Selain Idul Fitri yang dimanfaatkan oleh mayoritas umat muslim sebagai ajang silaturrahmi dan bermaaf – maafan, ada pula lebaran yang disebut dengan “ Telasan Lontong “ (dalam bahasa Madura) atau biasa disebut dengan lebaran ketupat yang merupakan salah satu tradisi turun temurun yang masih terjaga dan dilestarikan di wilayah tapal kuda yang masih mengakar hingga kini.
Kegiatan membuat makanan yang terbuat dari beras dengan bungkus daun pisang maupun dari anyaman janur ini biasa dilakukan pada lebaran hari ke 5 -7. Seperti biasa, warga dengan membawa ketupat dan kelengkapannya seperti opor ayam maupun lauk pauknya untuk di bagikan ke tetangga maupun kerabat terdekat adapula dibawa ke Masjid, Mushola atau tempat lain yang disepakati. Setelah dikumpulkan, warga kemudian melakukan doa bersama, dan di akhiri dengan menyantap ketupat bersama sama.
Pantauan ,tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun di wilayah tapal kuda. Selain sebagai penanda sempurnanya puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa Syawal selama 6 hari yang dimulai pada hari ke 2 bulan Syawal. Tradisi Lebaran ketupat ini juga dilakukan untuk menjaga tali silaturahmi antar warga.
Telasan Lontong atau yang biasa di sebut dengan hari raya ketupat ini sebagai penanda lengkap dan sempurnanya puasa kita, dan sebagai ajang rasa syukur kita karena sebagian besar umat Islam telah melaksanakan Siltaurrahmi dan saling memaaf maafkan antar sesama
Bahkan ada pula yang berpendapat jika Lebaran Ketupat ini merupakan “ hari rayanya “ bagi orang orang yang berpuasa Syawal.
Meski masih dilaksanakan sampai sekarang, makna Lebaran Ketupat sendiri semakin jarang dipahami oleh generasi muda saat ini. Kendati demikian masyarakat diwilayah tapal kuda masih memeliharan tradisi Lebaran Ketupat dan mengenalkannya kepada anak-anak dan generasi muda.
Sementara itu, hari raya ketupat dibeberapa wilayah di pusatkan di area pemakaman umum setempat, warga sekitar berbondong bondong untuk mengikuti acara yang dilaksanakan tujuh hari pasca hari raya idul Fitri tersebut dengan membawa berbagai aneka lontong yang disertai lauk pauknya.
Kegiatan yang dilaksanakan di pemakaman tertua , bertujuan agar warga sekitar mengingatkan kembali akan kematian dan menyadarkan bahwa para pendahulu sangat membutuhkan doa dari anak cucunya yang ditujukan padanya.
Sri, salah satu ibu Rumah Tangga mengatakan jika hari raya ketupat ini merupakan tradisi turun temurun yang harus tetap dilestarikan. Bahkan dia mengaku jika hampir setiap tahun keluarganya tetap merayakan lebaran katupat, “ saya dan keluarga hampir setiap tahun merayakannya, biasaya saya membuat beberapa kilo beras dan di bungkus dengan daun pisang dan di masak setelah masak lontong tersebut di campur dengan lauk pauk dan opor ayam kemudian di bagikan ke kerabat atau tetatangga terdekat,” ungkapnya,Minggu 09/06/2019 ketika ditanya saat membeli longsongan ketupat di pasar Maesan.
Untuk diketahui Hari Raya Ketupat (kupatan) adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam merayakan Idul Fitri. Acara ini biasanya dilakukan setelah seminggu setelah lebaran dalam kalender nasional.
Filosofi Kupat (Bahasa Jawa : Ketupat )” sendiri ada yang yang memaknainya berasal dari gabungan kata “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Artinya, diantara kita pasti pernah berbuat salah. Melalui lebaran ketupat/kupatan ini bersama sama mengakui kesalah kita pada sesama dan saling memberi maaf dan menerima maaf secara bersama sama.








