Ekonomi & TeknologiLife StylePariwisata & Budaya

Syeikh Yusuf Estes Pencinta Kopi

images (8)

tapalkudamedia.com
Assalamu’alaykum!” seru Syeikh Yusuf Estes dengan suara serak namun lantang kepada masyarakat yang telah menanti kehadirannya di Balai Sudirman, Jakarta pada Rabu (21/3) malam.

Malam itu adalah hari terakhir pendakwah asal Texas, Amerika Serikat tersebut untuk menyampaikan ceramah umum dalam rangkaian safari dakwahnya di Indonesia sejak 18 hingga 21 Maret 2018 di Jakarta, Surabaya dan Balikpapan.

Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231007_160840_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231011_230542_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231011_220305_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231012_011801_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231014_135422_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231021_165812_0000
Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231022_164616_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231031_205414_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231105_173709_0000

Ceramah Yusuf Estes di Jakarta malam itu menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya karena gangguan suara yang dialaminya. “Suara saya lemah, tapi hati saya kuat,” kata Yusuf Estes yang dijuluki “funny sheikh” atau “syeikh yang lucu” itu.

Didampingi oleh Ketua Islamic Propagation Society International (IPSI) atau Masyarakat Dakwah Islam Internasional asal Malaysia, Kamaruddin Abdullah, dan Imam Besar Masjid New York, AS asal Sulawesi Selatan, Syamsi Ali, Yusuf Estes menyampaikan ceramah umumnya yang bertema “the Light of Islam” atau “Cahaya Islam”.

Sesekali ulama berusia 74 tahun itu terbatuk-batuk. Di atas meja kecil di hadapannya, ada sebotol air minum dan sebuah gelas. Sebuah gelas “tumbler” berisi kopi juga tersedia di hadapannya. Untuk memulihkan suaranya, Syeikh Yusuf lebih memilih minum kopi ketimbang air putih.

“Saya telah menjadi pecinta kopi,” ujar Yusuf Estes dalam ceramahnya.

Tak heran jika gelas “tumbler” berisi kopi selalu menemaninya dalam setiap kesempatan, termasuk saat melakukan konferensi pers pada hari ke dua tiba di Jakarta. Bahkan, saat melayani wawancara eksklusif dengan wartawan senior Kantor Berita Antara, Syeikh Yusuf tak lepas dari secangkir kopi. “Kalian punya kopi yang nikmat,” katanya kepada wartawan itu.

Dalam ceramahnya di Jakarta malam itu, dia pun menceritakan kisah tentang kopi. “Jika saya mengatakan sesuatu, Anda semua tahu apa yang saya bicarakan,” kata Syeikh Yusuf.

iklan dalam

“Luwak,” lanjutnya tersenyum. “Dan saya harus berhati-hati dengan apa yang akan saya katakan setelah itu,” katanya lagi dengan jenaka.

“Di Ohio kami membuka pusat kafe dakwah,” ujar Syeikh Yusuf.

Dia menjelaskan bahwa kafe tersebut dikelola oleh seorang Muslim asal Somalia. Kafe itu menyediakan berbagai jenis biji kopi dari seluruh dunia.

“Kopi berasal dari Ethiopia. Tapi yang pertama kali menjadikan biji kopi menjadi kopi yang sesungguhnya adalah orang-orang Yaman,” jelas Syeikh Yusuf.

Dia melanjutkan bahwa para Muslim dari Yaman yang menggembalakan kambing biasanya terjaga di tengah malam untuk menunaikan shalat.

“Setiap kali terbangun di tengah malam, mereka heran dengan kambing-kambing mereka yang justru berjingkrak-jingkrak setelah memakan pakan kambing yang mereka bawa dari Ethiopia berupa rumput-rumputan,” jelas Syeikh Yusuf.

Para penggembala kambing ini kemudian mulai mengolah biji-bijian tersebut dengan cara apa pun. Biji kopi ini dimasak, namun tak menghasikan sesuatu yang lezat, hingga ada seorang dari mereka yang mencoba merebusnya, dan akhirnyanya jadilah minuman kopi yang dinamakan “qahwah”.

Syeikh Yusuf juga menceritakan bahwa putrinya yang seorang seniman menggambar sebuah poster yang menggambarkan perjalanan biji kopi dari Ethiopia ke Yaman, kemudian kembali lagi ke Afrika, dan ke Turki.

Dia melanjutkan bahwa nama minuman yang berasal dari Bahasa Arab, “qahwah” telah mengalami perubahan pengucapan menjadi “kafa”, “kaffa”, dan akhirnya menjadi “kaffe”. “Kaffe” kemudian dibawa ke Prancis, sementara orang Inggris menyebutnya “espresso”.

Dari kisah inilah, Syeikh Yusuf ingin menegaskan bahwa poster yang menggambarkan perjalanan penemuan minuman kopi oleh para Muslim di Yaman hingga ke Eropa, dan kini menjadi salah satu minuman terpopuler di seluruh dunia akan mengajak masyarakat untuk lebih mengenal Islam.

Kesan Safari dakwah Syeikh Yusuf Estes yang difasilitasi oleh Sahabat Dakwah Internasional (SDI) di tiga kota di Indonesia merupakan yang pertama kali digelar. Namun, Yusuf Estes yang memeluk Islam pada tahun 1991

Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231029_071344_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231029_082045_0000

Related posts

Tradisi Bubak Bumi Turun Temurun Tanda Memasuki Musim Tanam

Cegah Inflasi Jelang Idul Adha, Pemkab Bondowoso Melalui DPKP Ikuti GPM Serentak Nasional

Redaksi Tapalkuda

Emil Dardak Salut Hasil Panen Pisang Cavendish : Diharapkan Bukan Hanya Bondowoso Republik Kopi Tapi Juga Bondowoso  Banana Republik

Redaksi Tapalkuda

Leave a Comment

error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih