Bondowoso – Menjadi petugas dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah tugas sederhana.
Di balik khidmatnya pengibaran Sang Merah Putih, terdapat tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan disiplin, ketenangan, dan penuh konsentrasi.
Pada upacara HUT ke-81 RI di Kabupaten Bondowoso, sejumlah pelajar dipercaya mengemban tugas penting sebagai pembawa baki dan pengerek bendera.
Mereka adalah pelajar terbaik dari sejumlah SMA di Bondowoso yang telah menjalani rangkaian latihan secara intensif.
Salah satunya adalah Karina Nur Makaila, siswi SMA Negeri 2 Bondowoso, yang dipercaya sebagai pembawa baki. Karina merupakan putri dari Rian Hidayat dan Mei Trianasari.
Karina mengaku sempat merasa gugup dan grogi setiap kali menjalani latihan. Kondisinya juga sempat kurang prima karena mengalami batuk.
“Pasti setiap mau latihan itu grogi. Kebetulan saya juga batuk, jadi kadang di tengah latihan harus menahan batuk,” ujar Karina usai upacara sambil meneteskan air mata.
Meski demikian, ia berusaha mengendalikan rasa gugup dan tetap fokus menjalankan tugas. Menurutnya, ketenangan menjadi kunci agar tidak melakukan kesalahan saat bertugas.
“Kesan saya, jangan grogi supaya tidak salah-salah. Kita harus fokus dan tetap semangat,” katanya.
Sementara itu, tugas pengerek bendera dipercayakan kepada Aldi Dwi Firmansyah dan Aldo Dwi Firnanda, siswa SMA Negeri 1 Tapen. Keduanya merupakan saudara kembar, putra dari Ridwan Aedi dan Nuke Irawati.
Selain Aldi dan Aldo, terdapat Ferlita Putri Aprilia Santoso, siswi SMA Negeri 1 Tenggarang, putri dari Dwi Santoso dan Yayuk Suryati Rahayu, yang turut dipercaya menjadi bagian dari petugas pengibaran bendera.
Bagi Aldi dan Aldo, terpilih menjadi petugas pengibar bendera menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus tidak terlupakan.
Keduanya mengaku sangat senang dan bangga dapat dipercaya menjalankan tugas dalam momen penting peringatan kemerdekaan.
“Kami sangat senang dan bangga bisa terpilih menjadi pengibar bendera di Bondowoso. Rasanya juga tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan ini,” ungkap mereka,Senin 17/08/2026.
Latihan yang dijalani selama persiapan menjadi pengalaman berharga bagi para petugas. Rasa lelah, gugup, hingga tekanan untuk tampil sempurna harus mereka lalui demi satu tujuan
menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya ketika Sang Merah Putih dikibarkan.
Bagi mereka, keberhasilan menjalankan tugas bukan sekadar kebanggaan pribadi. Lebih dari itu, menjadi petugas pengibar bendera merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dan simbol kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketika Merah Putih akhirnya berkibar di langit Bondowoso, rasa bangga dan bahagia pun menjadi pelipur seluruh perjuangan dan latihan yang telah mereka jalani.
Bagi para pelajar tersebut, momen itu akan menjadi kenangan berharga—ketika mereka dipercaya mengambil bagian dalam sebuah upacara yang sarat makna tentang perjuangan, persatuan, dan cinta Tanah Air.














