BONDOWOSO, TAPALKUDA POST – Kunjungan Delegasi Pemerintah Daerah Kamerun ke Kabupaten Bondowoso, Senin (19/10/2026), tidak hanya menjadi ajang penjajakan kerja sama di bidang pertanian dan perdagangan.
Momen tersebut juga diwarnai pertukaran cendera mata yang menarik perhatian.
Bupati Bondowoso, KH. Abdul Hamid Wahid, menerima sebuah tas berbahan kulit sapi dari delegasi Kamerun di Ruang Paringgitan, Pendopo Bagus Asra, Bondowoso.
Pemberian tersebut menjadi simbol persahabatan sekaligus bentuk penghormatan dalam pertemuan kedua pihak.
Delegasi Kamerun yang hadir terdiri atas Armand Yedi, Mayor of Bibemi; Germain Médard Belinga Evoune, Mayor of Diang; serta Patience Julie Ngo Mbihnum, Sekretaris Jenderal Pouma.
Cendera mata tersebut menarik perhatian karena tas tradisional di sejumlah wilayah Kamerun memiliki keterkaitan erat dengan identitas sosial, kewibawaan pemimpin, dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam tradisi kerajaan di wilayah Grassfields, termasuk komunitas Bamileke dan Bamum, dikenal tas kehormatan yang digunakan oleh penguasa tradisional atau Fon, keluarga kerajaan, serta tokoh adat tertentu.
Tas tersebut dapat dibuat dari serat rafia yang dihiasi manik-manik atau menggunakan bahan kulit, bergantung pada tradisi dan jenis benda yang bersangkutan.
Dalam konteks budaya tersebut, tas tertentu tidak sekadar berfungsi sebagai wadah untuk membawa barang. Benda-benda khusus dapat merepresentasikan status sosial, prestise, dan kedudukan pemiliknya dalam tatanan adat.
Sejumlah tas upacara bahkan digunakan untuk membawa perlengkapan yang berkaitan dengan kegiatan seremonial dan tradisi masyarakat setempat.
Namun, makna khusus tas kulit sapi yang diberikan kepada Bupati Bondowoso diberikan sebagai lambang bahwa hanya penguasa yang bisa memilikinya.
Pemberian cendera mata ini menjadi bagian dari suasana diplomasi antardaerah yang membuka ruang bagi kedua pihak untuk saling mengenal, menghargai kebudayaan, dan membangun hubungan yang lebih erat.
Sebelumnya, kunjungan delegasi Kamerun ke Bondowoso juga menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi unggulan, seperti kopi Arabika dan Robusta, pertanian organik, serta pariwisata berbasis Ijen UNESCO Global Geopark.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada seremoni dan pertukaran cendera mata, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret di bidang perdagangan, pertanian, pengembangan pasar, dan pertukaran teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua wilayah.











