Beranda Lensa Nusantara Persoalan Mendasar Pengembangan Prestasi Cetak Generasi Unggul Terancam Timpang, Anggaran Kompetisi Siswa...

Persoalan Mendasar Pengembangan Prestasi Cetak Generasi Unggul Terancam Timpang, Anggaran Kompetisi Siswa Bondowoso Belum Tersedia

1784696982808

BONDOWOSO – Ambisi meningkatkan prestasi generasi muda Bondowoso agar mampu bersaing dengan daerah lain menghadapi tantangan serius.

Dinas Pendidikan (Disdik) Bondowoso mengakui belum menyediakan anggaran khusus untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, termasuk kebutuhan siswa dalam mengikuti kompetisi.

Pengakuan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, usai Bupati menemui Kontingen Marching Band Gita Citra Melati dari SDN Kota Kulon 1 Bondowoso menunjukkan kebolehannya di Pendopo Bagus Asra, Rabu (21/10/2026).

“Memang belum menyediakan anggaran untuk hal di luar seperti ini. Yang kita sediakan, ya kalau seperti ini memang belum disediakan,” kata Taufan.

Menurutnya, kegiatan ekstrakurikuler berada di luar kegiatan kurikuler sehingga pelaksanaannya selama ini lebih banyak diserahkan kepada wali murid dan komite sekolah

“Dalam struktur kurikulum ini adalah kegiatan di luar kurikuler. Sehingga memang untuk seperti ini sepenuhnya diserahkan kepada wali murid, kepada komite,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membuka persoalan mendasar dalam upaya pengembangan prestasi pelajar di Bondowoso.

Di satu sisi, peningkatan kualitas dan daya saing generasi muda menjadi harapan pemerintah daerah. Namun, di sisi lain, dukungan anggaran untuk menunjang kegiatan yang dapat mengasah bakat dan kemampuan siswa belum sepenuhnya tersedia.

Peralatan Terbatas, Siswa Harus Mengandalkan Dukungan Sekolah
Taufan menyebutkan, sejumlah peralatan untuk mengikuti kompetisi memang telah tersedia. Namun, untuk kebutuhan tertentu, sekolah masih harus meminjam peralatan.

Ia mencontohkan keikutsertaan siswa SMP Negeri 1 Bondowoso dalam kegiatan di Tulungagung yang juga tidak mendapatkan dukungan anggaran dari Disdik Bondowoso.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Pembinaan prestasi tidak cukup hanya dengan mendorong siswa agar rajin berlatih dan berani berkompetisi.

Dibutuhkan dukungan fasilitas, pendampingan pelatih, pembiayaan, serta kesempatan mengikuti perlombaan secara berkelanjutan.

Tanpa perencanaan yang jelas, potensi siswa berisiko tidak berkembang secara maksimal. Sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas dan kemampuan pendanaan juga berpotensi menghadapi hambatan lebih besar dalam mempersiapkan peserta didiknya.

1791899701721

Ketergantungan pada Wali Murid Berpotensi Membatasi Kesempatan
Penyerahan pembiayaan kepada wali murid dan komite sekolah juga memunculkan persoalan pemerataan kesempatan.

Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Ketika kebutuhan mengikuti kompetisi bergantung pada dukungan orang tua, siswa berbakat dari keluarga kurang mampu berpotensi menghadapi kendala untuk menunjukkan kemampuannya.

Padahal, prestasi peserta didik semestinya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, bakat, dan kedisiplinan berlatih, tetapi juga perlu didukung sistem pembinaan yang memberikan kesempatan secara adil.

Karena itu, Disdik Bondowoso perlu menjelaskan apakah tersedia skema bantuan alternatif, bagaimana menentukan prioritas pembinaan, serta apakah kebutuhan kompetisi ekstrakurikuler dapat diakomodasi dalam perencanaan anggaran berikutnya.

Langkah tersebut penting agar pengembangan potensi siswa tidak berhenti pada dukungan sekolah dan kemampuan finansial keluarga.

Perlu Koordinasi Lintas Perangkat Daerah

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan, turut menjadi bagian dari konteks pembahasan mengenai pengembangan potensi generasi muda di daerah tersebut.

“Koordinasi lintas perangkat daerah dinilai penting untuk memetakan potensi siswa, mengidentifikasi kebutuhan pembinaan, serta memperluas akses terhadap kompetisi sesuai bidang yang ditekuni,” tegasnya.

Pembagian peran yang jelas antara perangkat daerah terkait juga diperlukan agar program pengembangan bakat tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan demikian, kebutuhan fasilitas, pendampingan, dan pembiayaan dapat direncanakan secara lebih terarah.

Pada akhirnya, peningkatan prestasi pelajar bukan semata-mata tentang jumlah piala atau penghargaan yang berhasil dibawa pulang.

“Lebih dari itu, prestasi mencerminkan sejauh mana pemerintah daerah mampu membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan dan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berkembang,” katanya.

Harapan agar generasi muda Bondowoso mampu bersaing dengan daerah lain membutuhkan langkah nyata. Tanpa dukungan program dan skema pembiayaan yang jelas, dorongan untuk meningkatkan prestasi berisiko berhenti sebagai target, sementara sekolah dan orang tua tetap harus menanggung sebagian besar kebutuhan di lapangan.

 

ilustrasi-stop-pungli