Bondowoso – Kecamatan Binakal ,Bondowoso,Jawa Timu memiliki tiga perkampungan yang menjadi sentra pembuatan perkakas tajam. Sebagian warganya berprofesi sebagai pandai besi, pembuat gagang dan sarung alat-alat tajam itu secara turun temurun. Hingga kini, usaha tersebut masih bertahan.
Camat Binakal Suhari Ali Chandra mendulang cerita para penempa besi serta perajin golok, pisau, sabit yang masih tersisa di di wilayah yang dipimpinnya.
Pemandangan yang terlihat di tempat pandai besi (Padih/Pande-red)Tangan dua pria sudah terangkat untuk bersiap menghantamkan palu dalam genggaman mereka. Satu pria lain dengan alat penjepit meletakkan batang besi yang baru keluar dari perapian. Tak butuh lama, batang besi membara yang diletakkan dalam tonggak khusus itu terkena hantaman palu.
Gerakan para penempa besi itu begitu rapi. Selesai satu orang mengayunkan dan mengangkat palu, yang lain menyusulnya. Tanpa ada kode atau tanda, kedua penempa seperti sudah satu hati tak berebut memalu atau mengayunkan alatnya bersamaan.
Setelah pipih, batang besi membara lainnya mendapat giliran terkena hantaman. Kendati bekerja diselingi canda, mereka tetap serius menempa dan membentuknya menjadi golok. Begitulah keseharian para pandai besi di wilayah Kecamatan Binakal.
Kendati demikian, cakupan usaha mereka menjangkau sebagian warga dan menunggu pesanan. “Sejumlah warga memang bekerja sebagai pandai besi pada tiga tempat. Ada pula warga yang bekerja sebagai penajam perkakas atau bagian gerinda, pembuat perah (gagang) dan sarangka (sarung) golok. Alhasil, menjadi sentra pembuatan berbagai perkakas yang bisa digunakan petani, pedagang serta ibu-ibu rumah tangga,” jelasnya,Kamis 15/08/2019. saat mengikuti Program Inonasi Desa di Kecamatan Wringin.

Menurutnya kehidupan mereka pas- pasan saat pihaknya datang ditugaskan di wilayah tersebut. “Keterampilan mengolah besi menjadi perkakas tajam diwariskan turun temurun.Lantas saya berfikir inovasi apa yang bisa membuat hisup mereka lebih baik, saya sarankan agar mereka menbuat kerajinan besi dalam bentuk mini sebagai sovenir,” ungkapnya.
Produk khas pandai besi berupa golok, pisau dan clurit dibuat sovenri, melayani pesanan . Bahkan menerima pesanan khusus berdasarkan pola tertentu yang diinginkan pembeli.
“Alhamdulillah setelah dibuat sovenir pesanan berlimpah , sampai kekurangan tenaga dan bahan, ini akan terus kita kembangkan agar ekonomi masyarakat meningkat, luar biasa pesat pesanan sekarang sampai antri tidak perlu menunggu lagi,” imbuhnya.
Generasi para penempa besi terus berganti. Beberapa pelaku usahanya mulai menghilang karena kehilangan para penerusnya. Hilangnya sejumlah pelaku usaha pandai besi yang ditengarai karena minimnya permintaan di era yang makin modern, namun dengan berinovasi menjadikan sebagai barang sovenir ternyata para pengrajin besi di wilayah Binakal mampu mengembangkan usaha, meningkatkan ekonomi serta menyerap tenaga kerja.
