Hukum & kriminal

Motif Para Hacker Asal Surabaya Diduga sebagai Aktualisasi Diri

images (8)

SURABAYA – tapalkudamedia.com

Beragam motif melatarbelakangi para peretas (hacker) ketika berani membobol berbagai situs di internet. Salah satu faktornya diduga kuat sebagai aktualisasi diri mempunyai kemampuan tersebut.

Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231007_160840_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231011_230542_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231011_220305_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231012_011801_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231014_135422_0000
Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231021_165812_0000
Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231022_164616_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231031_205414_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231105_173709_0000

Pembahasan ini juga terkait munculnya kasus tiga mahasiswa Stikom Surabaya yang diamankan polisi karena nekat meretas sekira 600 situs di 44 negara sehingga turut menjadi incaran FBI.

“Aktualisasi diri bahwa dia punya kemampuan. Ini biasanya yang menjadi latar belakang mereka (meretas situs) dari sisi kemampuan. Tapi kalau dari sisi finansial, saya tidak tahu, itu kan efek lain. Namun secara umum, punya kemampuan aktualisasi,” terang dosen Program Studi S-1 Sistem Informasi Fakultas Teknologi dan Informatika Stikom Surabaya Anjik Sukmaji saat dikonfirmasi, Kamis (15/3/2018).

Berita RekomendasiIni loh cara mengatasi karang gigi [PR]Tentukan Nasib Tiga Hacker, Kampus Tunggu Proses Hukum RampungTiga Hacker Asal Surabaya Dikenal Pintar di Kampus

iklan dalam

Ia menjelaskan, dalam proses meretas sebenarnya bisa dilakukan dengan singkat. Bahkan sekali tekan enter sudah selesai, jika semua perangkat lunak (software) sudah disiapkan. Tetapi yang panjang adalah tahapannya, karena harus mengumpulkan sejumlah informasi tentang situs yang akan diretas.

“Dia akan mencoba men-scanning. Misalnya, rumah yang lemah pintu mana, jendela mana. Diidentifikasi, baru nanti dia tahu. Kalau pintu dari kayu, nanti saya buka dengan gergaji. Kalau pintu dari besi, pakai las,” ungkapnya.

Setelah diketahui, sambung dia, informasi terkait akses masuk dan sebagainya di sistem keamanan, lalu pelaku menggunakan teknik-teknik yang dimiliki, apakah memakai SQL Injection atau yang lain.

Biasanya, tutur Anjik, situs target para hacker untuk diretas adalah perusahaan yang mempunyai pelayanan online, hompage, dan aplikasi customer online. Sebenarnya saat membuat aplikasi sudah ada standar keamanan.

“Tetapi, mungkin ada celah-celah. Itu yang dimasukkan peretas. Misal dari aplikasi ada kelemahan. Contoh jika dimasukkan satu A tidak lolos, tapi ketika dimasukkan A tiga kali baru bisa lolos. Jadi istilahnya antisipasi dari aplikasi itu, kode program yang kurang maksimal,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan, tiga peretas asal Surabaya ditangkap Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya pada Minggu 11 Maret 2018 usai mendapat informasi dari FBI. Ketiga pelaku masing-masing berinisial KSP (21), NA (21), dan ATP (21).

Belakangan diketahui mereka tercatat sebagai mahasiswa semester VI Stikom Surabaya dan tergabung dalam komunitas hacker Surabaya Black Hat (SBH). Ketiganya meretas diketahui ratusan situs yang tersebar di 44 negara. Bahkan, para pelaku berani membobol situs milik FBI.(han)

 

Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231029_071344_0000
Salinan dari Salinan dari Salinan dari Salinan dari Black Modern Music News Headline Instagram Post_20231029_082045_0000

Related posts

Reskrimum Polda Jatim Ungkap 4 Pelaku Pembunuhan

KPK Tahan Bupati Mojokerto

Astaga Resepsi Pernikahan Berubah Jadi Pesta Narkoba

Leave a Comment

error: Content is protected !! silahkan di menghubungi admin jika ingin copy conten ini ... terima kasih