BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Kunjungan Delegasi Pemerintah Daerah Kamerun ke Kabupaten Bondowoso, Senin (19/10/2026), membuka peluang pengembangan kerja sama bilateral di sektor pertanian, perdagangan, dan pengembangan pasar.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap kunjungan tersebut tidak berhenti pada pertukaran pengalaman, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi konkret yang menguntungkan kedua belah pihak.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan setelah Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, pada 14–18 Oktober 2026.
Melalui inisiatif Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaoundé, Kamerun, delegasi diajak mengunjungi tiga daerah di Indonesia, yakni Probolinggo, Bondowoso, dan Tangerang. Agenda tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menjajaki peluang kerja sama ekonomi lintas negara.
Bupati Bondowoso, Dr. KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menyambut positif kunjungan tersebut. Ia berharap pertemuan dengan delegasi Kamerun menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan pertanian dan perluasan akses pasar.
“Alhamdulillah, kita sambut. Semoga ini membuka kerja sama yang lebih jauh, termasuk dalam bidang pertanian dan perdagangan,” ujar Bupati,Senin ,19/10/2026.
Teknologi Pertanian Indonesia Dinilai Lebih Sesuai
Salah satu peluang yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah kemungkinan transfer teknologi pertanian. Menurut Bupati, delegasi Kamerun menilai teknologi Indonesia memiliki kesesuaian dengan kebutuhan mereka, terutama dari sisi penerapan dan biaya.
Penilaian tersebut, kata Bupati, menjadi peluang untuk menjajaki kolaborasi yang berorientasi pada kebutuhan nyata di lapangan.
Namun, Pemerintah Kabupaten Bondowoso tidak ingin berhenti pada perbandingan produk maupun peralatan. Fokus utama diarahkan pada pengembangan pasar dan pembentukan kerja sama bilateral yang dapat ditindaklanjuti secara konkret.
“Kita fokus pada bagaimana pengembangan pasar, kemudian kerja sama bilateral. Kita berharap ada tindak lanjut,” katanya.
Peluang transfer teknologi tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mempertemukan kebutuhan sektor pertanian Kamerun dengan pengalaman dan kemampuan pelaku usaha Indonesia. Meski demikian, bentuk kerja sama, teknologi yang akan ditransfer, serta pihak-pihak yang terlibat masih perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan lebih lanjut.
Kopi, Pertanian Organik, dan Geopark Jadi Potensi Unggulan
Dalam pertemuan itu, Pemkab Bondowoso juga memperkenalkan sejumlah sektor unggulan yang dinilai berpotensi dikembangkan melalui kerja sama internasional, mulai dari perkebunan kopi, pertanian organik, hingga pariwisata berbasis kekayaan alam.
Bondowoso memiliki identitas kuat sebagai daerah penghasil kopi Arabika dan Robusta. Berdasarkan data yang disampaikan dalam paparan Bupati, pada 2025 luas panen kopi Arabika mencapai sekitar 13.754 hektare dengan produksi lebih dari 5.676 ton. Sementara itu, kopi Robusta memiliki luas panen sekitar 6.556 hektare dengan produksi lebih dari 3.237 ton.
Keunggulan kopi daerah ini juga diperkuat oleh perlindungan Indikasi Geografis untuk Kopi Arabika Java Ijen–Raung dan Kopi Arabika Hyang Argopuro.
Pemkab Bondowoso mendorong pengembangan kopi dari hulu hingga hilir, termasuk peningkatan kualitas budidaya, pengolahan pascapanen, penguatan UMKM, industri pengolahan, dan perluasan pemasaran. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Selain kopi, pertanian organik menjadi sektor lain yang diperkenalkan kepada delegasi Kamerun. Melalui gerakan Bondowoso Pertanian Organik (BOTANIK), pemerintah daerah berupaya memperkuat produksi, sertifikasi, dan pemasaran produk pertanian ramah lingkungan.
Pengembangan pertanian organik di sejumlah kawasan, antara lain Desa Lombok Kulon, Desa Sulek, dan Desa Gadingsari, disebut memiliki total luasan sekitar 225 hektare.
Di sektor pariwisata, Bondowoso juga memiliki potensi yang terhubung dengan Ijen UNESCO Global Geopark, termasuk Kawah Ijen, Kawah Wurung, dan kawasan Blawan. Pengembangannya diarahkan pada keseimbangan antara konservasi lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Beragam potensi tersebut menjadi modal yang dapat ditawarkan dalam penjajakan kerja sama, baik melalui perdagangan produk unggulan maupun pertukaran pengalaman dalam pengelolaan sektor ekonomi berbasis sumber daya lokal.
MOU Perlu Ditindaklanjuti dengan Langkah Konkret
Bupati mengungkapkan bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) telah dibahas dalam rangkaian pertemuan tersebut. Namun, ruang lingkup dan rincian pelaksanaannya masih perlu dipastikan melalui tindak lanjut para pihak terkait.
Ia berharap KBRI Yaoundé dapat memfasilitasi komunikasi lanjutan dengan kementerian dan instansi yang berwenang, sehingga peluang kerja sama tidak berhenti pada kesepakatan awal.
“Harapannya, KBRI bisa memfasilitasi lintas departemen yang terkait,” ujar Bupati.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan peluang tersebut menjadi program yang terukur. Kerja sama perlu memiliki kejelasan bidang, mitra pelaksana, mekanisme transfer teknologi, serta manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi Bondowoso, peluang ini bukan semata tentang memperkenalkan kopi atau produk pertanian ke pasar internasional. Lebih jauh, kunjungan delegasi Kamerun dapat menjadi momentum untuk memperluas jejaring perdagangan, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, dan membuka akses terhadap pengetahuan serta teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Jika ditindaklanjuti secara konsisten, penjajakan kerja sama ini berpeluang mempertemukan potensi lokal Bondowoso dengan kebutuhan pasar internasional. Kini, tindak lanjut antarpihak menjadi kunci untuk memastikan peluang tersebut berkembang menjadi kerja sama yang nyata dan berkelanjutan.











