauk dan opor ayam kemudian di bagikan ke kerabat atau tetatangga terdekat,” ungkapnya,Minggu 09/06/2019 ketika ditanya saat membeli longsongan ketupat di pasar Maesan.

Untuk diketahui Hari Raya Ketupat (kupatan) adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam merayakan Idul Fitri. Acara ini biasanya dilakukan  setelah seminggu setelah lebaran dalam kalender nasional.

Filosofi Kupat (Bahasa Jawa  : Ketupat )” sendiri ada yang yang memaknainya berasal dari gabungan kata “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Artinya, diantara kita pasti pernah berbuat salah. Melalui lebaran ketupat/kupatan ini bersama sama mengakui kesalah kita pada sesama dan saling memberi maaf dan menerima maaf secara bersama sama.

1744129950993