BONDOWOSO – Perjalanan Ijen UNESCO Global Geopark bukanlah cerita yang lahir dalam semalam. Di balik status bergengsi yang kini disandang kawasan Ijen, terdapat rangkaian panjang gagasan, pemetaan, perjuangan, kolaborasi lintas daerah, hingga proses penilaian internasional yang terus berlangsung.
Bagi Bondowoso, perjalanan tersebut dimulai dari sebuah gagasan besar pada 2016. Pemerintah daerah bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai mendorong pengembangan kawasan Ijen sebagai geopark dengan mengintegrasikan tiga kekuatan utama.
Warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya masyarakat.
Salah satu nama yang disebut memiliki peran dalam fase awal perjalanan tersebut adalah Arif Setyo Raharjo, yang kemudian menjadi salah satu penggerak pengembangan Ijen Geopark di wilayah Bondowoso.Bersama Bupati Bondowoso KH.Abdul Hamid Wahid yang kala itu masih menjabat DPRD RI komisi IX.
Pada fase perintisan, pengembangan geopark tidak sekadar diarahkan untuk menjadikan kawasan Ijen sebagai destinasi wisata. Lebih dari itu, konsep geopark membawa misi konservasi, edukasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Arif bersama tim mendorong sosialisasi konsep geopark kepada berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas. Pemetaan potensi situs juga dilakukan untuk mengidentifikasi kekayaan geologi, biologi, dan budaya yang dimiliki Bondowoso.
Sejumlah kawasan kemudian menjadi bagian penting dari narasi Ijen Geopark, antara lain kawasan Blawan, Plalangan, Paltuding, serta berbagai situs pendukung lainnya.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan
Perjalanan itu kemudian memasuki tahapan yang lebih serius. Inventarisasi geosite, biosite, dan situs budaya menjadi bagian dari proses membangun fondasi geopark.
Bagi Bondowoso, keberadaan situs seperti aliran lava purba, kawasan hutan, perkebunan kopi rakyat, sumber air panas, serta berbagai kekayaan budaya menjadi modal penting untuk menunjukkan bahwa Ijen bukan sekadar kawasan wisata alam.
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari pengelolaan geopark. Konservasi harus berjalan beriringan dengan pendidikan dan peningkatan ekonomi lokal.
Pada 2018, pengembangan Ijen memasuki tonggak penting dengan penetapan sebagai Geopark Nasional. Status tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat tata kelola, memperluas kerja sama, serta mempersiapkan kawasan menuju pengakuan di tingkat internasional.
Bondowoso dan Banyuwangi kemudian terus memperkuat sinergi dalam pengembangan kawasan Ijen. Dua kabupaten tersebut memiliki wilayah dan potensi berbeda, tetapi berada dalam satu bentang alam yang saling berkaitan.
Menuju Panggung Global
Tahapan menuju UNESCO Global Geopark kemudian semakin intensif. Pada 2022, persiapan asesmen dan finalisasi dokumen dilakukan melalui koordinasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pemerintah provinsi, tim nasional, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Berbagai situs ditata dan diperkuat dari sisi konservasi, edukasi, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat.
Upaya panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2023, Ijen resmi mendapatkan pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).
Pengakuan tersebut menjadi capaian penting sekaligus tanggung jawab besar. Sebab, status UNESCO bukanlah garis akhir. Pengelolaan kawasan harus terus memenuhi standar yang ditetapkan dan menunjukkan adanya kemajuan secara berkelanjutan.
2026, Status Dunia Kembali Diuji
Tahun 2026 menjadi babak penting berikutnya. Ijen UNESCO Global Geopark menjalani proses revalidasi oleh asesor UNESCO.
Proses ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pengelolaan kawasan berjalan setelah mendapatkan status global.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pengelolaan Ijen UNESCO Global Geopark.
Sejumlah situs menjadi bagian dari rangkaian visitasi asesor, di antaranya Paltuding, Air Panas Blawan, Lava Basaltis Plalangan, hingga Kluncing.
Visitasi tersebut bukan semata-mata agenda seremonial. Para asesor melihat langsung kondisi situs, tata kelola, aspek konservasi, edukasi, pariwisata, hingga keterlibatan masyarakat.
Momentum ini menjadi penting karena keberhasilan revalidasi akan menjadi indikator bahwa pengelolaan Ijen tidak berhenti setelah memperoleh pengakuan UNESCO.
Bukan Sekadar Label UNESCO
Bupati Bondowoso menegaskan, Ijen bukan hanya memiliki panorama alam yang menarik, tetapi juga menyimpan warisan geologi, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat.
Karena itu, keberadaan Ijen UNESCO Global Geopark harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memastikan lingkungan tetap terjaga.
Pengelolaan tersebut membutuhkan kolaborasi banyak pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, media, hingga masyarakat.
“Ijen bukan hanya memiliki keindahan alam yang memukau, tetapi juga merupakan warisan geologi, budaya, dan sumber penguatan ekonomi masyarakat yang harus dijaga bersama melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, media, dan masyarakat,” tegas Bupati Bondowoso KH.Abdul Hamid Wahid.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah proses revalidasi. Sebab, ukuran keberhasilan geopark tidak hanya terletak pada status internasional, tetapi juga pada sejauh mana konservasi benar-benar berjalan, pengetahuan tentang warisan bumi diwariskan kepada generasi muda, dan masyarakat di sekitar kawasan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Dari 2016, Kini Menentukan Masa Depan
Jika perjalanan Ijen dirangkum, maka 2016 menjadi fase lahirnya gagasan, 2018 menjadi fase penguatan dan perjuangan menuju status nasional, 2022 menjadi fase intensif persiapan menuju pengakuan global, 2023 menjadi momentum pengakuan UNESCO Global Geopark, dan 2026 menjadi fase penting untuk membuktikan keberlanjutan pengelolaannya melalui revalidasi.
Kini, perjalanan itu kembali berada di titik krusial. Hari-hari visitasi asesor UNESCO menjadi ujian terhadap gagasan yang telah diperjuangkan selama satu dekade. Bukan hanya untuk mempertahankan sebuah predikat, melainkan untuk membuktikan bahwa geopark benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Rangkaian agenda revalidasi juga dilanjutkan dengan program Geopark Goes to School di SMA Negeri 2, besok ,Kamis 6/08/2026.
Bondowoso, sebelum agenda audiensi dan perpisahan dengan Bupati Bondowoso.Dari sana terlihat bahwa geopark tidahanya berbicara tentang gunung, kawah, lava, hutan, atau destinasi wisata.
Geopark juga berbicara tentang bagaimana generasi muda memahami warisan alamnya dan bagaimana masyarakat memperoleh masa depan dari kekayaan yang mereka miliki.
Perjalanan Ijen UNESCO Global Geopark dengan demikian belum selesai.
Dari sebuah gagasan pada 2016, perjuangan menuju pengakuan global, hingga ujian revalidasi pada 2026, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi.
Target akhirnya bukan sekadar “green card” dari UNESCO.
Lebih jauh dari itu, yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan lingkungan, keberlangsungan budaya, pendidikan generasi mendatang, serta kesejahteraan masyarakat di kawasan Ijen.
Ijen boleh menyandang status geopark dunia. Namun tantangan terbesarnya adalah memastikan status tersebut benar-benar menghadirkan manfaat bagi bumi dan manusia yang hidup di sekitarnya.














